Opini

Aceh tak Punya Ucapan Terima Kasih?

BAHASA Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya yang tersebar di wilayah

Aceh tak Punya Ucapan Terima Kasih?
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Dalam sebuah seminar yang berlangsung di Domus Academica Auditorium, Universtas Oslo dan Norwegian Center for Human Rights (NCHR), dengan tema The Development of Aceh: A Cultural Perspective, Norwegia pada 18 Nopember 2005. Dr Bukhari Daud M.Ed, mengatakan, memang kata “terima kasih” tidak dikenal dalam kebudayaan Aceh. Apabila orang Aceh mendapat pertolongan atau menerima hadiah, mereka akan mengucapkan “Alhamdulillah”. Bagi orang Aceh, rasa terima kasih atas pemberian atau bantuan orang lain tidak diungkapkan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Artinya, jika seseorang berbuat baik kepada orang Aceh, maka orang Aceh akan membalasnya dengan lebih baik lagi.

Memang apa yang diungkapkan oleh Bukhari tehadap makna leksikal kata “Alhamdulillah” tersebut bagi masyarakat Aceh adalah mengekspresikan ungkapan “terima kasih” yang sedalam-dalamnya. Tidak hanya itu, namun juga setelah mengucapkan alhamdullilah diiringi dengan doa kepada orang yang memberi bantuan atau pertolongan dengan menambahkan kata-kata seperti; Seumoga gata uroe geubalah le Allah, atau seumoga gata geu tulong le Allah. Hal ini karena memang dalam kehidupan sosial orang Aceh telah melekat ajaran Islam dan menyatu dalam budayanya ini sesuai dengan hadih maja, hukôm ngon adat lagèe zat ngon sifeut.

‘Teurimong geunaseh’
Melihat fenomena tersebut, sebenarnya ada banyak frasa atau leksikal kata terima kasih dalam bahasa Aceh, seperti kata teurimong geunaseh, teurimong gaseh, makaseh beh, kajeut beh, dan banyak lagi kata-kata yang semisal yang digunakan masyarakat Aceh dalam mengungkapkan kata terima kasih.

Selain kata tersebut ada juga kata lainnya, seperti neupeuidin beh? Kata ini terdapat dalam Kamus Bahasa Aceh yang diartikan sebagai ucapan “terima kasih”. Terjemahan ini diartikan secara pragmatik, yaitu suatu teknik yang menggunakan penekanan pada ketepatan pengalihan pesan dalam bahasa sasaran, aspek bahasa, dan estetika kurang diperhatikan. Jika kata tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan padanan lazimnya berarti “izinkan”.

Dengan demikian, terdapat banyak kata terima kasih yang bisa diungkapkan dalam bahasa Aceh, namun yang harus menjadi perhatian saat situasi kapan dan bagaimana ucapan itu diucapkan. Sebagai contoh, ketika ingin mengatakan “terima kasih” kepada tamu undangan yang telah menyempatkan diri memenuhi undangan pada suatu acara. Sebagai contoh leksikal, kata “terima kasih” ganti dengan kata “Alhamdulillah”, maka leksikal tersebut tidak sesuai dengan penempatankatanya.

Untuk itu harus dicari kata yang sepadan, seperti teurimong gaseh agar sesuai dengan konteknya. Dengan demikian, ungkapan Alhamdulillah bisa digunakan dalam kontek lain, seperti seseorang memberikan bantuan sosial atau sedekah, maka kata alhamdullah lebih tepat diucapkan oleh sipenerima bantuan tersebut. Ini bukan membantah bahwa kata Alhamdulillah bukan kata terima kasih, karena ada banyak leksikal kata terima kasih yang digunakan oleh ureung Aceh.

Oleh karena itu, dengan banyaknya ungkapan frasa terima kasih dalam bahasa Aceh, maka ungkapan frasa “terima kasih” harus ditata dan distandardkan kembali sesuai dengan kamus. Tidak hanya itu, perlu juga diperhatikan standard ejaan, mengingat Aceh memiliki beragam dialek. Ini menjadi tugas penting Pemerintah Aceh, karena bahasa adalah refleksi kebudayaan masyarakat penuturnya.

Dan, bahasa menentukan karakter budaya tersebut bagaimana suatu buadaya menghargai orang lain dengan ungkapan “terima kasih”, karena orang tersebut akan merespons dan menilai. Sehingga penutur luar Aceh tidak lagi menuduh bahwa Aceh tidak punya atau tidak tahu berterima kasih. Nah!

* Ramlan, S.Pd., M.Hum., Dosen Linguistics Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Glee Gapui-Pidie, dan Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan. E-mail: ramj.kajhu@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved