Ramadhan Mubarak

Puasa sebagai Spirit Perubahan

DALAM dimensi fikih, puasa Ramadhan dipahami sebagai amalan dalam rangka menahan diri; baik menahan makan

Puasa sebagai Spirit Perubahan
H. Usamah El-Madny, S.Ag, MM. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh

Oleh H. Usamah El-Madny, S.Ag, MM. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Email: usamahelmadny@gmail.com

DALAM dimensi fikih, puasa Ramadhan dipahami sebagai amalan dalam rangka menahan diri; baik menahan makan, minum, bicara buruk, dan perbuatan yang bertentangan ajaran agama. Hal itu dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Puasa tak hanya menjadi ritual tahunan yang berlangsung pada bulan Ramadhan dengan mengikuti aturan-aturan fikih yang ada, melainkan harus mendapatkan makna dari dimensi lain yang lebih transformatif. Dengan kata lain, harus ada hikmah positif-konstruktif yang diambil dalam setiap even Ramadhan, yang selanjutnya diinternalisasikan dalam kehidupan personal dan komunitas.

Internalisasi nilai-nilai hikmah puasa Ramadhan tersebut, selanjutnya akan berkonstribusi bagi proses transformasi ke arah yang lebih baik dan berkualitas di tengah-tengah komunitas yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Pada hakikatnya puasa Ramadhan melatih kita untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istiqamah, serta menerapkan pola hidup selektif. Ini diharapkan terus berlanjut secara berkesinambungan pada bulan-bulan berikutnya di luar Ramadhan.

Dengan demikian, di samping sebagai ibadah habl min Allah, pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, sepanjang bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah sosial secara paralel. Dengan demikian, ada keseimbangan antara upaya seseorang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus mengasah kepekaan sosial kepada sesama.

Puasa dalam dimensi sosial mengajarkan kita untuk merasakan --lebih peka-- terhadap kaum mustad’afin (fakir-miskin) yang selama ini termarjinalkan oleh struktur kapitalisme yang menindas. Secara sosial, puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan.

Oleh karenanya, puasa mengajarkan kepada kita tentang makna solidaritas berupa sikap saling percaya; menumbuhkan sikap empati dalam bentuk ikut merasakan lapar yang biasa dialami orang-orang miskin; mendorong gerakan bersedekah; serta berdisiplin, yakni berbuka menurut urutan waktu yang telah ditentukan (berpikir dan bertindak sistematis).

Nilai-nilai tersebut, pada dasarnya, merupakan pilar-pilar yang menopang kokohnya masyarakat. Sejumlah ilmuwan seperti Francis Fukuyama (ilmuwan politik, ekonom politik, dan penulis Amerika Serikat) dan Robert Putnam (seorang ilmuwan politik dan kebijakan publik di Harvard University John F Kennedy School of Government), menyebut nilai-nilai itu sebagai social capital atau modal sosial yang dapat menumbuhkan perilaku-perilaku masyarakat yang menunjang kesinambungan dan stabilitas.

Maka dengan kerangka spritualitas puasa Ramadhan yang demikian, dalam konteks Aceh hari ini, pelaksanaan ibadah puasa yang imanan waahtisaban akan berkonstribusi dominan bagi ikhtiar mewujudkan “Aceh Hebat” yang kita cita-citakan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved