Citizen Reporter

Belanja di Beijing tak Perlu Bawa Uang dan Kartu

DALAM kehidupan sehari hari, kita sebagai manusia tidak terlepas dari aktivitas pasar

Belanja di Beijing tak Perlu Bawa Uang dan Kartu
NAUFAL AHSANUL MUHAMMAD

OLEH NAUFAL AHSANUL MUHAMMAD, Mahasiswa UIBE, melaporkan dari Beijing, Tiongkok

DALAM kehidupan sehari hari, kita sebagai manusia tidak terlepas dari aktivitas pasar. Baik dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun dalam memuaskan keinginan.

Ciri utama pasar ialah terjadinya transaksi jual beli, antara pembeli dan penjual. Oleh karena negosiasi kedua belah pihak terbentuklah suatu harga barang, tapi ini semua tak terlepas dari intervensi pemerintah dalam mengontrol harga barang. Harga suatu benda tentulah bervariasi, tergantung manfaat, biaya produksinya, dan faktor-faktor lain.

Pembelian suatu barang dapat dilakukan dengan dua cara, tunai dan nontunai. Kedua jenis ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Indonesia, khususnya di Aceh, mayoritas masyarakat lebih memilih menggunakan transaksi tunai. Padahal, kalau kita lihat lebih dalam transaksi tunai justru memiliki segudang kelemahan. Contohnya, ketika kita ingin belanja dengan harga tinggi, otomatis kita juga harus membawa uang yang banyak ke tempat belanja.

Tentu saja kita sangat waswas saat membawa uang tersebut, karena rawan pencopetan atau perampokan. Atau bisa saja karena keteledoran kita sehingga uang tersebut terjatuh dan diambil orang lain.

Selain itu, hal yang mungkin saja terjadi dengan transaksi tunasi adalah sulitnya menyediakan uang kembalian. Bahkan tak jarang kita lihat permen dijadikan sebagai uang kembalian. Seolah permen itu merupakan alat tukar yang sah.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan merasakan dampak negatifnya, karena semakin banyak uang beredar di masyarakat, maka berisiko terjadinya inflasi. Maka tidak heran jika kita lihat banyak negara maju lebih memilih menggunakan transaksi nontunai dalam transaksi jual beli di pasar.

Jenis transaksi nontunai tidak selamanya positif, akan tetapi sisi positifnya jauh lebih besar daripada sisi negatifnya. Oleh karena itu, di Beijing, Tiongkok, mayoritas masyarakatnya lebih senang menggunakan transaksi nontunai.

Alat yang digunakan dalam transaksi nontunai ini ada dua jenis, yakni menggunakan kartu dan handphone (hp) dan menggunakan kartu kredit atau debit yang sebetulnya sudah tak asing lagi bagi kita.

Namun, di Cina transaksi cukup dengan membawa hp yang bersistem android/IOS saja, maka sudah bisa kita belanja dari pasar di kaki lima hingga bintang lima. Prosesnya sangatlah gampang. Hanya dengan meng- install aplikasi wechat,alipay atau apple pay, lalu sambungkan dengan bank yang kita gunakan. Nantinya, ketika belanja kita hanya memberikan barcode yang tertera pada aplikasi yang kita gunakan, lalu si penjual memindai atau men-scan barcodenya.

Pengalaman saya bertransaksi menggunakan barcode hp ternyata sangatlah jauh lebih mudah ketimbang menggunakan kartu atau bahkan transaksi tunai.

Saya berharap, Pemerintah Aceh terus memberikan stimulasi kepada masyarakat untuk lebih menggunakan transaksi nontunai di samping dapat meminimalisir kriminalitas di pasar, cara ini juga dapat membantu pemerintah dalam meminimalisir peredaran uang palsu. Program ini tentu saja akan sangat membantu pemerintah dalam memajukan perekonomian.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved