Pedagang Daging Dipungli

Tim meugang Pemkab Aceh Barat, Selasa (15/5), menemukan praktik pungutan liar (pungli) di lokasi penjualan daging

Pedagang Daging Dipungli
Pedagang daging kerbau dan sapi yang beroperasi di Kompleks Pasar Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR 

MEULABOH - Tim meugang Pemkab Aceh Barat, Selasa (15/5), menemukan praktik pungutan liar (pungli) di lokasi penjualan daging meugang tingkat kabupaten, Jalan Daud Dariyah Bina Usaha Meulaboh. Dengan dalih uang parkir, oknum tertentu ternyata juga mengutip uang kepada pedagang daging sebesar Rp 20 ribu per lapak.

Temuan pungli itu terkuak ketika tim meugang Pemkab beranggotakan sejumlah personel dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak), Badan Pengelolaan dan Keuangan Daerah (BPKD) dan Dinas Perhubungan (Dishub) serta dibantu Satpol PP, TNI, dan Polri turun untuk mengutip uang yang diharuskan dibayar oleh setiap pedagang daging. Tim sempat dipersoalkan oleh pedagang dan dipertanyakan kutipan biaya tambahan oleh orang-orang tertentu di pasar tersebut.

Menindaklanjuti hal itu, tim Pemkab tersebut melakukan rapat koordinasi. Mengingat jumlah lapak/meja mencapai 300, maka uang yang berhasil dihimpun oknum tersebut mencapai jutaan rupiah.

Kasus itu akhirnya diteruskan ke Polres Aceh Barat untuk diselidiki, karena yang mengutip uang tersebut adalah sejumlah orang di pasar setempat. Kasi Keswan dari Disbunnak Aceh Barat Mukhtaruddin yang ditanyai kemarin mengakui bahwa hampir semua pedagang daging yang berjualan di kompleks pasar tersebut memprotes ke tim Pemkab terkait adanya pungutan liar oleh oknum tertentu. “Pedagang itu diminta uang Rp 20 ribu per lapak, sehingga kalau ditotal bisa mencapai jutaan rupiah,” katanya.

Dikatakan, tim Pemkab menemukan itu ketika menurunkan tim untuk mengutip uang sesuai aturan atau Qanun Aceh Barat. Setiap pedagang/lapak daging dibebankan biaya Rp 135 ribu oleh pemerintah dengan rincian untuk meja, biaya pemeriksaan hewan, dan biaya sampah. “Semua biaya yang dikenakan untuk pemasukan daerah,” katanya.

Terhadap adanya kutipan di luar aturan itu, kata Mukhtaruddin, tim Pemkab langsung bermusyawarah dan menyatakan bahwa kutipan tersebut ilegal. Sebab, kata dia, dalam kontrak kerja sama antara Pemkab dengan pengelola parkir, pada hari-hari tertentu tidak boleh dikutip seperti hari meugang, karena uangnya dikutip langsung ke daerah. “Jadi, disepakati untuk diserahkan ke polisi guna pengusutan kasus itu,” katanya.

Ketua tim Sapu Bersih Pungli Aceh Barat Kompol Edy Bagus S yang ditanyai Serambi kemarin mengaku kasus ini belum dilaporkan oleh anggotanya. Namun, pihaknya akan menindaklanjuti untuk diproses sesuai aturan yang berlaku. “Itu bentuk pungli. Akan diselidiki,” kata Edy Bagus yang juga Wakapolres Aceh Barat ini.

Menurutnya, sebelum pelaksanaan meugang sudah duduk tim Pemkab termasuk Saber Pungli bahwa tidak dibenarkan adanya pungutan tidak resmi, karena itu pelanggaran hukum. “Tentu terhadap adanya laporan pungutan liar yang dialami ratusan pedagang daging musiman itu akan ditindaklanjuti,” kata Wakapolres.

Sementara itu, penjualan daging meugang di pusat penjualan daging di Jalan Daud Dariyah II Pasar Bina Usaha Meulaboh, Selasa kemarin, sebesar Rp 18 ribu per kilogram. Namun jelang siang, harga sapi dan kerbau mengalami penurunan secara bertahap menjadi Rp 150 ribu.

Kasi Kesehatan Herwan Disbutanak Aceh Barat Mukharuddin mengatakan, jumlah lapak yang disediakan Pemkab berkisar 200 lebih. Hewan yang akan disembelih terlebih dahulu diperiksa di rumah potong hewan untuk memastikan kesehatannya. “Harga jelang siang turun. Kalau pagi sempat mahal,” katanya.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help