Breaking News

Opini

Rahasia Keagungan Azan

AZAN memiliki sejarah yang paling unik dalam Islam. Azan yang kita kenal sekarang adalah hasil mimpi seorang

Editor: bakri
Ilustrasi Azan 

Oleh Ramly M. Yusuf

AZAN memiliki sejarah yang paling unik dalam Islam. Azan yang kita kenal sekarang adalah hasil mimpi seorang sahabat Rasulullah saw, yaitu Abdullah bin Zaid, lalu Rasulullah merestuinya. Pada mulanya azan belum dikenal oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Guna menentukan bagaimana cara memanggil orang melaksanakan shalat bila waktu shalat tiba, Rasulullah mengajak para sahabat bermusyawarah. Ada yang berpendapat untuk menandai setiap waktu shalat adalah dengan menaikkan dan mengibarkan bendera. Ada yang mengusulkan cara menentukan waktu shalat dengan menyalakan api unggun, meniup terompet dan memukul lonceng. Namun tidak disetujui Rasulullah dan para sahabat pun menyangkalnya, karena hal itu sudah digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Dalam suasana alot tersebut Umar bin Khathab tampil mengemukakan pendapatnya, yaitu cara memanggil orang untuk melakukan shalat cukup dengan menetapkan seorang juru panggil untuk menyerukan saat waktu shalat tiba. Ash-Shalah, ash-Shalah (Mari kita shalat, mari kita shalat). Ternyata Nabi saw dan para sahabatnya menyetujui pendapat terakhir, seperti yang dikemukakan oleh Umar. Setelah menyetujui pendapat tersebut, Nabi saw langsung mengintruksikan kepada sahabatnya Bilal bin Rabah, “Hai Bilal, bangunlah, dan panggillah dengan kalimat ash-shalah. Maka untuk selanjutnya bila tiba waktu shalat, sahabat Bilal berseru, “Mari ayo shalat bersama-sama! Shalat bersama-sama!”

Lafaz azan
Keadaannya tidak selesai di situ saja, di suatu malam seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Zaid sedang berada di antara tidur dan jaga, tiba-tiba terlihatlah seorang lelaki memakai pakaian yang serba hijau sedang berkeliling, di tangannya terlihat sebuah lonceng untuk dijual. Abdullah bin Zaid bertanya kepada orang itu: “Wahai hamba Allah! Apakah yang engkau hendak menjual itu? Jawabnya: Lonceng. Bolehkah aku membelinya? pinta Abdullah. Orang itu balik bertanya lagi: Untuk apa engkau membeli lonceng ini? Abdullah menjawab: Aku akan pergunakan untuk memberitahukan orang sebagai tanda masuk waktu shalat.”

Orang itu mengatakan: “Maukah kamu kuberikan yang lebih baik dari lonceng ini kepadamu? Sahabat Abdullah menjawab: Ya, Saya mau. Cobalah tunjukkan. Orang itu mengatakan: Bacalah: Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah - Asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadarrasullulah - Asyhadu anna Muhammadarrasullulah. Hayya `alash shalah - Hayya `alash shalah. Hayya `alal falah - Hayya `alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah.”

Kemudian, orang itu mengundurkan diri ke tempat yang tidak seberapa jauh dari tempat semula, lalu ia mengatakan kepada Abdullah bin Zaid, “Bila engkau hendak mendirikan shalat (iqamah) maka ucapkanlah, Allahu Akbar - Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya `alash shalah Hayya `alal falah. Qadqamatish shalah - Qadqamatish shalah. Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilaha illallah.”

Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid dengan tergopoh-gopoh menghadap Nabi saw dan melaporkan tentang mimpinya itu. Setelah Nabi saw mendengar apa yang dikatakan oleh Abdullah kepadanya, beliau bersabda, “Sesungguhnya mimpi itu benar. Insya Allah. Maka, pergilah engkau menghadap Bilal bin Rabah, karena Bilal itu suaranya lebih tinggi dan merdu, dan nafasnya lebih panjang. Lalu, ajarkan kepadanya lafaz-lafaz yang telah diucapkan orang itu kepadamu dan hendaklah Bilal memanggil orang untuk melakukan shalat dengan lafadh-lafadh yang telah diajarkan oleh seseorang itu.”

Abdullah pun menemui Bilal dan mengajarkan lafaz azan dan iqamah itu kepadanya. Kemudian, pada saat datang waktu shalat, Bilal mengumandangkan azan sebagaimana yang diajarkan oleh Abdullah bin Zaid tersebut. Mendengar suara azan Bilal itu, Umar bin Khathab ra datang dengan serta-merta sambil menguraikan kainnya untuk menemui Nabi saw. Lalu ia mengatakan, “Ya Rasulullah, demi zat yang telah mengutus engkau dengan benar, sungguh samalam saya telah bermimpi sebagaimana yang diucapkan Bilal. Kalau sekiranya Abdullah tidak menyampaikannya kepadamu, maka saya sampaikan mimpi saya kepamu wahai Rasulullah. Nabi bersabda, Maka semua puji bagi Allah, maka demikian itulah yang lebih tetap dan mantap.”

Hadis di atas menerangkan keagungan azan sebagai sebuah panggilan yang paling mulia dan sebagai pertanda masuk waktu shalat lima kali sehari semalam. Azan memiliki nilai yang sangat tinggi bagi siapa yang memperhatikan dan merenunginya. Mengulang lafaz azan maksudnya mengucapkan kembali sebagaimana yang diucapkan oleh Muazin, kecuali lafaz hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah saja sebagai gantinya diucapkan lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Setelah itu, bershalawat kepada Nabi paling kurang membaca (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad). Atau membaca shalawat secara lengkap seperti yang dibaca dalam tasyahhud.

Kemudian membaca doa setelah azan, Allahumma Rabba hadzihid Dakwatit Tammah Washshalatil Qaimah. Ati Muhammadanil wasilata Wal Fadhilah Wab’atshul Maqamal Mahmudalladzi wa’attah. Begitu agung nilai azan dalam ajaran Islam yang diberikan Allah kepada Rasulullah dan umatnya. Belum lagi melakukan shalat akan tetapi baru mendengar azan dan mengulangnya, bershalawat dan memohon diberikan wasilah kepadanya, Rasulullah berjanji akan memberikan syafa’at (pertolongan)-nya di hari akhirat kelak.

Dalam azan mengandung ungkapan kebesaran Allah yaitu lafaz Allahu akbar, mengadun pengakuan dan kesaksian terhadap kebesaran Allah. Sedangkan Asyhadu alla ilaha illah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah adalah kesaksian tentang keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. Setelah itu ungkapan hayya ‘alashshalah, mengadung ajakan untuk mengerjakan shalat setiap masuk waktu secara berjamaah. Lafaz hayya ‘alal falah mengandung panggilan ke tempat shalat (masjid, mushalla atau surau) sebagai suatu lambang kemenangan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kemudian ditutup dengan ungkapan Allahu akbar dan Lailaha Illallah (kebesaran dan keesaan Allah). Itulah azan yang dikumadangkan dan tetap terus membahana sampai hari kiamat. Dan azan ini tidak pernah terputus setiap waktu, karena di setiap negara dan benua selalu punya waktu shalat masing-masing sesuai dengan peredaran dan perputaran planet bumi.

Tak ada celah
Merenungkan kisah di atas tentang sejarah, hikmah dan keagungan azan, maka tidak terbuka celah bagi umat Islam untuk menghina dan merendahkan posisi azan yang merupakan hasil musyawarah dan urun rembuk para sahabat Rasulullah saw. Dengan musyawarah itu belum juga selesai, sampai akhirnya seorang sahabat Rasulullah yang ternama Abdullah bin Zaid bermimpi di malam hari, bertemu dengan seorang laki-laki mengajarkan lafaz-lafaz azan secara utuh yang akhirnya Rasulullah mengiyakannya.

Belum hilang dari ingatan kita kasus puisi yang berjudul “Ibu Indonesia” yang dilantunkan oleh seorang anak presiden pertama RI, yaitu Ibu Sukmawati Soekarnoputri pada acara 29 tahun Annie Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Puisi ini sempat membuat gaduh, terutama umat Islam. Dalam puisi itu Ibu Sukmawati dengan sengaja telah menyamakan suara azan dengan kidung dan cadar dengan konde.

Umat Islam perlu mengambil pelajaran dari kasus ini dan melakukan instrospeksi diri dalam hal menyikapi puisi Ibu Sukmawati yang sangat kontroversial itu. Alunan puisinya itu telah menyayat hati umat Islam yang ada di Indonesia, bahkan di luar negeri. Sebab dengan sengaja telah menodai dan menghina lafaz azan yang digunakan kaum muslimin seluruh dunia untuk memanggil orang untuk menunaikan shalat secara berjamaah.

Umat Islam tidak perlu menyibukkan diri dengan membalas cemoohan terhadap Ibu Sukmawati sang putri proklamator Indonesia tersebut. Kalau memang Ibu Sukmawati dengan sengaja menghina cadar dan azan, seyogianya cepat-cepat bertaubat kepada Allah selama mesin jantung masih berdenyut, ruh masih menyelinap di dalam jasad, roh belum sampai di kerongkongan, dan selama matahari masih terbit di sebelah timur. Ibu Sukmawati wajib meminta ampun kepada Allah Swt, sebab yang memiliki syariat azan dan cadar adalah Allah dan Rasul-Nya, bukan umat Islam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved