Citizen Reporter

Pelayanan Publik di London

SAYA tiba di London, Inggris, Rabu lalu. Sekejab ingatan saya terempas ke masa silam. Hati saya berbisik

Pelayanan Publik di London
FUAD HADI

OLEH FUAD HADI, peserta studi banding pelayanan publik dari kantor JW (Jenderal Wiranto) & Partners Law Office, Jakarta, melaporkan dari Kota London, United Kingdom

SAYA tiba di London, Inggris, Rabu lalu. Sekejab ingatan saya terempas ke masa silam. Hati saya berbisik, “Inilah sekeping negeri yang pada abad ke-16 pernah membina hubungan dengan Keurajeun Aceh.”

Jika 416 tahun lalu Sir James Lancaster, utusan khusus Ratu Elizabet tiba di Aceh, kini saya tiba pula di Inggris, tahun 2018. Saya jelas bukan utusan Pemerintah Aceh. Kunjungan saya ke London dalam rangka studi banding pelayanan publik bersama tim dari kantor JW (Jenderal Wiranto) & Partners, Law Office.

Di sela-sela kami melaksanakan kegiatan studi banding, Sabtu, 31 Maret 2018 saya dan rombongan menyempatkan untuk melaksanakan shalat di salah satu masjid terbesar di London, yaitu London Central Mosque (LCM) yang merupakan pusat kegiatan umat Islam terbesar di Kota London.

LCM sudah digunakan sejak 1944, diresmikan oleh King George VI. Masjid ini tidak hanya dibangun atas dukungan Pemerintah Inggris, tapi juga didukung oleh para dubes negara-negara muslim di Inggris dan kaum muslimin secara umum yang ada di Inggris.

Saya amat mengagumi salah satu masjid terbesar di Inggris ini. Benar-benar indah dan bersih. Hal menarik lainnya di LCM adalah petugas masjid yang sangat ramah melayani tamu masjid serta perpustakaan yang menyediakan buku-buku tentang Islam.

Di lantai bawah masjid juga tersedia restoran masakan halal khas Timur Tengah. Jadi, untuk umat Islam yang berkunjung ke London tidak perlu khawatir terhadap makanan halal. Di luar area masjid pun banyak juga terdapat restoran berlabel halal.

LCM ternyata tidak hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi juga ada kotak amal untuk muslim Rohingya serta kotak amal yang dananya dihimpun oleh Islamic Relief untuk kegiatan bantuan umat Islam. Hal yang juga menarik bagi kami adalah di LCM suasananya yang benar-benar sangat terasa damai walaupun di sekeliling masjid umumnya bermukim nonmuslim.

Oh ya, populasi muslim di London terus meningkat hingga saat ini lebih kurang hampir 3,5 juta jiwa. Sebagai informasi, LCM dirancsng oleh Sir Frederick Gibberd, selesai dibangun tahun 1978 dengan kubah keemasan dan berkapasitas 5.000 jamaah.

Saya juga sempat bertemu dengan seorang jamaah, Muhammad namanya. Ia berkisah bahwa Islam sangat cepat berkembang di London. Menariknya lagi, suasana keislaman, seperti halnya di Aceh, juga terasa di LCM. Orang-orang Islam di sini melaksanaan pengajian rutin di beberapa Islamic Centre.

Satu hal lagi yang membuat saya terkesima, yaitu Pemerintah Kota London sangat peduli pada lingkungan. Dengan kebijakan London Tap, warga London dapat meminum langsung air pipa dari keran. Air ini diyakini jauh lebih bagus dari air minum dalam kemasan. Saya langsung terbayang ke negeri sendiri. Padahal aturan perudang-undangan yang berlaku (Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005), air minum perpipaan yang didistribusikan ke rumah-rumah harus bisa diminum langsung dari keran. Tapi faktanya tidak demikian.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help