Jamuan Makan Malam di Hotel Atjeh

SEULAWAH berarti Gunung Emas. Merupakan salah satu gunung berapi di Aceh yang masih aktif. Presiden Pertama RI, Ir Soekarno menabalkan nama ‘Seulawah’

Jamuan Makan Malam  di Hotel Atjeh
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Monumen Pesawat Seulawah RI-001 

Kisah Seulawah RI-001 (2-Habis)

SEULAWAH berarti Gunung Emas. Merupakan salah satu gunung berapi di Aceh yang masih aktif. Presiden Pertama RI, Ir Soekarno menabalkan nama ‘Seulawah’ untuk pesawat jenis Dakota C-47 yang dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh. Pesawat itu diregistrasi dengan nomor RI-001, adalah pesawat pertama milik Pemerintah Indonesia.

Seulawah RI-001 menyimpan riwayat panjang. Buku Awal Kedirgantaraan Indonesia, Perjuangan AURI 1945-1950, (Yayasan Obor Indonesia Jakarta, 2008) dengan gamblang menguraikan kisah ‘Si Gunung Emas’ sejak awal pengumpulan dana pembelian, proses pembelian, peranan, dan aktivitas Seulawah dalam membantu perjuangan Indonesia.

Riwayat dramatis ‘Seulawah RI-001’ bermula pada 16 Juni 1948 bertempat di Hotel Atjeh, Koetaradja, (sekarang Banda Aceh,). Dalam jamuan makan malam, Presiden Soekarno angkat bicara, “Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul.”

Peserta pertemuan yang terdiri dari para saudagar dan tokoh masyarakat Aceh saling melirik. Lalu salah seorang dari mereka bangun. Seorang pria muda, berusia sekitar 30 tahun. Dia saudagar. Namanya M Djoened Joesoef. “Saya bersedia,” kata Djoened Joesoef yang juga Ketua Gabungan Saudagar Atjeh (Gasida). Selanjutnya menyusul kesediaan saudagar lainnya. Alhasil, malam itu terkumpul komitmen dana yang cukup besar. Presiden Soekarno puas dan menyunggingkan senyum. Ia lalu mengajak hadirin beranjak ke meja makan.

Adegan jamuan makan malam itu merupakan bagian penting dari episode keikhlasan rakyat Aceh mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat terbang. Kehadiran Presiden Soekarno dan rombongan ke Aceh pada waktu itu dalam rangka mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat terbang. Penulis sejarah, Tgk AK Jakobi mencatatkan peristiwa itu dalam bukunya Aceh Daerah Modal (Yayasan Seulawah RI-001, 1992).

Rekaman adegan ‘istimewa’ menolak makan oleh Soekarno itu, juga dikutip H Muhammad TWH dalam satu artikelnya (Tabloid Bersatu, 1999) dari buku ‘Modal Perjuangan Kemerdekaan’ yang ditulis TA Talsya. Presiden menyampaikan pidato antara lain berbunyi, “Harga satu pesawat Dakota hanya M$ 120.000. Saya belum mau makan sebelum mendapat jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’,” kata Soekarno.

Ketika Soekarno mengakhiri kunjungannya di Aceh pada 20 Juni 1948, dana yang terkumpul untuk pembelian pesawat itu berjumlah 120.000 dollar Singapura dan 20 kg emas. (Buku Sejarah Perjuangan Indonesian Airways, 1979, menyebut 130.000 Straits Dollar).

Dana tersebut dihimpun dari masyarakat seluruh Aceh oleh Panitia Dana Dakota (Dakota Fund) di Aceh yang dipimpin HM Djoened Joesoef dan Said Muhammad Alhabsji.

Pengumpulan dana pembelian pesawat Seulawah RI 001 antara lain dilakukan melalui penjualan obligasi. Di Kabupaten Aceh Tengah, pengumpulan melalui obligasi dilakukan selama dua bulan, Juni-Juli 1948.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved