Home »

Opini

Opini

Peta Ekonomi Syariah dan Industri Halal di Dunia

DINAMIKA perkembangan ekonomi gobal menunjukkan ekonomi syariah telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi

Peta Ekonomi Syariah dan Industri Halal di Dunia
Istri Gubernur Aceh, Darwati A Gani turut membakar leumang dalam pembukaan Aceh International Halal Food Fest di Taman Sari, Banda Aceh, Jumat (18/8/2017) (SERAMBI INDONESIA/ Hari Mahardhika) 

Oleh Teuku Munandar

DINAMIKA perkembangan ekonomi gobal menunjukkan ekonomi syariah telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang akan menjadi perhatian berbagai negara di dunia, baik negara dengan mayoritas penduduknya muslim maupun non muslim. Setidaknya terdapat empat faktor pendorong yang menjadikan ekonomi syariah dipercaya akan terus tumbuh secara global: Pertama, tingginya pertumbuhan jumlah penduduk muslim, terutama dalam kelompok usia muda. Harian Telegraph Inggris mempublikasikan hasil penelitian sebuah lembaga riset asal Amerika, The Pew Research Centre, yang menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 2010-2050, pertumbuhan penduduk muslim dunia akan mencapai 73%, jauh di atas pertumbuhan penduduk Kristen yang hanya 35%.

Tahun 2010 tercatat jumlah penduduk muslim adalah 1,6 miliar jiwa, sementara Kristen sebanyak 2,17 miliar jiwa. Sesuai prediksi lembaga riset tersebut, diperkirakan pada 2050 jumlah umat muslim mencapai 2,76 miliar jiwa, sementara Kristen sebanyak 2,92 miliar jiwa. Dan bila setelah 2050 pertumbuhan ini terus terjadi, maka diprediksikan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2070, mengalahkan dominasi Kristen yang telah menguasai dunia selama ini.

Kedua, pertumbuhan ekonomi syariah yang tinggi dan cepat. Data Global Islamic Economic Report menyebutkan nilai asset keuangan syariah global pada 2016 sebesar USD 2,2 triliun, tumbuh 10% dari 2015 yang sebesar USD 2 triliun. Diperkirakan asset keuangan syariah akan terus tumbuh mencapai USD 3,8 triliun pada 2022. Pertumbuhan tersebut sebagian besar ditopang oleh perbankan syariah dan sukuk (surat berharga syariah).

Ketiga, negara-negara OIC (Organisation of Islamic Cooperation) atau yang dulu disebut OKI telah memfokuskan pada pengembangan pasar produk halal, seperti industri pariwisata, makanan, pakaian, dan farmasi. Pariwisata merupakan satu primadona dalam industri halal saat ini. Potensi wisatawan muslim yang besar, menjadikan daya tarik tersendiri bagi negara-negara di dunia untuk berlomba-lomba menjadi destinasi wisata halal. Data GMTI (Global Muslim Travel Index) menyebutkan, jumlah total kedatangan wisatawan muslim di berbagai negara di dunia mencapai angka 117 juta pada 2015, dan diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Dan, keempat, nilai-nilai etika Islam yang semakin mendasari praktik bisnis dan lifestyle. Hal ini terlihat dari kondisi saat ini, di mana halal style sudah menjadi tren gaya hidup masyarakat global. Sementara dalam dunia bisnis, terjadi peningkatan pengetahuan dan keinginan masyarakat untuk mengimplementasikan prinsip syariah dalam aktivitas ekonominya, seperti yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Saat ini sering kita jumpai banyak pegawai yang sebelumnya bekerja di perusahaan/institusi yang konvensional, memilih mengundurkan diri dan beralih ke sektor industri yang menjalankan prinsip syariah.

Daya tarik
Daya tarik dan potensi yang dimiliki oleh ekonomi syariah, tidak hanya menarik negara-negara Islam untuk mengembangkan ekonomi syariah, melainkan juga menjadikan negara-negara yang mayoritas penduduknya non muslim bersemangat dan berlomba-lomba untuk menjadi pusat perekonomian syariah atau industri halal. Tercatat beberapa negara non muslim yang telah dan akan menjadikan ekonomi syariah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di negaranya melalui pembangunan industri halal. Brasil, negara yang jumlah penduduk muslimnya di bawah 1%, telah menjadi pemasok daging unggas terbesar ke negara Timur Tengah. Begitu juga dengan Australia, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Kristen dan Ateis tersebut saat ini merupakan pemasok daging sapi halal terbesar ke negara-negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Dari Asia terdapat negara Tiongkok yang merupakan raksasa ekonomi dunia, saat ini tercatat sebagai eksportir pakaian terbesar ke timur tengah dengan nilai transaksi yang mencapai USD 28 miliar. Makanya tak heran bila kita berbelanja oleh-oleh saat menunaikan ibadah haji di Arab Saudi, kita akan menemukan berbagai produk buatan Tiongkok seperti sajadah, peci, dan lainnya. Negara Asia lainnya yang juga serius mengembangkan industri halal khususnya pariwisata adalah Korea Selatan. Negeri ginseng tersebut telah menargetkan diri menjadi tujuan utama wisata halal di dunia.

Tak ketinggalan Jepang juga menyatakan bahwa industri halal akan menjadi kontributor utama ekonomi Jepang pada 2020. Negara tetangga Indonesia, Thailand juga memiliki visi untuk menjadi halal kitchen di dunia. Sementara dari negara barat, London telah mencanangkan diri untuk menjadi pusat Islamic Finance di kawasan barat. Melihat data dan fakta serta visi negara-negara non muslim tersebut, timbul pertanyaan; bagaimana dengan strategi, visi dan peran Indonesia sebagai negara dengan populitas muslim terbesar di dunia dalam peta industri halal di dunia?

Saat ini memang posisi Indonesia dalam industri halal masih belum memuaskan. Indonesia masih hanya sebagai pasar besar, bukanlah menjadi pemain/produsen. Data dari Global Islamic Economy Indicator Report 2016/2017 dan 2017/2018 menunjukkan bahwa Indonesia masuk sebagai 10 besar dalam industri halal, namun sayangnya bukan sebagai produsen, melainkan konsumen. Dari sisi negara dengan pengeluaran (expenditure) terbesar dalam industri halal, Indonesia menempati peringkat 1 untuk halal food, peringkat 4 untuk halal pharmacy dan kosmetik, peringkat 5 dalam hal halal travel dan halal fashion, serta peringkat 10 dari sektor Islamic Finance. Sementara bila dilihat dari sisi sebagai player (produsen), Indonesia hanya tercatat menduduki peringkat 8 di sektor halal pharmacy dan kosmetik, serta peringkat 10 di sektor Islamic Finance.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help