‘Hujan’ dalam Puisi-puisi Serambi Indonesia

Sedang menempuh pendidikan doctoral di University of Canberra, Australia Berawal dari ketertarikan membaca

‘Hujan’ dalam Puisi-puisi Serambi Indonesia
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA

Oleh: Mhd. Rasid Ritonga, Dosen IAIN Langsa

Sedang menempuh pendidikan doctoral di University of Canberra, Australia Berawal dari ketertarikan membaca puisi –puisi yang diterbitkan melalui Serambi Indonesia, perjumpaan saya dengan kata ‘hujan’ beresonansi dalam pikiran saya. Dalam puisi-puisi yang diterbitkan Serambi dari akhir 2016 hingga pertengahan 2017, kata ‘hujan’ tidak kurang dari 30 kali muncul dalam gubahan-gubahan puisi yang dimuat pada laman Serambi Indonesia. Melihat fenomena ini, kata ‘hujan’ menjadi isu penting untuk dipahami dalam memahami lintasan puisi – puisi local Aceh. Tulisan ini mencoba mengungkap asosiasi makna kata ‘hujan’ dalam puisi-puisi kontemporer Aceh.

Kata ‘hujan’ dan ragam makna asosiasi
Hujan adalah salah satu bentuk air yang mengandung H2O. Bentuk sejenis lainnya adalah gumpalan awan, hujan, sungai danau, lautan, es dan uap. Imaji – imaji ‘hujan’, ‘danau’, ‘awan’, ‘laut’ kerapkali digunakan dalam larik-larik puisi mancanegara maupun lokal. Danau, laut, awan dan hujan merupakan imaji-imaji yang paling sering digunakan dalam gubahan puisi apakah sebagai latar seperti laut, sungai dan danau atau pada saat yang sama menjelma menjadi metapor dan bahkan menjelma menjadi simbol dengan implikasi makna yang bervariasi.

Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya, melakukan simbolisasi perjuangan terhdap laut sementara Sanusi Pane menghadirkan makna keheningan. Terjadinya hujan melalui serangkaian peristiwa yang cukup kompleks. Hujan didahului oleh proses evaporasi karena sengatan matahari. onsekwensi logis dari pemanasan adalah terjadinya penguapan dari bumi yang kemudian berubah menjadi titik-titik air semakin meninggi akibat dorongan angin dan tekanan udara.

Dari sinilah terjadinya proses kondensasi hingga mencapai titik jenuh dan menjelma menjadi butiran air yang dikenal dengan hujan. Hujan tidak hanya membuat tumbuh – tumbuhan tersenyum mekar setelah kemarau namun juga bisa membumihanguskan objek yang sama bahkan mampu menghancurkan benda keras seperti besi.

Sehingga maknaasosiasi ‘hujan’ tidak hanya representasi kekuatan yang mampu melakukan destruksi namun juga kemampuan melahirkan kehidupan baru. Kata ‘hujan’ juga kerapkali digunakan sebagai majas ironi, awal pertanda buruk, kepedihan, keceriaan, romantis serta penderitaan yang semakin dalam.

Dalam kajian ilmiah hujan berelasi dengan mood. Jennifer Eastwood dalam ‘Understanding Seasonal Affective Disorder’ mengungkap fenomena kepribadian yang unik dalam konteks musim. Kenangan – kenangan dalam peristiwa kehidupan individual dan komunal bisa saja memuncak ketika terjadi reaksi dari hipothalamus, glandula pineal, melatonin, seretonin, vitamin D dan fotoperiode.

Ketika suasana pekat akibat hujan hipothalamus menghantarkan sinyal lewat otak menuju glandula pineal yang selanjutnya dalam kondisi minim cahaya memproduksi hormon melatonin. Hormon ini kemudian membuat orang lebih mudah mengantuk dan melamun. Kurangnya penyinaran pada kulit menyebabkan kurangnya vitamin D yang selanjutnya mempengaruhi level serotonin. Serotonin berfungsi mengatur mood, juga memegang peranan dalam proses mengingat.

Penurunan level serotonin sering membuat orang cenderung melamun. Karenaperubahan mood, alam bawah adar manusia cenderung melakukan rekoleksi banyak memori. Setidaknya Tere Liye kelihatannya telah melakukan pengamatan yang cukup dalam ketika melihat fenomena hujan. “Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya.

Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved