Home »

Opini

Opini

Harkitnas dan Cinta Produk Anak Negeri

PANGLIMA Jenderal Sudirman (1916-1950) beberapa puluh tahun silam menyampaikan hal tersebut, guna mengobarkan semangat bela negara

Harkitnas dan Cinta Produk Anak Negeri
KOLASE/SERAMBINEWS.COM
Kerajinan industri rumah tangga di Aceh Utara hasil binaan AKBP Untung Sangaji. 

Oleh Yusniar

“Tidak akan menang tanpa adanya kekuatan, tidak akan ada kekuatan tanpa adanya persatuan.” (Jenderal Sudirman)

PANGLIMA Jenderal Sudirman (1916-1950) beberapa puluh tahun silam menyampaikan hal tersebut, guna mengobarkan semangat bela negara. Hari ini sepatutnya kalimat tersebut kembali menggelora di dalam dada kita, bertepatan dengan peringatan 70 tahun Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Bela negara dalam konteks kekinian, tidak melulu urusan militer. Bela negara justru banyak ditinjau dari berbagai aspek, dari sisi ekonomi misalnya, adalah dengan mencintai dan membeli produk produk dalam negeri.

Meskipun kampanye untuk mencintai produk produk dalam negeri sudah lama digaungkan, namun kenyataan yang terjadi saat ini adalah kegemaran masyarakat Indonesia terhadap barang barang impor semakin memprihatinkan. Keadaan ini ditandai oleh kecenderungan masyarakat yang lebih senang menggunakan barang-barang asing ketimbang produk dalam negeri.

Hal tersebut juga didukung oleh data perkembangan impor menurut golongan barang periode 2011-2017, kegiatan impor yang mengalami peningkatan pada barang konsumsi pada 2015 sebesar 5.422,8, meningkat menjadi 6.158,7 pada 2017. Untuk sektor nonmigas, dalam Triwulan I 2011 impor tumbuh 27,2%, antara lain didorong oleh pertumbuhan impor kelompok barang konsumsi yang mencapai 40%, khususnya impor kelompok komoditas makanan dan minuman (primer dan yang diproses) untuk rumah tangga yang tumbuh 67,3%.

Dari data terakhir pada November 2015, nilai ekspor Indonesia pada komoditas nonmigas mencapai 11.111,23 juta dolar AS, sedangkan untuk nilai impor mencapai 11.519,47 juta dolar. Pada Desember 2016 nilai ekspor mengalami peningkatan menjadi 11.916,07 juta dolar dan nilai impor juga mengalami peningkatan menjadi 12.007,30 juta dolar AS (Kemendag, 2017).

Tidak berdikari
Peningkatan nilai impor tentu dapat berimbas pada negara sekaligus berpengaruh pada perekonomian daerah. Kurangnya permintaan terhadap produk lokal menyebabkan lesunya aktivitas bisnis lokal. Apabila tidak segera ditangani oleh pemerintah daerah, maka pengangguran akan terus bertambah dan masyarakat cenderung memilih menjadi pelanggan ketimbang menjadi produsen, sehingga dalam jangka waktu panjang membuat negara tidak berdikari secara ekonomi.

Menyingkapi rasa mencintai produk dalam negeri, pada konteks ini, setidaknya terdapat dua sisi, yaitu produsen dan konsumen. Jika kita berada pada sisi produsen, maka cinta produk dalam negeri yang dimaksud adalah berkomitmen membangun kualitas produk yang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Produk yang dihasilkan mestilah yang terbaik, bukan malah produk nomor dua, sementara produk yang kelas nomor satu justru diperdagangkan keluar negeri.

Situasi ini ditandai dengan observasi awal dengan metode survei pada 150 responden yang berdomisili di Banda Aceh. Sebanyak 70% responden menyatakan bahwa kurangnya minat membeli produk dalam negeri adalah karena rendahnya kualitas produk yang dihasilkan dan 30% disebabkan kurangnya rasa bangga dalam menggunakan produk tersebut. Dari sisi produsen sebanyak 20 orang responden yang terdiri dari pengrajin usaha menyatakan bahwa pada dasarnya pengrajin bukan tidak mampu menghasilkan produk terbaiknya.

Namun lebih memilih menjual produk yang dihasilkan keluar negeri dengan pertimbangan hasil yang lebih menjanjikan dan sebanyak 30% menyatakan kurangnya modal usaha yang menghambat kreativitas pengrajin dalam menciptakan produk dalam negeri. Meskipun dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam, namun hal ini dapat menjadi acuan bahwa kondisi seperti inilah yang menjadi masalah sehingga menjadi tantangan untuk diselesaikan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help