Citizen Reporter

Uniknya Metoda Hafal Quran ala Maroko

MAROKO merupakan salah satu dari sedikit negara yang saat ini menggunakan riwayat Imam Abu Sa’id Utsman

Uniknya Metoda Hafal Quran ala Maroko
ASYRAF MUNTAZHAR

OLEH ASYRAF MUNTAZHAR, alumnus Dayah Insan Qur’ani, Mahasiswa Program Sarjana di Kota Fes, melaporkan dari Maroko

MAROKO merupakan salah satu dari sedikit negara yang saat ini menggunakan riwayat Imam Abu Sa’id Utsman bin Sa’id Al-Mishriy atau Imam Warsy; qiraat Nafi’ sebagai pedoman utama dalam bacaan Alquran. Sebagai informasi, Indonesia dan sebagian negara-negara di dunia pada umumnya memilih riwayat Imam Hafsh bin Sulaiman Al-Kufi atau riwayat Hafsh; qiraat ‘Ashim sebagai pedoman bacaannya.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya karena banyaknya rekaman Alquran yang tersebar dalam bentuk fisik seperti compact disk (CD) atau kaset atau rekaman-rekaman dalam format mp3 yang menggunakan riwayat Hafsh.

Namun, selain perbedaan dalam riwayat bacaan yang menurut kita bacaan seperti itu tergolong unik atau tidak familiar di telinga kita, Maroko masih memiliki keunikan dalam metode menghafal Alquran, khususnya di pondok-pondok khusus menghafal Alquran di Negeri Seribu Benteng ini. Mereka sering menggunakan medium lauhah quraniyyah  atau papan dari kayu atau batu berukuran sekitar 50-60 x 15 centimeter sebagai alat bantu mereka dalam menghafal Quran. Metoda ini, sesuai mediumnya, lebih familiar disebut metode Tahfizh bil-Lauhah.

Lain halnya dengan metode menghafal yang lazim digunakan di pondok-pondok tahfiz di Indonesia terkhusus di Aceh yang kebanyakan mereka membaca nash Alquran dari mushaf secara berulang sampai terhafal, metoda tahfizh bil-lauhah ini justru menuntut santri untuk menulis ayat-ayat yang akan dihafalkan terlebih dahulu di atas lauhah masing-masing menggunakan tinta khusus dan bambu atau kayu sebagi pena dengan jumlah ayat sesuai dengan kemampuan penghafal. Biasanya antara 5-20 ayat untuk kemudian dihafalkan sampai benar-benar teringat dan mudah ketika dilafalkan.

Tentunya penggunaan metode ini dibarengi dengan adanya bantuan pembimbing hafalan atau musyrif. Dalam praktiknya, para santri sebelum mulai menghafalkan ayat-ayat yang telah mereka tulis ke dalam lauhah masing-masing, terlebih dulu akan memeriksakan kesahihan tulisan mereka kepada para musyrif. Kemudian, setelah diperiksa dan dinyatakan benar seluruhnya, barulah mereka akan menghafalkan ayat-ayat Quran langsung dari tulisan mereka masing-masing.

Kelebihan menghafal dengan menggunakan metoda ini ialah, penghafal akan merasa lebih fokus ketimbang membaca langsung dari mushaf. Sangat banyak kejadian ketika para penghafal Quran yang sedang berusaha menghafalkan ayat di suatu halaman, kemudian hilang fokusnya karena memandang ke ayat yang lain. Kemudian tentu saja para penghafal akan lebih mudah mengingat dan membayangkan ayat-ayat yang telah dihafalkan karena mereka sudah menuliskannya lebih dulu sebelum menyetorkan hafalan mereka ke gurunya. Dengan memakai metoda ini dalam menghafal, para penghafal akan merasakan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi, sebab mereka menghafalkan apa yang telah mereka tulis dengan tulisan tangan sendiri.

Tak hanya itu, kelebihan para penghafal Quran yang menghafal menggunakan metoda ini ialah mereka akan dapat menuliskan ayat-ayat Quran yang telah dihafalkannya tanpa sulit untuk membedakan antarhuruf. Kebanyakan para penghafal Quran yang menghafal dengan metoda seperti biasa ditemui akan mengalami sedikit kesulitan ketika harus menuliskan ayat-ayat yang telah dihafalkannya. Sebagai contoh, akan sedikit sulit membedakan bunyi lafaz nun mati di suatu ayat dengan bunyi tanwin yang bertemu dengan huruf-huruf yang menimbulkan dengung, seperti ikhfa’ atau idgham dan sebagainya, ketika kita berusaha menuliskannya tanpa pernah membacanya sekalipun.

Metoda menghafal menggunakan lauhah ini sudah dipakai oleh para penghafal Alquran di Maroko sejak berabad-abad lalu. Mereka mempertahankan cara yang sama dengan para pendahulunya dalam menghafal Quran dengan metode ini. Hanya saja sekarang ini sudah tersedia lauhah yang berbentuk serupa papan tulis, tapi dengan ukuran yang kecil, sehingga mereka tak lagi memakai tinta dan bambu sebagai alat tulis. Cukup dengan spidol yang bisa diisi ulang mereka sudah bisa menerapkan metoda hafalan ini, dengan medium yang jauh lebih ringan dan mudah dipakai. Namun, pondok-pondok tahfiz tradisional di Maroko yang menggunakan lauhah ‘zaman now’ ini sangat jarang ditemui, bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Di Indonesia sendiri, metode tahfiz menggunakan lauhah ini sudah diterapkan sejak bertahun lalu di pondok-pondok tahfiz khusus yang berlokasi di beberapa titik di Pulau Jawa. Namun, disebutkan oleh beberapa sumber, salah satunya rekan kuliah saya yang pernah menghafal dengan metoda lauhah di salah satu pondok tahfiz di Pulau Jawa, tidak banyak orang Indonesia yang sanggup bertahan menggunakan metoda ini untuk menghafal Alquran sampai tuntas kulit ke kulit (cover to cover).

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya adalah minimnya kesabaran dalam menertibkan langkah yang dibutuhkan untuk menghafal mengunakan metoda ini. Namun sejatinya, apa pun metoda yang digunakan, semangat menghafal Alquran harus tetap digalakkan. Tentunya diperlukan juga dukungan kerabat dan sanak saudara, khususnya anak-anak muda, dalam upaya menghafalkan ayat ayat Alquran, karena tak dapat dipungkiri, semangat menghafal Alquran akan bisa membuat berkah suatu negeri. Insyaallah dengan keberadaan para penghafal Alquran di bumi Aceh, nanggroe geutanyoe jeut beuberkah, beubahagia. Amin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help