Cerpen

Separuh Hari

AKU berjalan mengiringi ayahku, menggenggam tangan kanannya, berlari mengikuti langkah-langkahnya yang lebar

Separuh Hari
Cerpen 

“Ayahku,” aku berbisik.
“Ayahku sudah meninggal” dia berkata polos.
Aku tidak tahu mengatakan apa. Pintu gerbang ditutup, menimbulkan bunyi decit yang menyedihkan. Beberapa anak-anak memecahkan tangis. Bel berbunyi. Seorang wanita datangmendekat, diikuti oleh sekelompok laki-laki. Laki-laki itu mulai memilih kami menurut ranking. Kami dibariskan membentuk pola lingkaran di halaman luas yang ketiga sisinya dikelilingi oleh gedung tinggi dengan beberapa lantai; dari masing-masing lantai kami dibayangi oleh balkon panjang beratap kayu.

“Ini rumah baru kalian,” wanita itu berkata. “Di sini juga ada ibu dan ayah. Di sini ada segala yang menyenangkan dan berguna bagi pengetahuan dan agama. Usap air mata kalian dan hadapilah hidup dengan gembira.”

Kami pasrah pada kenyataan, dan kepasrahan ini memberi sejenis kepuasan hati. Makhluk hidup dipertemukan dengan makhluk hidup lain, dan dari saat-saat pertama itu hatiku berteman dengan anak laki-laki yang digariskan menjadi temanku sebagaimana pula aku jatuh cinta pada anak perempuan yang ditakdirkan aku cintai, sehingga terasa bahwa kekhawatiran itu ternyata tidak berdasar.

Aku tidak pernah membayangkan sekolah memiliki keberagaman yang kaya begini rupa. Kami bermain segala jenis permainan yang berbeda-beda: ayun-ayunan, kuda lompat, permainan bola. Di ruangan musik pertama kali kami melantunkan lagu-lagu. Kami mendapat perkenalan tentang bahasa. Kami melihat bola bumi yang berputar dan memperlihatkan berbagai benua dan negara. Kami mulai belajar angka-angka. Cerita tentang Pencipta alam semesta dibacakan untuk kami, kami diberitahu milik-Nya-lah dunia ini dan hari akhirat nanti dan kami mendengar contoh-

contoh apa yang Ia firmankan. Kami makan makanan yang lezat, istirahat siang sejenak, dan bangun merajut lagi persahabatan dan cinta, bermain dan belajar.

Namun begitu jalan terbukakan untuk kami, kami tidak mendapati itu sepenuhnya manis dan jernih sebagaimana yang kami kira. Angin berdebu dan kejadian-kejadian yang tak disangka-sangka muncul tiba-tiba, sehingga kami harus berhati-hati, bersiaga, dan sangat sabar. Itu bukan lagi soal bermain dan bersenang-senang. Persaingan-persaingan dapat menimbulkan luka, dan kebencian, atau menimbulkan perkelahian. Dan sementara wanita itu mulai jarang tersenyum, dia sering marah dan mengata-ngatai. Bahkan ia menjadi sering terpaksa menghukum secara fisik.

Setelah itu, waktu mengubah pikiran orang selesai dan berlalu dan tidak ada lagi permintaan-
permintaan untuk pulang ke rumah yang terasa seperti surga. Tidak ada yang muncul dalam pikiran kami kecuali tekanan, perjuangan, dan ketekunan. Hanya mereka yang mampu mengambil baik-baik kesempatan untuk berhasil dapat tampil di tengah-tengah rasa khawatir.

Bel berbunyi menandakan berlalunya hari dan akhir dari tugas. Gerombolan anak-anak berbondong-bondong menuju gerbang yang telah dibukakan kembali. Aku mengucapkan selamat berpisah kepada teman-teman dan kekasih hati dan melewati pintu gerbang. Aku memandang ke sekitar tetapi tidak menemukan tanda-tanda ayahku yang telah berjanji ada di sana. Aku melangkah ke pinggir dan menunggu. Setelah menunggu cukup lama tanpa hasil, aku memutuskan pulangseorang diri. Setelah mengambil beberapa langkah, seorang lelaki paruh baya lewat, dan seketika aku menyadari bahwa aku mengenalnya. Ia mendekatiku, tersenyum, dan menjabat tanganku sambil berkata, “Sudah lama kita tidak bertemu—apa kabarmu?”

Dengan sekali anggukan kepala, aku setuju padanya dan balik bertanya, “dan kamu, bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, tak sepenuhnya baik, Alhamdulillah” Ia menyalami tanganku dan pergi. Aku maju beberapa langkah, lalu berhenti terkejut. Oh Tuhan! Di mana jalan yang berderet dengan taman itu? Kemana ia menghilang? Sejak kapan kenderaan-kenderaan ini menyerbu? Dan sejak kapan gerombolan manusia ini muncul ke permukaan? Bagaimana bukit-bukit ini menolak menutupi sisi-sisinya? Dan di mana tanah-tanah lapang yang membatasinya? Gedung-gedung tinggi telah mengambil alih, jalanan dipenuhi anak-anak, dan kebisingan yang mengganggu menggoncang udara. Di berbagai titik berdiri tukang sulap menampilkan trik-trik mereka, dan membuat ular-ular muncul dari dalam keranjang. Lalu ada sebuah orkes mengumumkan pembukaan sebuah sirkus, dengan badut-badut dan binaraga berjalan di depannya. Sebaris truk yang mengangkut para tentara merangkak penuh wibawa. Bunyi sirene pemadam kebakaran melengking, dan tidak jelas bagaimana kendaraan itu akan mengambil jalan untuk meraih tempat amukan api. Sebuah pertengkaran terjadi antara seorang sopir taksi dan penumpangnya, sementara istri si penumpang itu berteriak meminta tolong dan tak ada yang menghiraunya. Oh Tuhan! Aku linglung. Kepalaku berputar-putar. Aku hampir pitam. Bagaimana ini semua dapat terjadi dalam separuh hari? Antara pagi hari dan tenggelamnya matahari? Aku akan mencari jawaban nanti di rumah sama ayah. Tapi di mana rumahku? Aku hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi dan gerombolan manusia. Aku mempercepat langkah menuju persimpangan antara taman dan Abu Khoda. Aku harus menyeberangi Abu Khoda untuk tiba di rumahku, tetapi arus mobil tidak mereda. Sirene mobil pemadam kebakaran melengking tinggi ketika ia bergerak sedikit seperti siput, dan aku berkata pada diri sendiri, “Biarkan saja api bergembira dengan apa yang dilahapnya” Menjadi sangat marah, aku bertanya-tanya kapan aku bisa menyeberang. Aku berdiri di sana dalam waktu yang lama, sampai seorang anak muda yang diperkerjakan di toko penyeterikaan di tikungan itu menghampiriku. Ia mengulurkan lengannya dan berkata dengan gagah, “Kakek, biarkan aku membawamu menyeberang”. []

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved