Home »

News

» Jakarta

Dari Calcutta ke Burma

DELAPAN tahun silam, Senin, 5 April 2010, sekelompok orang berpakaian kerja biru dan abu-abu, tampak

Dari Calcutta ke Burma
NYAK Sandang didampingi Khaidar, anak kandungnya dan Maturidi, pendamping Nyak Sandang saat di Jakarta dipeusijuk oleh ulama Aceh, Tgk Ahmad Tajuddin (Abi Lampisang) di Dayah Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyah, Lueng Bata, Banda Aceh, Jumat (6/4). 

* Kisah Seulawah RI-001 (1)

Pengantar Redaksi:
Cerita Seulawah RI menggema lagi, menyusul publikasi obligasi dan diterimanya Nyak Sandang oleh Presiden Jokowi. Lalu, bagaimana Seulawah dibeli dan apa saja operasi yang dimainkan Seulawah ini? Wartawan Serambi Indonesia Biro Jakarta, Fikar W. Eda, menyajikannya untuk Anda dalam dua seri. Selamat menikmati.

DELAPAN tahun silam, Senin, 5 April 2010, sekelompok orang berpakaian kerja biru dan abu-abu, tampak sibuk menggosok tubuh, sayap, dan ekor “si gunung emas” Seulawah RI-001 yang “parkir” di halaman Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada bagian dada kiri pakaian mereka, tertera logo “Garuda Indonesia,” perusahaan maskapai penerbangan ternama Indonesia.

Tim yang sedang bekerja itu adalah kru bengkel Garuda Indonesia. Pekerjaan menggosok badan pesawat Seulawah RI 001 itu rampung sehari. Esoknya, pekerjaan beralih ke pengecatan. Mula-mula menyemprotkan cat dasar warna hijau lumut ke sekujur tubuh pesawat. Sehari kemudian dilakukan pengecatan sesungguhnya. Tak lama berselang, seluruh pekerjaan “mempercantik” Seulawah pun tuntas. Pesawat itu tampak lebih rapi dan sedikit berkilau. Termasuk interiornya. Sejak itu, pengunjung diperkenankan masuk dalam kabin. Pesawat tersebut memiliki panjang badan 19,66 meter, rentang sayap 28.96 meter itu, digerakkan dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg, mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Replika Seulawah RI-001 diletakkan di halaman Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah sejak 1975. Semula replika pasawat tersebut berada di Museum Transportasi Taman Mini.

Majalah TEMPO, edisi khusus 24 Agustus 2003, menulis sebenarnya ada tiga replika pesawat Seulawah RI-001 yang dibuat. Salah satunya dipajang di Anjungan Aceh TMII itu. Replika lainnya ditempatkan di Lapangan Blangpadang Banda Aceh sebagai monumen, diresmikan Panglima TNI Jenderal LB Moerdani pada 30 Juli 1984. Replika ketiga berada di Museum Rangoon, Myanmar. Pemerintah Myanmar merasa berutang budi kepada Seulawah karena telah ikut menjadi pesawat angkut di negara tersebut pada 1949.

Di negeri itulah untuk pertama kali pesawat yang diregistrasikan sebagai RI-001 dikomersilakan kepada Pemerintah Burma yang ketika itu sedang menghadapi pemberontakan dalam negeri. Pemerintah Burma membutuhkan angkutan udara untuk membantu perjuangan militernya menumpas gerakan pemberontak ekstrem kiri dan ekstrem kanan.

Lantas bagaimana ceritanya, Seulawah RI 001 berada di Burma? Begini: sebelum diterbangkan ke Burma, Seulawah RI-001 terlebih dahulu menjalani perawatan (overhoul) di Calcutta India. Seulawah terbang ke India pada 1 Desember 1948, sempat singgah di Lapangan Udara Piobang Payakumbuh dan Kutaraja dan tiba di Calcutta 7 Desember 1948. Perbaikan yang dilakukan meliputi perawatan besar (major overhoul), pengecatan dan pemasangan tanki jarak jauh, dimaksudkan agar pesawat bisa terbang jauh tanpa pengisian bahan bakar, mengingat blokade udara Belanda yang sangat ketat.

Dijadwalkan Seulawah tiba kembali di Indonesia pada 15 Desember 1948. Kabarnya Presiden Soekarno akan menggunakan pesawat itu untuk sebuah perjalanan ke India. Tapi sampai tanggal dimaksud, perbaikan belum juga selesai. Hingga meletusnya Agresi Militer II Belanda pada 18 Desember 1948 perbaikan belum juga rampung. Seulawah tetap berada di Calcutta/Kalkuta.

Setelah menjalani perawatan di Calcutta India, Seulawah lalu diterbangkan menuju Rangoon, Burma, pada 26 Januari 1949 dan sebagai pesawat carteran atau sewaan oleh Pemerintah Burma. Sebagai pesawat carteran, Seulawah terlibat dalam berbagai misi operasi militer di negara tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help