Pembangunan RS Regional Lambat

Dua anggota DPR Aceh Zaenal Abidin dan Tanwir Mahdi, Senin (23/4) meninjau bangunan rumah sakit regional

Pembangunan RS Regional Lambat
Dua anggota DPRA dari Komisi VI Tamwir Mahdi dan Zaenal Abidin didampingi Sekdis Kesehatan Aceh Barat TR Ridwan meninjau RS Regional Cut Nyak Dhien di Meulaboh yang sudah empat bulan tidak ada pengerjaan lanjutan, Senin (23/4). Wakil rakyat itu berharap anggaran pembangunan yang sudah diplot dalam APBA 2018 sebesar Rp 40 miliar dapat segera dikerjakan. 

* Sudah Empat Bulan belum Dikerjakan

MEULABOH - Dua anggota DPR Aceh Zaenal Abidin dan Tanwir Mahdi, Senin (23/4) meninjau bangunan rumah sakit regional Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat. Rumah sakit tersebut hingga kini belum dikerjakan. Padahal pada tahun 2018 sudah dialokasikan anggaran Rp 40 miliar dalam APBA.

“Dari laporan kami peroleh dalam APBA 2018 kembali dialokasikan dana Rp 40 miliar. Tapi sejauh ini masih dalam tahap diumumkan lelang dan belum jelas kapan dikerjakan oleh rekanan,” kata Zaenal Abidin didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Barat TR Ridwan.

Dia sebutkan Pemerintah Aceh perlu memacu pembangunan RS regional di Aceh Barat agar rampung sesuai target yakni empat tahun. Dana yang sudah dikucurkan sejauh ini baru Rp 27 miliar pada tahun 2017 dan plus dana pembersihan lahan tahun 2016. Dana yang dibutuhkan sesuai rencana untuk membangun RS tersebut sebesar Rp 550 miliar.

Menurut Tanwir dengan anggaran setiap tahun hanya diplot Rp 40 miliar dipastikan rumah sakit tersebut tidak akan rampung dibangun sesuai target. Karena itu butuh alokasi dana tambahan lebih besar lagi sehingga bisa lebih cepat rampung.

Dikatakannya rumah sakit regional di Aceh dibangun oleh pemerintah pada lima wilayah yakni di barat selatan Aceh terdapat dua titik yakni di Aceh Barat dan Aceh Selatan. Untuk Aceh Selatan sudah jauh lebih cepat dibangun karena bupati setempat lebih proaktif yakni ikut melobi dana dari pusat dan Otsus kabupaten serta APBK sehingga sudah hampir rampung.

“Kalau di Aceh Barat hanya mengandalkan Otsus. Kepala daerah di sini perlu memikirkan lobi dana dari pos lain sehingga rumah sakit ini bisa lebih cepat rampung,” kata Tanwir.

Keberadaan rumah sakit regional, kata Zaenal, sudah empat bulan terakhir dalam tahun 2018 tidak ada pengerjaan fisik lapangan karena masih dalam tahap lelang. Karena itu diharapkan perlu dipacu pelaksanaan lelang sehingga dapat segera dikerjakan sehingga dengan anggaran Rp 40 miliar yang diplot tahun 2018 digunakan maksimal.

“Selain perlu dipersiapkan bangunan harapan kita juga terhadap tenaga medis dan peralatan sehingga ketika rampung langsung bisa digunakan,” kata Zaenal.

Ia mengatakan pesimis dengan anggaran yang dikucurkan rendah sekali dan berharap tahun 2019 mendatang bisa lebih besar sehingga tidak terkesan pengerjaan RS regional Meulaboh yang bernama RS Cut Nyak Dhien ini berjalan lambat.

“Keberadaan RS ini sudah sangat mendesak. Saat ini pasien di RS Zaenal Abidin sudah membludak. Dengan ada regional dapat ditangani di daerah,” tambah Tanwir.(riz)

Sekdes Kesehatan Aceh Barat TR Ridwan mengakui selama ini RS Cut Nyak Dhien sudah tidak mampu menampung jumlah pasien rawat. Sedangkan tempat tidur yang tersedia hanya 250 unit.

“Ke depan pada RS regional kita harap dapat menampung hingga hampir 500 unit,” katanya.

Ia menambahkan keberadaan RS regional sudah mendesak dan berharap Pemerintah Aceh dapat memacu pembangunannya tepat waktu. “Terhadap harapan anggota DPRA tentu akan kami sampaikan ke pimpinan,” kata Ridwan.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved