Breaking News
Jumat, 10 April 2026

Citizen Reporter

Sisi Mengesankan India

LAPORAN saya kali ini masih berkisar tentang kisah perjalanan saya ke India, tapi lebih kepada permintaan maaf

Editor: bakri
CHAIRUL BARIAH 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Kepala Biro Umum Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari New Delhi, India

LAPORAN saya kali ini masih berkisar tentang kisah perjalanan saya ke India, tapi lebih kepada permintaan maaf dan klarifikasi atas tulisan saya sebelumnya berjudul “India tak Seindah Dalam Nyanyian”. Tulisan saya tersebut ternyata sangat menyinggung perasaan para pelajar Indonesia di India dan cenderung bersifat negatif terhadap negara India yang sebetulnya telah banyak menampung pelajar Indonesia di India.

Berikut ini adalah pencermatan saya tentang sisi baik dan hal mengesankan mengenai India.

Kepergian saya ke Negeri Mahatma Gandhi tersebut bersama tim Sanggar Seni Mirah Delima Univesitas Al-Muslim adalah dalam rangga memenuhi undangan dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) India yang menyelenggarakan Festival Budaya Indonesia I dan terbesar di Aligarh Muslim University (AMU)

Mengenai bus yang disewa panitia PPI India untuk kami sebenarnya bukanlah bus yang saya sebutkan, melainkan memang bus pariwisata full AC yang bagus. Tetapi akibat ketidakjelasan pihak Almuslim untuk memenuhi undangan, maka bus pariwisata AC yang awalnya sudah di-booking oleh panitia terpaksa dibatalkan dan uang muka yang telah dibayarkan oleh panitia untuk mem-booking bus hangus. Itu karena, kedatangan kami yang mendadak ke India, sehingga panitia tidak mempunyai pilhan lain selain menyewa bus pariwisata biasa.

Perjalanan Delhi-Aligarh bukanlah perjalanan menuju kota besar di India, karena Aligarh adalah sebuah kota kecil di wilayah Uttar Pradesh, sehingga perjalanan ke sana tidak begitu modern. Makanan yang dipesankan panitia adalah paratha yang saya sebutkann sebesar ban sepeda anak-anak. Sebenarnya itu hanyalah bahasa kiasan di mana paratha adalah makanan keseharian masyarakat India dan hanya itulah yang tersedia ketika kami istirahat makan di Break Point.

Toilet pinggir jalan tentunya selalu tidak ada yang harum. Ya, namanya juga toilet.

Masyarakat India mayoritas Hindu sehingga sangat tidak etis untuk kami memprotes tidak adanya mushala yang tersedia. Ketika tiba di Aligarh baru kami bisa shalat dengan khusyuk dan nyaman, karena di sini dimensi keislamannya sangatlah kental.

Kesalahan informasi yang saya berikan adalah harga daging kerbau di India 1 kg bukanlah 20 rupees atau seharga 4.000 rupiah, melainkan 180 rupees atau 36.000 rupiah. Harga ini sangat murah sehingga ini menjadi salah satu alasan yang membuat pelajar Indonesia sangat betah studi di Aligarh karena mudahnya mendapatkan makanan yang halal dan murah.

Mengenai kata “cut”yang saya sebutkan sebelumnya yang memiliki arti “kemaluan wanita” ternyata bukanlah bahasa formal India alias tidak ada di dalam kamus, hanya bahasa sehari-hari (ragam cakap) yang sepatutnya tak perlu diceritakan, mengingat gelar Cut dalam budaya Aceh adalah sangat istimewa.

Panitia yang menyambut kami adalah semua pelajar Indonesia yang sangat berani memperkenalkan budaya Indonesia, terutama Aceh, di salah satu universitas terbaik di India, Aligarh Muslim University, yang memiliki perpustakaan terbesar kedua se-Asia, Maulana Azad Library. Acara Wonderful Indonesia di India medapatkan banyak sekali apresiasi dari AMU dan kami juga sangat mengapresiasi keberanian para pelajar mengundang kami, Universitas Almuslim dan Sanggar Tari Mirah Delima. Kami menampilkan tarian ranup lampuan, rapa-i attraction, dan suloh di Kennedy Hall AMU.

Selain daripada itu, Bapak Angga Eka Karina, M.Sn sebagai Koordinator Seni Sanggar Seni Mirah Delima yang ikut dalam tim berkomentar, “Selama di India, kami merasakan suasana kekeluargaan seperti di Indonesia. Itu semua berkat Persatuan Pelajar Indonesia di India yang selalu memberikan perhatian dan mengajarkan kami bagaimana beradaptasi dengan suasana di India. Makanan di India kaya akan rempah-rempah , ini yang menyebabkan kekebalan tubuh terjaga. Susu sapi yang murni tanpa bahan pengawet juga jus buah yang kental dan sangat sehat. nasi biriyani yang sangat cocok untuk orang Indonesia.”

Selain itu, pelajar Indonesia juga selalu mendampingi kami ke mana saja sebagai tour guide gratis seperti ketika kami mengunjungi salah satu keajaiban dunia, Taj Mahal.

Pak Angga berharap bisa kembali lagi ke India dan menjadi semakin semangat melanjutkan studi S3 di India mengingat biaya S3 di India hanyalah berkisar Rp 11 juta sampai selesai di universitas yang sudah mendunia yang tidak diragukan lagi kualitas keilmuannya, Aligarh Muslim University.

Sejauh yang saya amati, kerja keras para pelajar Indonesia di India sungguh luar biasa dan tidak seharusnya kekurangan-kekurangan kecil menghilangkan kenangan yang kami dapatkan selama di India.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved