Salam

Pariwisata Garapan Paling Logis Pengganti Dana Otsus

Pemerintah Irwandi Yusuf-Nova Iriasnyah tampaknya begitu serius untuk menggerakkan investasi dan sektor pariwisata

Pariwisata Garapan Paling Logis Pengganti Dana Otsus
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf berbincang dengan Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar (kiri) dan Pemimpin Redaksi, Mawardi Ibrahim (kanan) dalam jamuan coffee morning di restoran Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (3/4/2018). SERAMBI/M ANSHAR 

Pemerintah Irwandi Yusuf-Nova Iriasnyah tampaknya begitu serius untuk menggerakkan investasi dan sektor pariwisata di Aceh sebagai salah satu cara mendongkrak pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, termasuk menghadapi berakhirnya dana otsus pada 2028. Namun, Pemerintah Aceh tak akan membiarkan begitu saja Dana Otsus berlalu. “Saya akan berusaha dan saya yakin Dana Otsus untuk Aceh akan diperpanjang lagi dua persen setiap tahun,” kata Irwandi.

Tapi, sangat disadari, bahwa bergantung tarus-menerus pada Dana Otsus adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, perlu menghilangkan ketergantungan masyarakat Aceh dari goverment spending.

Sebagaimana diberitakan dalam headline utama harian ini kemarin, Irwandi mengatakan, mengantisipasi berakhirnya Dana Otsus Pemerintah Aceh sejak sekarang akan fokus kepada dua hal tersebut yang dianggap paling logis. Untuk sektor wisata Irwandi mengaku akan mengandalkan wisata alam atau ekotourism.

Menurut Irwandi, investasi dan tourism atau pariwisata juga dua hal yang saling berkaitan. Dengan potensi yang dimiliki Aceh saat ini, investasi yang paling cepat adalah sektor pariwisata. Namun, di sektor ini kendala sosial budaya memang sangat menjadi “pekerjaan rumah” berat bagi pemerintah untuk mengonsepnya sehingga tidak terjadi penolakan dalam masyarakat. “Orang kita kalau kita bilang turis, dipikir itu cewek tidak pakai baju,” celetuk Irwandi sembari tertawa.

Selain itu, “Kita usahakan juga public sector, sektor rill. Sebab di Aceh selama ini hampir semua ekonomi bertumpu pada goverment spending dan konyolnya lagi goverment spending dibelanjakan ke luar Aceh, belanja ke luar Aceh hiburan pun ke luar Aceh,” kata Irwandi Yusuf yang sangat menyadari bahwa masyarakat Aceh sangat haus hiburan. Makanya, ia mengaku sedang dipkirkan formula tempat dan jenis hiburan yang cocok untuk masyarakat Aceh yang menjalankan Syariat Islam ini.

Kembali ke soal pengembangan pariwisata Aceh, yang paling penting, membayangkan pariwisata Aceh jangan terfokus ke Sabang. Sebab, sesungguhnya daya tarik wisata Aceh ada di mana-mana. Eksotisme Pulau-pulau Simeulue, Pulau Banyak, Dataran Tinggi Gayo, serta seni budaya dan prilaku masyarakat Aceh, kuliner Aceh, sampai ke bagaimana orang Aceh menjalankan Syariat Islam, semua bisa “dijual” sebagai komoditas wisata.

Oleh sebab itu, even-even religius dan budaya seperti Kenduri Maulid Akbar dan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) bisa dikemas menjadi sesuatu yang menarik bagi wisatawan. Kita melihat bagaimana masyarakat Bali mengemas upacara-upacara adat dan keagamaan yang diselenggarakan secara serius, ternyata cukup menarik wisatawan mancanegara.

Maka, mari mengemas PKA VII pada 5-15 Agustus 2018 menjadi peluang kebangkitan ekonomi Aceh sektor industri pariwisata dan usaha kecil kreatif.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help