Ramadhan Mubarak

Merajut Persaudaraan

TANPA terasa, kita sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan agung yang tersimpan sejuta hikmah dan keberkahan

Merajut Persaudaraan
H.M. Daud Pakeh

Oleh H.M. Daud Pakeh, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh

TANPA terasa, kita sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan agung yang tersimpan sejuta hikmah dan keberkahan. Allah janjikan gadaan pahala bagi siapa saja yang beramal saleh, semoga kita semua menjadi manusia yang saleh secara pribadi juga saleh dalam dimensi sosial yang selalu menebarkan kedamaian dan persatuaan dengan tetap menjaga silaturrahmi untuk mengokohkan persaudaraan (ukhuwwah).

Demikian agungnya Ramadhan, sehingga jika direnungi mendalam semua aspek akan terkait di dalamnya dan akan menghasilkan hikmah besar dan luar biasa jika kita mampu mencermatinya secara mendalam. Dalam tulisan singkat ini, akan disinggung bagaimana Ramadhan dengan perintah puasa di dalamnya (QS. al-Baqarah: 183), menjadi spirit luar biasa dalam merajut dan menjaga persaudaraan.

Pertama, ibadah puasa ditujukan kepada orang yang beriman dengan target taqwa. Sebab, hanya orang orang yang beriman dengan ketaqwaan yang tersemat di dadanya yang mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, baik sembunyi ataupun terang-terangan. Satu perintah Allah Swt kepada orang mukmin adalah menjaga persaudaraan dengan menjauhi hal-hal yang dapat merusak ikatan persaudaraan itu sendiri.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar (panggilan) yang buruk, seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.” (QS. al-Hujarat: 11).

Dalam ayat berikutnya Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujarat: 12).

Demikianlah beberapa hal yang sejatinya menjadi perhatian serius kita bersama dalam upaya merajut dan mengokohkan persaudaraan, hal tersebut adalah penyebab rusaknya persaudaraan. Jika persaudaraan telah rusak maka persatuan yang menjadi sumber kekuatan akan hilang dan sirna ditelan keangkuhan dan kesombongan yang pada akhirnya hanya akan menyisakan kehancuran dan penyesalan.

Kedua, satu rukun puasa adalah menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang membatalkannya, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Berpuasa pasti akan lapar dan dahaga, spirit ini diharapkan mampu melahirkan kepekaan sosial yang tinggi, mendorong kita untuk ikut merasakan bagaimana saudara-saudara kita yang setiap hari merasakan lapar dan dahaga. Kepekaan ini diharapkan mampu melahirkan sifat kedermawanan yang diikuti dengan sikap bersedia untuk saling berbagi dalam meringankan beban yang ditimpa kemalangan.

Satu golongan yang dirindukan oleh surga adalah muth’imul ji’an (yang memberi makan orang yang lapar), mereka yang mau meringankan beban saudaranya yang ditimpa kesusahan. Satu amal yang diperintahkan oleh Rasulullah agar ditingkatkan dalam bulan Ramadhan adalah sedekah, “Rasulullah SAW pernah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: ‘Yaitu sedekah di bulan Ramadhan’.” (HR. Tirmidzi).

Dan, ketiga, Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa ada lima hal yang dapat membatalkan pahala puasa yaitu dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. Ini dianjurkan kepada orang yang berpuasa agar dijauhi. Jika tidak, ia hanya mendapatkan lapar dan haus dari puasanya itu. Dalam konteks persaudaraan, dusta, ghibah, adu domba dan hal jelek lainnya merupakan penyebab rusaknya persaudaraan.

Berpuasa adalah satu strategi untuk melatih diri agar menjauhi hal-hal jelek yang dapat merusak persaudaraan serta menghilangkan pahala berpuasa. Jika semua orang yang berpuasa berhasil mempertahankan pahala puasanya, maka persaudaraan akan selalu langgeng, tidak akan ada lagi perseteruan, tidak akan ada lagi pertikaian walaupun kita memiliki perbedaan. Orang yang berpuasa akan sunyi mulutnya dari memfitnah, menebar kebencian, menghasut dan mengadu domba, sebab itu adalah perusak ukhuwwah.

Fondasi keimanan merupakan landasan persaudaraan yang kuat, sehingga jika ada pertentangan antara orang-orang mukmin, maka tugas orang mukmin lainnya adalah mendamaikan dan memperbaiki kembali hubungan persaudaraan keduanya. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin terhadap sesama mukmin bagaikan satu bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya, lalu Nabi SAW mengeramkan jari-jarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks bernegara dan berbangsa, maka semangat wathaniyah (kebangsaan) menjadi salah satu modal dalam merajut persaudaraan. Kita sama-sama berkepentingan untuk saling bahu membahu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebab semangat kebangsaan menjadi modal besar bagi kita untuk bersaudara.

Akhirnya, marilah sama-sama menjaga persaudaraan dengan meningkatkan hubungan silaturrahmi. Menjaga silaturrahmi menjadi prioritas dalam kehidupan, ini sesuai dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh muttafaqun ‘alaih, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya) hendaknya ia menyambung silaturrahmi.”

Dinamika dalam hidup ini tidak dapat dihindari, tetapi janganlah itu semua menjadi penyebab hilangnya persaudaraan dan persatuan. Jika diibaratkan, persaudaraan adalah “rajutan” yang berfungsi untuk memperindah dan mengokohkan. Rajutan itu tidak hadir begitu saja, ia harus dipola, dirias dan dirajut agar tampil indah dan mengokohkan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help