Citizen Reporter

Dakwah Inovatif dari Muzakarah Asean

LAWATAN saya kali ini bersama delapan orang Pengurus Pusat Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau

Dakwah Inovatif dari Muzakarah Asean
BASRI A BAKAR

OLEH BASRI A BAKAR, MSi, Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA), melaporkan dari Kuala Lumpur

LAWATAN saya kali ini bersama delapan orang Pengurus Pusat Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (PP-Forsimas) Aceh ke Kuala Lumpur dalam rangka mengikuti Muzakarah Pendakwah Asean yang berlangsung di Premiera Hotel selama dua hari penuh.

Acara cukup penting ini diikuti perwakilan organisasi kemasjidan dari negara-negara Asean seperti Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos dan Filipina, termasuk dua negara luar Asean, yakni Hong Kong dan Australia. Jumlah pesertanya sekitar 100 orang. Khusus dari Indonesia, peserta yang hadir mencapai 25 orang, berasal dari Aceh, Palembang, Jakarta, Bandung, Cirebon, Bekasi, Surabaya, Palu, dan NTB.

Muzakarah ini diselenggarakan pertama kali oleh Majelis Dakwah Negara (MDN) Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (YADIM) dan Persatuan Ulama Malaysia (PUM), bekerja sama dengan Forsimas dan Majelis Agama Islam Wilayah Persekutuan. Salah satu kesepakatan peserta adalah akan menyelenggarakan Muzakarah Dakwah Asean sebagai agenda tahunan dalam upaya pengembangan dakwah inovatif di masa depan dengan tempat yang berpindah-pindah di lingkup Asean.

Dr Mohammad Nawar Arifin, Ketua Pemuda Masjid yang juga Ketua Forsimas Malaysia memaparkan konsep dan pengalamannya dalam mempersatukan komunitas masjid se-Asia Tenggara. Dia tegaskan, fungsi masjid perlu dioptimalkan sebagai pusat dakwah yang andal dan didatangi banyak orang, tempat organisasi, tempat pemikiran, dan pusat spiritual.

Sedangkan Datok’ Wan Muhammad bin dato’ Sheikh Abdul Azis, unsur Pengurus MDN/ PUM juga tampil, materinya tentang Strategi Kerja Sama Dakwah Asia Tenggara. Menurutnya, dakwah yang dilakukan ke depan harus lebih serius dengan memanfaatkan berbagai media sosial dan media massa serta mewujudkan bank data organisasi dakwah Asia Tenggara.

Ia tambahkan, umat Islam di Asia Tenggara sebenarnya memiliki kekuatan dan potensi besar dalam dunia Islam secara umum. Namun, di sisi lain saat ini banyak data populasi muslim dunia yang sengaja dibohongi. Ada data jumlah penduduk muslim yang tak di-update sejak sepuluh tahun silam, padahal kondisi saat ini populasi muslim sudah bertambah pesat. Inilah bagian dari Statistical Genocide untuk memberi data tidak benar, sehingga memberi kesan bahwa jumlah penduduk muslim di berbagai negara hanya sedikit. Contohnya, muslim di Kamboja yang disebutkan hanya 2 persen saja, padahal yang sebenarnya hampir 7 persen. Demikian pula di beberapa negara minoritas lainnya, seperti Thailand, Filipina, Vietnam, Myanmar, Singapura, dan lain-lain.

Kita patut berbangga bahwa saat ini jumlah umat Islam Asia Tenggara mencapai 40 persen lebih dari jumlah penduduk Asia Tenggara yang totalnya 647 juta jiwa. Namun, umat Islam Asia Tenggara juga berhadapan dengan tantangan dan kelemahan internal dari segi ekonomi, pendidikan, dan sosial.

Di samping itu, umat Islam Asean masih dominan terbelit kemiskinan, kejahilan, dan perpecahan karena berbeda pandangan sehingga perlu ditangani secara bersama dan terstruktur. Tidak hanya umat Islam belum merapatkan barisan dalam berdakwah, tapi juga terjadi perpecahan internal akibat khilafiah dan persoalan kecil lainnya.

Oleh karena itu, peranan institusi dakwah ke depan diharapkan harus lebih ditingkatkan dalam menciptakan wawasan dakwah se-Asean, lalu se-Asia, dengan satu sistem kerja sama yang tersusun rapi demi cita-cita dakwah yang dirumuskan secara bersama.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help