Ramadhan Mubarak

Marhaban Ya Ramadhan

DARI dua belas bulan di dalam kelender Qamariyah (lunar calendar), Ramadhan merupakan satu-satunya bulan

Marhaban Ya  Ramadhan
Dr. EMK Alidar, S.Ag., M.Hum

Oleh Dr. EMK Alidar, S.Ag., M.Hum, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh. Email: emk.alidar.dsi@gmail.com

DARI dua belas bulan di dalam kelender Qamariyah (lunar calendar), Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang paling dinanti kedatangannya oleh umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya di masa sekarang, penantian datangnya Ramadhan sudah berlangsung sejak awal disyariatkan puasa di bulan ini.

Penyambutan Ramadhan pada masa Rasulullah saw dapat dilihat melalui beberapa cuplikan hadis. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkhutbah kepada para sahabat sambil berkata, “Telah datang kepada kita bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan...” Oleh karena itu, Nabi saw menganjurkan kita untuk bergembira dengan kedatangan Ramadhan. Dalam sebuah hadis yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berbahagia dengan kedatangan Ramadhan, maka jasadnya terlepas dari sentuhan api neraka.”

Menurut hemat penulis, hadis-hadis tersebut berguna sebagai alat penggerak motivasi masyarakat untuk memersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyongsong ketibaan Ramadhan.

Terlebih lagi di dalam hadis yang lebih sahih, Nabi saw mengajarkan sebuah doa untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, yang berbunyi, “Alluhumma bariklana fi Sya`ban wa balighna Ramadhan” (Wahai Allah berkahilah kami di bulan Syakban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan).

Kedatangan bulan agung ini juga disambut gegap gempita oleh masyarakat Muslim di Aceh. Sebagai satu-satunya provinsi yang menjalankan syariat Islam sudah sepatutnya bulan suci dirayakan di Aceh. Perayaan kedatangan Ramadhan ini terlihat jelas dalam aktivitas sehari-hari, yang dalam batas tertentu berbeda dengan di luar bulan Ramadhan.

Di awal Ramadhan, masjid-masjid penuh sesak oleh jamaah shalat. Masyarakat lebih bergairah mengikuti kajian Islam. Para da’i pun disibukkan dengan jadwal ceramah yang padat merayap. Pesantren kilat dapat ditemui di hampir semua institusi pendidikan. Belum lagi dengan kemacetan lalu lintas yang terjadi saban sore hari menjelang waktu berbuka.

Muncul pertanyaan kemudian, apakah Ramadhan hanya sekadar untuk dirayakan? Atau mungkin lebih jauh lagi, Ramadhan juga menuntut kita untuk menghayatinya?

Jika ditelisik lebih jauh, Ramadhan juga sebenarnya menuntut setiap yang merayakannya untuk punya peran lebih dalam, sehingga kedataganya bisa dihayati. Penghayatan terhadap kedatangan Ramadhan tentu dilakukan dengan mejalankan setiap perintah Allah (if‘al) dan menjauhi segala larangannya (wa la taf‘al).

Oleh karena itu, menjadi suatu hal yang keliru jika kedatangan Ramadhan disambut gegap gempita dengan menjalankan setiap “festival keagamaan”, tetapi tidak mampu menghayati substansi dari kedatangan Ramadhan itu sendiri. Sudah sepatutnya penghayatan Ramadhan tidak boleh “kalah gengsi” dari perayaan Ramadhan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help