Warga Aceh Ternyata juga Beli Kapal Haji

Di tengah isu kepemilikan obligasi pesawat RI 001 oleh sejumlah masyarakat Aceh, ternyata masyarakat Aceh

Warga Aceh Ternyata juga Beli Kapal Haji
DRS ARMIJA (72) memperlihatkan lembaran saham asli PT Perusahaan Pelayaran Arafat milik almarhum ayahnya, di Sekretariat Bersama (Sekber) Wartawan Aceh, di Jalan STA Mahmudsyah, Banda Aceh, Rabu (4/4). 

BANDA ACEH - Di tengah isu kepemilikan obligasi pesawat RI 001 oleh sejumlah masyarakat Aceh, ternyata masyarakat Aceh tempo dulu juga ikut membeli kapal haji. Hal ini setidaknya, seperti diungkapkan Drs Armija (72), warga Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Ia memiliki lembaran saham asli PT Perusahaan Pelayaran Arafat, yaitu sebuah perusahan yang membeli kapal untuk pelayaran jamaah haji Indonesia di era 1960-an.

Dia memiliki lembaran saham asli PT Arafat Rp 500 milik ayahnya, almarhum Tgk Mahjidin yang dibeli dari PT Perusahaan Pelayaran Arafat. Menurut penjelasan Armija kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (4/4), saham Rp 500 itu dibeli ayahnya dari PT Perusahaan Pelayaran Arafat pada 1 Januari 1969. “Ini saham milik bapak saya yang dibeli tahun 1969 untuk beli kapal laut berangkat haji,” kata Armija.

Menurut Armija, sesuai dengan cerita almarhum ayahnya, saat itu siapa yang ingin berangkat haji, maka harus membeli saham tersebut seharga Rp 50.000 dan nilai sahamnya Rp 500. “Jika tidak beli saham ini, maka tidak bisa pergi haji, walaupun sudah memiliki kursi keberangkatan,” katanya.

Menurut Armija, biaya pembelian saham saat itu, digunakan oleh PT Perusahaan Pelayaran Arafat untuk membeli beberapa kapal yang kemudian digunakan untuk memberangkatkan jamaah haji Indonesia ke Arab Saudi.

Amatan Serambi kemarin, pada lembaran saham asli itu tertulis nama pemilik Tgk Mahjidin, alamat Desa Lamtimpeung, Kecamatan Teungkop Darussalam, Banda Aceh. Pada lembaran itu juga tertulis total modal Rp 560 juta, terbagi atas 1.120.000 pemegang saham, dengan nilai Rp 500. Saham itu berstempel resmi atas nama Dewan Pengawas Brigjen TNI Roeshan Roesli. “Lembaran saham asli ini dikasih ke saya sekitar tahun tujuh puluhan, bapak saya meninggal tahun 2005, dikasih ke saya karena saya anak laki pertama,” kata Armija.

Dalam penjelasannya kepada awak media kemarin, Armija mengungkap kepemilikan lembaran saham itu ke publik untuk mencari tahu bagaimana status perusahaan yang pernah mendapatkan sumbangan ayahnya itu untuk membeli kapal laut.

“Seharusnya kan kalau ada pemberian saham, maka ada pembagian hasil keuntungannya, karena ini kan bisnis komersil pelayaran kapal jamaah haji. Tapi setahu saya, dari dulu orang tua saya tidak pernah mendapat apapun dari perusahaan ini,” pungkasnya.

Penelusuran Serambi, PT Perusahaan Pelayaran Arafat memang benar ada. Perusahaan ini eksis antara tahun 1960-1970-an. Arafat pernah membeli beberapa kapal yang digunakan untuk memberangkatkan jamaah haji melalui jalur laut. Di antara kapal-kapal milik Arafat, KM Gunung Djati, Tjut Njak Dhien, Le Havre Abeto, Pasific Abeto, dan Mei Abeto. Namun pada 1979, nama perusahaan PT Arafat perlahan hilang, setelah Departemen Perhubungan secara resmi menutup perjalanan haji dengan kapal laut pada 1978. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved