Imigrasi: Keberadaan 9 Warga Cina di Aceh Legal

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II B Meulaboh, Imam Santoso menyatakan status keimigrasian sembilan

Imigrasi: Keberadaan 9 Warga Cina di Aceh Legal
PETUGAS Imigrasi Kelas II B Meulaboh, Aceh Barat, Rabu (10/1) melakukan pemeriksaan terhadap Hu Jie Bin, WNA asal Guandong, Tiongkok, terkait pelanggaran Keimigrasian di kantor setempat. Pria ini terancam kurungan selama lima tahun akibat menyalahgunakan izin Visa yang sudah diberikan Pemerintah Indonesia terhadap kunjungan yang ia lakukan. 

* Dua WNA Ditangkap di Simeulue

MEULABOH - Kepala Kantor Imigrasi Kelas II B Meulaboh, Imam Santoso menyatakan status keimigrasian sembilan warga negara Cina yang disebut-sebut bekerja di tambang emas kawasan Sungaimas, Aceh Barat, adalah legal alias mengantongi izin resmi.

“Mereka semua legal, mengantongi izin. Tujuh orang memiliki izin kerja terbatas (kitas) dan dua orang lagi izin kunjungan,” kata Imam Santoso kepada wartawan dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (2/5) pukul 16.00 WIB.

Imam menyampaikan hal itu menyikapi informasi yang dilansir tim Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh Barat dan tim Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Aceh kemarin. “Tidak ada masalah dengan warga Cina itu. Mereka legal kok berada di Aceh. Tujuh orang bisa bekerja setelah mereka mendapat surat dari Kementerian Tenaga Kerja atau Dinas Tenaga Kerja,” kata Imam.

Menurut Imam, untuk dapat bekerja di Indonesia mereka awalnya memohon kepada Kedutaan Indonesia di negara mereka. Selanjutnya, mereka bertolak ke Aceh dan sudah pernah memperpanjang izin di Kantor Imigrasi Meulaboh dua pekan lalu. “Sesuai aturan, awalnya mereka izin tinggal selama 30 hari dan dapat diperpanjang selama empat kali,” kata Imam Santoso.

Ia tambahkan, saat turunnya tim Kesbangpol dan tim Disnakertrans Aceh ke lokasi tambang emas di Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat, ia pernah ditelepon oleh ketua tim tersebut. Namun, pada waktu itu Imam tak bisa hadir karena ada kegiatan yang tak bisa diwakilkan ke orang lain.

“Jadi, dengan keterangan saya ini diharapkan dapat meluruskan kembali informasi keliru yang beredar, seolah-oleh WNA Cina itu bermasalah di Aceh. Tidak ada masalah dengan mereka di sini. Semua aturan sudah mereka ikuti,” tegas Imam.

Namun, Imam mengaku tak tahu persis apakah para WNA itu masih berada di lokasi tambang emas atau tidak, karena hal itu bukan wewenangnya. “Dalam aturan disebutkan bahwa mereka itu boleh bekerja dalam sifat mendesak atau memantau kegiatan,” ujar Imam.

Kepala Imigrasi Meulaboh menerangkan, sehubungan dengan hadirnya sembilan warga Cina di Aceh Barat itu pihak imigrasi sudah meminta keterangan pihak sponsor atau penjamin. Perusahaan yang mendatangkan warga Cina itu adalah PT Indo Pusaka Mas. “Dari keterangan mereka (perusahaan) bahwa warga Cina itu bukan bekerja, tetapi pengawas, kontrol, dan survei,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, tim gabungan dari Kesbangpol Aceh Barat bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap WNA yang bekerja di sebuah perusahaan tambang emas di Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat. Dalalam sidak itu tim menemukan sembilan pekerja asing, dua di antaranya menyalahi izin, karena melakukan pekerjaan di Aceh, padahal mereka hanya mengantungi visa kunjungan.

Kesembilan warga Cina itu adalah Liao Qingyan, Shi Kaicheng, Yan Jinshui, Mo Chiseng, Wen Qingfeng, Li Xinghong, Li Xie Yong, Wen Hong Ping, dan Mai Rong Qiang.

Pihak Imigrasi Kelas IIB Meulaboh Aceh Barat menyatakan pihaknya menangkap dua WNA asal Pantai Gading pada sebuah desa di Kabupaten Simeulue pada Minggu (29/4) lalu. Kedua WNA akan segera dideportasi ke negaranya karena menyalahi izin yang telah diberikan pihak imigrasi Indonesia.

Imigrasi Meulaboh pada Rabu (2/5) menggelar konferensi pers di imigrasi setempat dipimpin Kepala Imigrasi Imam Santoso. Juga dihadirkan kedua WNA yang ditangkap itu, masing-masing Koffi Firman dan Kouakou Roni Ronald. “Mereka ditangkap di Simuelue karena menyalahi izin tinggal,” kata Imam.

Menurut Iman, satu di antara WNA itu sejak September 2017 dan satu lagi sejak Desember 2017 berada di Aceh. Keduanya masuk ke Indonesia bebas visa untuk negara mereka yakni dengan waktu selama 30 hari. Seharusnya mereka sudah harus meninggalkan Indonesia setelah 30 hari di Indonesia. Tapi mereka malah tinggal menetap, tsehingga terpaksa harus ditangkap dan diproses sesuai Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

Menurutnya, ketika ditangkap tim imigrasi yang dibantu polisi di Simeulue, kedua WNA itu sedang ikut dalam pertandingan sepakbola di Sinabang, ibu kota Simeulue. (riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved