Menguak Rahasia Kesegaran Cincau

DIKENAL sebagai pelepas dahaga, cincau menjadi salah satu takjil yang banyak disukai

Menguak Rahasia Kesegaran Cincau

DIKENAL sebagai pelepas dahaga, cincau menjadi salah satu takjil yang banyak disukai. Tak heran, kesegaran si kenyal hitam ini membuatnya acara berbuka puasa tambah lengkap. Disajikan sebagai campuran minuman atau dihidangkan utuh, keduanya sama nikmat. Ya, citarasa cincau memang sudah akrab di lidah.

Seiring meningkatnya minat pembeli, produksi cincau pun ikut naik. Seperti pemandangan yang terlihat di Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (24/5). Aroma cincau yang sedang dimasak meruap menebar wangi khas.

Sedari lepas subuh, enam pekerja mulai berkutat dengan bahan minuman yang memakai bahan utama daun tersebut. Mereka bekerja hingga malam, sembari menanti pedagang grosiran atau mengantarkan cincau siap konsumsi kepada pelanggan.

“Kalau bulan puasa memang lebih banyak diproduksi. Bisa seribuan kaleng (loyang). Lebih tinggi daripada hari-hari biasa memang,” terang salah seorang pekerja Cincau Cap Bintang, Gunawan.

Gunawan yang sudah menjadi pekerja sejak 2013 itu menjelaskan, bahan baku berupa daun cincau didatangkan dari Sumatera Barat dan Jawa Barat. Sebulan menjelang Ramadhan, berton-ton daun cincau yang sudah di press tersedia di gudang. Selain cincau, ditambahkan juga tepung kanji, air, dan soda.

Daun cincau mula-mula direbus bersama soda. Soda berguna untuk menghancurkan tekstur daun karena yang digunakan adalah dua tipe cincau yaitu cincau daun dan cincau ranting. Sedangkan tepung kanji berfungsi untuk membuat tekstur cincau kenyal.

Serambi menyaksikan dapur produksi cincau yang mengepul meruapkan aroma khas. Drum-drum alumanium yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa berjejer di tepi dinding. Di sela-sela terdapat peralatan lainnya berupa drum plastik dan saringan.

Di pojok kiri dan kanan cetakan berupa loyang alumanium persegi empat menggunung, di kedua sisi mengapit ruangan. Di sampingnya teronggok cetakan yang baru dipakai maupun cetakan berisi cincau yang sedang diangin-anginkan. Di luar dapur yang tak seberapa luasnya itu, sebuah mobil pick up sedang sibuk memuat loyang-loyang cincau yang akan dipasarkan ke Sigli, Pidie.

Gunawan menuturkan. proses perebusan itu memakan waktu hingga sejam untuk kemudian disaring dan dicampur bersama tepung kanji dalam wadah terpisah. Memasaknya menggunakan drum dengan bahan bakar gas.

Selama proses perebusan, daun cincau diaduk-aduk, sedangkan saat menjadi adonan dimasukkan ke dalam drum terpisah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai baling-baling pada mixer yang membuat adonan tercampur sempurna.

Dimasak kembali selama sekietakan. Untuk kemudian didiamkan selama 1-2 jam hingga mengeras dan siap dikonsumsi. Begitulah proses panjang pengolahan cincau sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Cincau Cap Bintang dilepas seharga Rp 18 ribu ke penjual. Cincau ini dengan mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional di Banda Aceh. Sebut saja Pasar Peunayong dan Ulee Kareng. Bahan minuman ini bisa berumur hingga sepekan jika disimpan dalam kulkas atau tahan tiga hari dalam suhu ruang. Reguk kesegarannya dan rasakan manfaat cincau, si hitam kenyal peneman khas berbuka.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help