Opini

Ramadhan Momentum Mendidik Kejujuran

JUJUR atau kejujuran adalah sesuatu yang abstrak. Tidak ada seorang pun di dunia ini mampu mendeteksi kejujuran

Ramadhan Momentum Mendidik Kejujuran
Umat Islam melaksanakan shalat tarawih pada malam pertama buan suci Ramadhan 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu (16/5/2018). SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Bismi Khalidin

JUJUR atau kejujuran adalah sesuatu yang abstrak. Tidak ada seorang pun di dunia ini mampu mendeteksi kejujuran atau ketidakjujuran orang lain, meskipun dengan alat detektor yang super canggih sekalipun. Trust detector yang sering digunakan hanya mampu melihat dari sikap fisik atau respons anggota tubuh secara lahiriah saja, yang mungkin ada benarnya, tetapi tidak mampu mendetekti kejujuran yang sesungguhnya. Bakteri atau kuman yang sangat kecil dapat dilihat dengan menggunakan microskop elektron atau alat yang lebih canggih, namun kejujuran seseorang tidak akan mampu diketahui, hanya Allah Swt dan manusia itu sendirilah yang mengetahui.

Sejarah telah membuktikan bahwa rusak atau hancurnya sebuah peradaban manusia dimulai dengan terkikisnya nilai-nilai moral, terutama sikap amanah atau nilai-nilai kejujuran. Sebuah rumah tangga akan tercerai-berai apabila suami isteri di dalamnya tidak lagi amanah, suami tidak lagi jujur pada istri atau sebaliknya istri tidak lagi memegang amanah suami. Sebuah perusahaan atau lembaga, meskipun mempunyai modal yang besar, akan bangkrut dan berantakan apabila para manager atau stafnya tidak lagi memiliki sikap amanah.

Misalnya, WorldCom, sebuah perusahaan telekomonikasi terbesar di dunia berkedudukan di Amerika Serikat, bangkrut karena ketidakjujuran CEO nya, Bernard Ebbers. Dia membuat laporan keuangan palsu akibatnya puluhan ribu perkerja harus kehilangan pekerjaan. Begitu juga sebuah Bank Investasi terkenal di AS, Lehman Brothers yang mempunyai aset lebih dari 600 miliar dollar, harus gulung tikar alias bangkrut karena persekongkolan CEO dan auditornya Ernst & Young.

Sikap jujur dan amanah adalah modal utama dalam segala aspek hidup dan kehidupan manusia. Rasulullah saw sangat menekankan bahwa umatnya harus bersikap jujur dan amanah, bahkan dalam sebuah hadis, Beliau menyatakan “Pendusta (tidak jujur) bukan termasuk umatku”. Bagi Islam, nilai manusia tidak terletak pada harta dan kekayaan yang dimiliki, tidak pada pangkat dan jabatan yang diduduki, tidak pula pada ketampanan atau kecantikan wajahnya, tetapi nilai dan harga seseorang manusia terletak pada sikap moral yang dimiliki, seperti jujur dan amanah.

‘Tazkiyatun nafsi’
Dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu (karangan Syech Wahbah Zuhaili) disebutkan bahwa hikmah dari puasa adalah tazkiyatun nafsi, istilah lain penyucian jiwa atau hati. Seseorang mukmin apabila berpuasa dengan sungguh-sungguh sebagaimana tuntunan Rasulullah saw, maka jiwa dan hatinya akan bersih. Dengan sucinya jiwa dan bersihnya hati, maka sifat-sifat mulia secara otomatis akan hinggap pada orang tersebut, sehingga terpatri pada prilaku mulia dalam kesehariannya, dan pada akhirnya mendapat predikat muttaqin atau orang-orang yang bertakwa.

Diantara sikap mulia yang sangat penting dibentuk oleh Ramadhan adalah jujur atau amanah. Ulama tasawwuf mengatakan bahwa jujur atau amanah adalah suatu sikap mental yang ada pada seseorang mukmin apabila orang tersebut dekat atau merasa dekat dengan Sang Khalik, Allah Swt. Tingkat kejujuran seseorang berkorelasi positif dengan tingkat kedekatannya dengan Allah Swt. Atau dengan kata lain, semakin seseorang itu dekat atau merasa dekat dengan Allah SWT, maka semakin tinggi pula tingkat kejujurannya, begitu juga sebaliknya, apabila seseorang jauh dengan Allah SWT maka semakin rendah pula tingkat kejujurannya.

Satu media mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah puasa Ramadhan. Puasa adalah cerminan keimanan dan kedekatan seseorang hamba dengan Sang Khalik. Berbeda halnya dengan ibadah lain, ibadah puasa hanya diketahui oleh Allah Swt dan yang berpuasa itu sendiri. Seseorang boleh saja tidak berpuasa tetapi bersikap seperti orang yang berpuasa, tidak ada yang mengetahui, tidak satu orang pun dapat mendeteksi, hanyalah Allah Swt sajalah yang mengetahui sebenarnya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt berfirman, “bahwa segala ibadah yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mereka sendiri, kecuali puasa, puasa adalah untuk-Ku, Akulah yang membalasnya.”

Apabila dilihat lebih mendalam, secara fisik puasa itu sangat berat, karena seseorang tidak makan dan minum, harus menahan lapar dan dahaga, tetapi sanggup dilakukan. Padahal apabila dilihat, kapanpun, dimanapun seseorang bisa makan atau minum apabila mau, bahkan sambil berwudhuk pun bisa meneguk air, tidak ada yang melihat dan mengetahui. Tetapi, tidak dilakukan. Pertanyaanya, mengapa tidak dilakukan, padahal banyak kesempatan memungkinkan? Jawabannya adalah karena manusia merasa bahwa Allah SWT, Sang Khalik, melihat dan mengetahuinya.

Pola pikir seperti inilah sebenarnya yang dididik oleh puasa Ramadhan. Prilaku atau sikap merasa bahwa seseorang hamba selalu dipantau oleh Sang Khalik adalah pelajaran terpenting dari puasa Ramadhan, khususnya dalam membentuk pribadi jujur dan amanah. Apabila seseorang meyakini bahwa Allah Swt mengetahui apa yang dikerjakannya, di mana pun, kapan pun atau dengan apa pun, maka benih-benih kejujuran sudah mulai tersemai dalam jiwanya. Semakin dia yakin bahwa Allah Swt mengetahui apa yang dikerjakan maka semakin tinggi pula tingkat kejujurannya.

Modal pembangunan
Robert Solow, profesor ekonomi dari Universitas Harvard, mengatakan bahwa ada tiga penentu dalam sebuah pembangunan ekonomi, yaitu manusia, modal dan teknologi. Konsep ini dikenal dengan The Solow Economic Growth Model dan dengan teori ini dia memenangkan hadiah Nobel Ekonomi pada 1987. Teori ini menunjukkan pentingnya peran manusia dalam pembangunan ekonomi. Manusia adalah faktor utama penentu keberhasilan pembangunan, perannya itu tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga segi kualitas.

Islam memandang bahwa peranan manusia dari segi kualitas tidak hanya dilihat dari aspek karakter kinerja saja, tetapi juga dari karakter moral. Di antara karakter moral adalah jiwa amanah atau dengan kata lain prilaku jujur. Seseorang yang diberikan tugas menjalankan pembangunan baik dalam skala besar atau kecil harus mempunyai jiwa amanah atau nilai-nilai kejujuran. Karakter kinerja seseorang agen pembangunan seperti kerja keras, cerdas dan lain-lain, di samping juga modal yang besar adalah penting. Namun, karakter moral seerti jiwa amanah dan jujur, jauh lebih penting dari semua itu.

Pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan dalam sebuah negara sangat ditentukan oleh sikap amanah dan prilaku jujur dari pemimpinnya. Pembangunan akan sulit dijalankan apabila tidak memiliki orang-orang terampil, cerdas dan berwawasan global. Tetapi itu tidak ada jaminan akan keberlangsungan pembangunan tersebut apabila mereka itu bukan orang-orang yang jujur dan amanah. Krisis-krisis ekonomi, kemiskinan atau lain-lain baik yang terjadi di Indonesia atau negara-negara lain, penyebabnya bukan karena karakter kinerja yang kurang, tetapi semata-mata karena pelaku-pelaku pembangunan itu sendiri yang tidak jujur dan amanah.

Kegiatan pembangunan sangat membutuhkan moral kejujuran yang tinggi, dan tidak hanya itu, segala aspek hidup dan kehidupan termasuk dalam rumah tangga, bermasyarakat sangat dituntut jiwa dan sikap amanah. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kita hidayah dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan ini, sehingga dengan ibadah tersebut dapat meningkatkan kualitas pribadi kita sebagai orang yang jujur dan amanah. Amiin ya Rabbal alamin.

* Dr. Bismi Khalidin, Dosen Ekonomi dan Keuangan Syariah/Ketua Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES), Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: bkhalidin_uin.arraniry@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved