Liputan eksklusif

Prospek Galus Cukup Menjanjikan

GAYO Lues adalah satu kabupaten di Aceh, hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara dengan dasar hukum

Prospek Galus Cukup Menjanjikan
Muhammad Amru

GAYO Lues adalah satu kabupaten di Aceh, hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 pada 10 April 2002. Gayo Lues yang berpenduduk 89.500 jiwa dengan luas wilayah 5.719 km persegi, berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, yang sebagian besar wilayahnya merupakan areal Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang telah dicanangkan sebagai satu warisan dunia.

“Jadi, hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan wilayah Gayo Lues yang bisa diolah dan dibudidayakan,” kata H Muhammad Amru, Bupati Gayo Lues yang terpilih dalam Pilkada Serentak 2017 lalu.

Berbicara di hadapan peserta field trip bersama Jurnalis Aceh, Komunitas Video Dokumentar dan Bloger, di Kampung Wisata Agusen pada Sabtu (5/5) pekan lalu, Bupati Amru yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Syafruddin dan sejumlah pejabat setempat lainnya, memaparkan berbagai rencana pengembangan kawasan itu menjadi satu destinasi wisata menarik di masa mendatang.

“Kita optimis bahwa sektor pariwisata dengan ragam budaya dan berbagai objek wisata alam yang masih alami, yang dimiliki Gayo Lues, punya prospek yang cukup menjanjikan ke depan,” katanya.

Objek wisata yang kini sedang gencar dipromosikan Pemkab Gayo Lues, antara lain, wisata alam yang sebagian besar masih tergolong alami. Wisata alam ini, menurut Bupati Amru, di samping menyusuri pinggiran hulu sungai yang kiri-kanannya ditumbuhi aneka jenis pepohonan langka termasuk aneka ragam jenis anggrek hujan, juga mendaki gunung dan perbukitan untuk melihat panorama alam yang indah dan wilayah perkampungan penduduk yang bersahaja dari atas. “Saya mendengar ada sekitar 80 jenis anggrek yang tumbuh liar di kawasan hutan pegunungan Gayo Lues,” ujarnya.

Terkait dengan upaya pengembangan pariwisata ini, kata Bupati Amru, pihak juga gencar mempromosikan kopi arabika produksi para petani di Gayo Lues. Belum lama ini, misalnya, atas ajakan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, ia memamerkan kopi Gayo di Turki. “Di luar dugaan, ternyata kopi Gayo termasuk dari Gayo Lues mendapat sambutan yang luar biasa dari para penikmat kopi di luar negeri. “Kopi Gayo, menurut para pecandu kopi memiliki cita rasa unik dengan tingkat kekentalan yang unik pula,” katanya.

Tidak hanya itu, kata Amru, dari segi kualitas kopi Gayo termasuk kopi jenis arabika Gayo Lues, kini diakui sebagai kopi terbaik ketiga di dunia setelah kopi Ethiopia di Afrika dan Brasil di Amerika Latin. “Karena itulah, barangkali, Starbuck yang menguasai hampir sebagian besar pasar kopi dunia, kini juga mengincar kopi Gayo dari Aceh. Hanya saja mereka menyebutnya kopi Sumatera, karena kopi Gayo sendiri sejauh ini belum mampu memenuhi kuota yang mereka butuhkan,” imbuhnya.

Untuk itu, Gubernur Aceh memberikan pekerjaan rumah kepada Pemkab Gayo Lues agar terus mengembangkan dan meningkatkan tanaman kopi hingga 5.000 hektare. Saat ini, menurut Amru, luas area perkebunan kopi di Gayo Lues baru mencapai 4.000 hektare lebih. “Dengan masih tersedianya banyak lahan kosong di Gayo Lues, kita optimis bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, luas area perkebunan kopi sebagaimana dikehendaki Bapak Gubernur bisa kita capai,” ujar Bupati Amru optimis.

Selain wisata kopi, Pemkab Galus kini juga sudah merancang sejumlah event wisata yang diperkirakan bakal menarik minat wisatawan untuk mengunjungi daerah itu. Seperti disampaikan oleh Kadis Pariwisata Gayo Lues, Syafruddin, bertepatan dengan peringatan Hari Saman Sedunia yang jatuh pada 24 November nanti, akan digelar Tari Saman Massal yang melibatkan 15.000 penari. “Ini tentu akan memecahkan rekor jumlah penari terbanyak yang digelar Pemkab Aceh Tengah tahun lalu dengan melibatkan 12.000 penari,” kata Syafruddin.

Selain Saman, yang pada 2012 lalu juga sudah ditetapkan sebagai satu warisan budaya dunia tak benda oleh Unesco, Dinas Pariwisata Gayo Lues telah menyiapkan sejumlah atraksi dan even wisata sepanjang 2018 ini. Sepintas even-eventersebut terlihat tak jauh beda dengan even-even yang digelar daerah-daerah tetangganya di Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Dari segi kesenian, misalnya, selain ada Festival Saman, juga ada tari bines dan didong. “Seperti sering berlangsung di Aceh, kita di Galus juga menggelar pacuan kuda tradisional,” ujar Sayafruddin.

Sebagai satu daerah yang dihuni oleh warga dari beragam suku dan multietnis, seperti suku Gayo, Aceh, Melayu, Tionghoa, Alas, Minang, Batak Toba, Mandailing, Karo, Sunda, Singkil, Pakpak, Devayan dan Jawa, Pemkab Galus juga menggelar berbagai kesenian rakyat yang menggambarkan ragam suku dan multietnik warganya itu. “Untuk even-even seperti ini, kita kerap menggelarnya pada perayaan Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus,” kata Kadis Pariwisata Gayo Lues itu. (asnawi kumar)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help