Ramadhan Mubarak

Komunikasi tanpa Menyakiti

SEBAGIAN orang merasakan suasana Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya

Komunikasi tanpa Menyakiti
Marwan Nusuf Ilyas, B.HSc, MA, Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Aceh

Oleh Marwan Nusuf Ilyas, B.HSc, MA, Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Aceh. Email: marwann71@gmail.com

SEBAGIAN orang merasakan suasana Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, karena tidak ada lagi orang-orang tersayang, sahabat maupun kerabat di sekelilingnya yang sudah duluan dipanggil menghadap Allah Swt yang pada Ramadhan lalu masih sempat makan sahur, shalat tarawih dan buka puasa bersama. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dia akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Karenanya, manfaatkan momentum mulia ini untuk saling menghormati dan menasehati melalui penyampaian informasi yang membuat orang lain gembira ketika mendengar atau membacanya.

Fenomena zaman sekarang atau istilah gaulnya zaman now adalah sering beredarnya berita hoax (berita bohong) yang menyebar begitu cepat melalui media sosial. Dalam kehidupan masyarakat Aceh sering terdengar kalimat, raya that ok droeneuh (banyak kali bohong anda) atau proh ok (omong kosong).

Sebenarnya hoax sudah ada sejak zaman Rasulullah, efeknya sangat besar. Satu contoh orang munafik yang menyebarkan berita hoax adalah Abdullah bin Ubay bin Salul yang memfitnah Siti Aisyah ra telah berselingkuh dengan Shafwan. Berita ini beredar begitu cepat dari mulut ke mulut, sehingga menimbulkan kegoncangan informasi di kalangan kaum muslimin ketika itu.

Bahkan, Rasululah Saw menunjukkan perubahan sikapnya terhadap Siti Aisyah ra, sehingga menyebabkan Aisyah jatuh sakit. Sampai-sampai Aisyah mengatakan, saat itu yang membuatku bingung, aku tidak melihat kelembutan dari Nabi saw, seperti biasa aku lihat ketika aku sakit. “Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya, bagaimana keadaanmu, kemudian pergi,” kata Siti Aisyah.

Iklim fitnah tersebut berlangsung sekitar satu bulan lamanya dan selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Akhirnya, Allah Swt mengabarkan berita gembira kepada Nabi saw, menegaskan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11).

Setelah ayat itu turun, keadaan kaum muslimin waktu itu kembali normal, bahkan semakin membaik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Sementara di akhir hayat Abdullah bin Ubay, anaknya datang menemui Rasulullah saw, meminta satu kain Rasulullah saw untuk dijadikan sebagai kafan bagi Abdullah bin Ubay dan sekaligus meminta Rasulullah menshalatinya.

Rasulullah saw mengabulkan permintaan itu. Namun, ketika Rasulullah berdiri hendak menshalatinya, Umar bin Khattab ra menarik beliau dari belakang dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau akan menshalatinya? Bukankah Allah melarangmu untuk melakukan itu? Rasulullah menjawab: Sesungguhnya Allah Swt memberikan kepadaku dua pilihan, kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).”

Allah Swt berfirman, “Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah: 80).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved