Kredit Macet di Aceh Rp 688 M

Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, kredit macet di Aceh pada triwulan

Kredit Macet di Aceh Rp 688 M
ZAINAL ARIFIN LUBIS, Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh

* Selama Triwulan Pertama Tahun Ini

BANDA ACEH - Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, kredit macet di Aceh pada triwulan pertama 2018 mencapai Rp 688 miliar. Dari jumlah tersebut, sektor perdagangan mendominasi dengan nilai kredit macet Rp 319 miliar. Kemudian diikuti sektor konstruksi Rp 111 miliar dan jasa-jasa Rp 55 miliar.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Zainal Arifin Lubis kepada wartawan usai kegiatan ngopi kebangsaan bertema “Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dalam Rangka Mendukung Ketahanan Nasional” di Auditorium Kantor Perwakilan BI Banda Aceh, Sabtu (21/4).

Menurutnya, jumlah kredit macet di Aceh termasuk tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Namun, lanjut Zainal, dalam beberapa tahun terakhir trennya mulai menurun. Sebagai perbandingan, sebutnya, tahun 2014 kredit macet di Aceh mencapai Rp 1,1 triliun. Tapi, pada 2015 turun menjadi Rp 990 miliar, lalu 2016 menjadi Rp 789 miliar, dan 2017 sebesar Rp 634 miliar. Sementara untuk tahun ini sampai triwulan pertama, kredit macet Rp 688 miliar.

“Nilai kredit macet di Aceh konsisten menurun. Momentum yang baik ini dapat kita manfaatkan untuk lebih proaktif membiayai ekonomi Aceh, khususnya sektor UMKM. Kredit macet merupakan suatu momok, bila nilainya tetap tinggi akan menyulitkan investor, termasuk perbankan akan sungkan membiayai sektor riil,” jelasnya.

Sementara Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (Ikal) Komisariat Aceh, Syahrizal Abbas menyampaikan kegiatan itu merupakan agenda rutin Ikal yang dilaksanakan dua atau tiga bulan sekali. Menurutnya, topik-topik yang didiskusikan akan dipetakan seperti dimensi ketahanan nasional, politik, wawasan kebangsaan, ekonomi, dan sosial.

“Nanti ada rekomendasi yang disampaikan ke pemerintah daerah dan pusat agar Aceh dapat lebih baik. Syariat Islam menjadi salah satu fundamental dari pembangunan ekonomi,” katanya. Kegiatan itu turut dihadiri unsur Forkopimda Aceh dan sejumlah pimpinan bank.

Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Zainal Arifin Lubis, pada kesempatan itu juga mengatakan, kredit macet di Aceh disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, sebutnya, aspek bisnis yaitu bila bisnis tidak berkembang dan kurangnya pasar terhadap produk yang dihasilkan, serta operasional kegiatan juga kurang menguntungkan, mengakibatkan pengembalian pinjaman menjadi lemah. Kedua, aspek karakter, yaitu pengembalian uang ke bank macet sehingga mengakibatkan bank sungkan memberikan pembiayaan.

Pada bagian lain, Zainal menyampaikan, secara umum pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2017 sebesar 4,19 persen. Angka itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,30 persen. Namun, tambah Zainal, angka tersebut masih dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebesar 5,07 persen.

Pada triwulan pertama 2018, katanya, Aceh mengalami inflasi 3,90 persen (yoy). Jumlah itu lebih tinggi dibanding inflasi nasional 3,40 persen (yoy). “Inflasi terutama didorong oleh komoditas harga barang jasa, dan kelompok bahan makanan,” pungkas Zainal Arifin Lubis.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help