Opini

Menanti Aksi Nyata ‘Bunda Baca’

SEHARI sebelum pengukuhan Bunda Baca Aceh yang digelar pada 19 Maret 2018, di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, penulis sudah

Menanti Aksi Nyata ‘Bunda Baca’
GUBERNUR Aceh, Irwandi Yusuf menyematkan selampang Bunda Baca Aceh kepada istrinya, Darwati A Gani di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Senin (19/3). 

Oleh Hayatullah Pasee

SEHARI sebelum pengukuhan Bunda Baca Aceh yang digelar pada 19 Maret 2018, di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, penulis sudah mengetahuinya dari sebuah grup WhatsApp. Dalam sebuah undangan disebutkan yang akan dikukuhkan sebagai Bunda Baca, yaitu Darwati A Gani, yang tak lain merupakan istri Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Dalam tulisan ini penulis berhasrat menyampaikan pandangan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Bunda Baca. Penulis sendiri mengapresiasi, ini sebuah gebrakan yang bagus, namun jika tidak dilakukan dengan langkah nyata, maka sama saja ini hanya sekadar seremonial belaka.

Pada acara yang dikukuhan oleh Gubernur Aceh itu juga metetapkan tim Pokja yang akan memberikan dukungan teknis dan akademis, antara lain Fairus M Nur Ibrahim, Yarmen Dinamika, Azwardi, Barlian AW, Asnawi Kumar, Bustamam Ali, dan Mukhlisuddin Ilyas (Serambi, 20/3/2018).

Nama-nama di atas merupakan orang-orang hebat yang juga guru saya di dunia tulis-menulis. Jadi, penulis yakin bahwa gerakan literasi ini akan menular ban sigom Aceh. Para senior-senior tersebut mampu memberikan masukan demi kemajuan generasi muda ke depan.

Minat baca rendah
Kita semua menyadari bahwa sampai 2016 lalu, peringkat pendidikan Aceh paling rendah, yaitu berada di urutan ke-32 dari 34 provinsi di Indonesia. Sedangkan untuk minat baca, data UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia (termasuk Aceh) 0,001%. Artinya, dari seribu orang hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca. Dari 61 negara dunia dalam hal membaca, Indonesia berada pada urutan ke-60.

Data tersebut sungguh miris jika dibandingkan dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia justru Indonesia masuk dalam tiga besar. Hasil penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris merilis, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial.

Laporan yang diterbitkan pada 30 Januari 2018 berjudul Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49% (Kompas, 3/1/2018).

Penulis melihat, pemerintah masih kurang melakukan kampanye gerakan membaca dan menulis. Hal itu bisa diukur dengan rendahnya minat masyarakat ke perpustakaan. Sehari-hari perpustakaan di Aceh sepi, hanya beberapa orang saja yang datang, itu pun ketika membutuhkan referensi untuk membuat tugas paper di kampus.

Tetapi masyarakat yang datang khusus untuk membaca hampir tidak kita temukan, anak-anak muda lebih memilih membaca di warung kopi dan bermain game online. Nah, sejatinya pihak Arsip perpustakaan harus membaca fenomena ini dan bagaimana cara agar membuat orang-orang betah di pustaka seperti mereka betah di warung kopi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved