Puisi

Kau Terhenti di Persimpangan Jalan

Kau bayangkan kuburan dan kegelapan terbentang di depanmu, menyulut ketakutan tanpa akhir. Tapi kau ingin bangkit dengan seribu daya

Kau turun dari gunung nestapa, menelusuri jejak kelam lembah, menyeberangi sungai, menuju muara terdalam. Di situ kau temukan cangkang tiram yang mejanjikan mutiara; cahayanya menyilaukan mata.

Kau melautkan diri dalam seretan ombak musim barat, tubuhmu terlempar sauh jauh dari dermaga. Kau berenang ke tepian, menyucikan tubuh dari sekerat pasir yang melumuri tubuhmu.

Kau berdiri di atas geladak sebuah kapal, meneriakkan diri sebagai pelayar, mengarungi samudera luas. Lalu waktu mendekapmu, membawa benang-benang kusut yang siap kau pintal kembali. Tak ada angin laut yang menghadang, tapi kapal terobek layar dan terhenti di pusaran gelombang.

Di laut itu, kau khitbah buih yang berserak di atas geladak, menyimpannya dalam sekantung air mata, lantas kau bawa ke dermaga. Meneriakkan siul angin yang menampar wajahmu dalam gelimang ragu.

Kau kembali ke laut, terhenti di pusaran gelombang. Menatap langit muram, namun hujan tak pernah turun selama pelayaran.

* Mahdi Idris lahir di Gampong Keureutoe Lapang, Aceh Utara. Karyanya berupa cerpen, puisi dan esai dimuat berbagai media lokal dan nasional. Buku puisinya yang telah terbit Lagu di Persimpangan Jalan (2014), Kidung Setangkai Sunyi (2016) dan Nyanyian Rimba (2011)memenangkan juara II pada Sayembara Naskah Pengayaan Puskurbuk Kemendikbud. Buku puisinya yang akan terbit Kutukan Rencong. Saat ini bermukim di Pondok Kates, Tanah Luas, Aceh Utara.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved