Citizen Reporter

Praktik Swalayan di Kanada

KANADA adalah negara yang terletak di ujung utara Benua Amerika dan tergolong negara yang maju dengan bergantung

Praktik Swalayan di Kanada
FAUZIAH AIDA FITRI

OLEH FAUZIAH AIDA FITRI, Fresh Graduate dari Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Calgary, Kanada

KANADA adalah negara yang terletak di ujung utara Benua Amerika dan tergolong negara yang maju dengan bergantung pada hasil minyak bumi yang melimpah. Penduduk asli Kanada berasal dari suku Aborigin yang telah bertahun-tahun menetap di negara ini, sedangkan pendatang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dari berbagai belahan dunia.

Perekonomian Kanada menempati urutan kesepuluh di dunia. Tak heran jika negara ini membuat masyarakatnya menjadi ‘independen’ atau mandiri.

Alhamdulillah, setelah menyelesaikan studi S1 di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), saya berkesempatan berkunjung ke salah satu kota di Kanada, yaitu kota Calgary. Kota ini sangatlah indah, bersih, dan nyaman. Saya sangat kagum pada kepatuhan masyarakat Kota Calgary, terutama dalam hal self-service atau melayani diri sendiri alias swalayan.

Self-service sering dijumpai di airport, fast food restaurant, pusat perbelanjaan, SPBU, parkiran, perpustakaan, dan mesin pencuci mobil. Pertama kali saya menggunakan layanan ini ketika saya berada di dalam pesawat menuju Kanada. Setiap penumpang diwajibkan mengisi formulir Custom Declaration Card untuk memberi tahu barang apa saja yang kita bawa dan akan diberikan kepada petugas imigrasi. Setiba saya di airport, beberapa mesin interaktif sudah tersedia bagi penumpang untuk memindai (men-scan) formulir yang telah diisi. Karena saya bingung, saya bertanya kepada salah satu petugas dan dia mengarahkan bagaimana cara mengoperasikan mesin tersebut. Mereka tak memanjakan saya atau penumpang lainnya,. Tugas mereka hanya mengarahkan dan saya pun ditinggal karena mereka harus membantu penumpang lain. Saya sangat kagum akan self-service yang cepat dan tak memanjakan ini.

Self-service juga diterapkan pada fast-food restaurant di mana para pelanggan harus memesan, menunggu, dan mengambil pesanan sendiri. Tidak ada satu pelanggan pun yang meninggalkan sisa makanan dan piring-piring di atas meja. Mereka membereskan semuanya sendiri. Tidak hanya itu, self-service juga tersedia pada pusat perbelanjaan. Pelanggan memiliki dua opsi untuk membayar barang belanjaannya ke loket kasir atau menggunakan layanan mesin self-service untuk memindai dan membayar barang belanjaannya sendiri. Layanan self-service juga saya jumpai di mal dalam bentuk mesin peta lokasi sehigga memudahkan saya untuk berbelanja.

Adapun bentuk self-service lainnya saya temukan di SPBU. Saya terkejut karena tidak ada petugas yang melayani, sehingga para pelanggan harus mengisi sendiri bahan bakar ke kendaraannya dan membayar pada mesin interaktif yang telah tersedia di SPBU. Mencuci mobil pun harus dilakukan sendiri. Di Kota Calgary hanya ada car wash di mana tersedia pilihan untuk menggunakan mesin pencuci mobil secara otomatis atau mencucinya sendiri.

Di parkiran pun tersedia self-service mesin untuk memvalidasi tiket parkiran sehingga saya tidak menjumpai juru parkir. Di perpustakaan mereka juga menyediakan self-check out machine untuk peminjaman buku.

Saya kagum dengan self-service dan kemandirian masyarakat Calgary. Layanan self-service yang dilengkapi dengan teknologi yang canggih, menjadikan Kota Calgary semakin terdepan. Masyarakatnya pun lebih memilih melakukan segala sesuatunya sendiri atau independen. Tidak heran jika Kanada tergolong negara maju.

Layanan self-service ini juga sangat cocok diterapkan di Aceh, misalnya di perpustakaan, area parkir, dan fast-food restaurant. Sistem ini dapat menunjang kemandirian dan kemudahan para konsumen dalam menikmati jasa yang disediakan. Dewasa ini, Kota Banda Aceh juga sudah menerapkan self-service untuk menunjang pelayanan dan meningkatkan pengujung pada sektor layanan tersebut. Contoh nyata yang bisa kita nikmati saat ini ada di Unsyiah, yaitu sistem peminjaman buku berbasis self-service yang sudah dijalankan.

Fasilitas ini dinilai cukup potensial dan membantu dalam operasional di perpustakaan. Sistem ini menjadikan pengunjung dan piminjam dapat dengan leluasa dan mandiri memproses buku yang akan dipinjam.

Selian itu, sistem ini juga mempermudah pekerja dalam melayani pengunjung dan mengurangi sistem pencatatan manual (less paper). Model peminjaman otomatis ini patut dicontoh oleh berbagai perpustakaan yang ada di Aceh, dengan tujuan meningkatkan kualitas dan layanan terhadap pengunjungnya serta meningkatkan kinerja pekerja dilingkungan perpustakaan.

Selain itu, di kawasan Lampineung saat ini juga sudah dilengkapi dengan sistem e-parking. Layanan ini memberikan kemudahan bagi pengguna area parkir untuk lebih teratur dengan pengenaan dan pengelolaan tarif yang sesuai. Ini menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh akan berbenah dengan sistem yang modern dan menunjang pelayanan terhdap publik. Ini menjadi contoh kemajuan yang sangat baik bagi Provinsi Aceh serta ke depan akan menduduki posisi yang sama dengan negara lainnya di dunia dalam hal pelayanan publik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help