Opini

Mahasiswa Cerdas

KASUS prostitusi online yang terungkap beberapa waktu lalu melibatkan mahasiswa

Mahasiswa Cerdas
prostitusi online

Kenakalan mahasiswa baik berupa praktik prostitusi maupun praktik penipuan, tidak lantas bermakna kampus di Aceh telah kehilangan fungsinya. Sejak didirikan sampai sekarang, kampus masih menjalankan fungsinya sebagai tempat mendidik generasi agar dewasa dalam berpikir, berpengetahuan dan beretika. Tidak ada satu pun kampus yang mengajari mahasiswa untuk berprilaku hedonis maupun materialis. Sebab, kedua sikap tersebut bukan hanya bertentangan dengan agama, melainkan merusak nilai budaya bangsa (Koentjaraningrat, 1982).

Mahasiswa sejatinya mampu memaknai posisinya sebagai generasi penerus bagi masa depan Aceh. Baik tidaknya Aceh ke depan tergantung dari apa yang mereka tanam hari ini sebagai bekal masa depan. Orang Arab mengatakan man yazra’ yahshul. Siapa yang menanam akan menuai. Apabila mahasiswa menanam hedonisme, masa depan Aceh akan hedonis. Demikian pula jika mahasiswa menanam pengetahuan dalam dirinya, niscaya peradaban Aceh masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang telah hilang akan kembali di masa depan.

Sembilan kecerdasan
Setidaknya, ada sembilan kecerdasan yang harus dimiliki mahasiswa agar terhindar dari prilaku negatif seperti prostitusi dan menipu. Merujuk Mac Gilchist, et al (2004), kesembilan kecerdasan tersebut adalah: Pertama, kecerdasan etika. Kecerdasan ini menjunjung tinggi kebenaran, adil, hormat kepada orang lain dan bertanggung jawab; Kedua, kecerdasan spiritual. Ia berupa mencari makna hidup hakiki, berakhlak mulia termasuk iman dan takwa; Ketiga, kecerdasan kontekstual yaitu memahami lingkungan lokal, regional, nasional dan global;

Keempat, kecerdasan operasional berpikir strategis, mengembangkan perencanaan, mengatur manajemen, dan mendistribusikan kepemimpinan; Kelima, kecerdasan emosional: mengenal diri sendiri, mengenal diri orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan mengembangkan kepribadian. Jika merujuk pada hadis siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal penciptanya; Keenam, kecerdasan kolegal; komitmen terhadap tujuan bersama, mengetahui kreasi, pembelajaran multilevel dan membangun kepercayaan;

Ketujuh, kecerdasan reflektif: menyediakan waktu untuk refleksi, evaluasi diri, mempelajari secara mendalam, dan menerima umpan balik untuk perbaikan; Kedelapan, kecerdasan pedagogik: memantau dan menilai setiap kebijakan yang diberikan dalam pengambilan keputusan sebagai penyelenggaraan pendidikan Nasional, dan; Kesembilan, kecerdasan sistematik: memberi contoh model mental, berpikir sistem, mengorganisasi diri sendiri, dan mengefektifkan jaringan kerja.

Selain sembilan kecerdasan di atas, mahasiswa dituntut juga untuk memiliki lifeskill agar terhindar dari pengaruh negatif lifestyle. Lifeskill merupakan salah satu solusi dalam memecahkan masalah hidup manusia. Lifeskill memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari sekadar keterampilan bekerja, tetapi juga termasuk keterampilan mengelola diri, berpikir dan bersikap.

Oleh karena itu, orang yang bekerja maupun tidak bekerja membutuhkan lifeskill. Bahkan ibu rumah tangga misalnya tetap memerlukan kecakapan hidup sehingga mampu mengelola dan memecahkan persoalan rumah tangganya dengan benar (Hasan Basri dan Ahmad Zaki Husaini, 2017). Seperti halnya orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan. Lifeskill juga berguna mengubah dari konsumer menjadi produser.

Tim Broad Based Education memberikan lingkup kecakapan hidup menjadi lima macam yaitu; kecakapan mengenal diri (self awarness), kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan vokasional (vocational skill).

Mahasiswa yang cerdas setidaknya memiliki kecerdasan dan lifeskill sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Hal ini diperlukan agar mahasiswa tidak tergilas oleh pengaruh negatif westernisasi yang merupakan epidemi yang mematikan karateriktik pribadi mahasiswa dan masa depan Aceh. Namun, keteladanan dari pekerja kampus juga penting dilestarikan agar mahasiswa memiliki prototype manusia yang dapat digugu dan ditiru. Semoga!

Lailatussaadah, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: lailamnur27@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved