Menunggu Janji yang tak Kunjung Tiba

HIDUP ini pedih Tuan......! Kalimat tersebut tampaknya menyatu benar dengan fenomena kehidupan sebuah keluarga termiskin

Menunggu Janji yang tak Kunjung Tiba
MUKHTAR Ahmad (45) warga miskin penduduk Gampong Blang Baro-Cubo Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya tinggal bersama seorang isteri dan dua anaknya di gubuk reot.SERAMBI/ABDULLA GANI 

HIDUP ini pedih Tuan......! Kalimat tersebut tampaknya menyatu benar dengan fenomena kehidupan sebuah keluarga termiskin di Kemukiman Cubo Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya. Adalah, Mukhtar Ahmad (45) dan isterinya Ernawati (35) beserta dua orang anaknya yang masih belia warga Gampong Blang Baro. Tinggal di gubuk reot, berdinding batang rumbia dan beratap daun nipah. Kala hujan, jangankan bisa tidur berdiri pun basah kuyup. Sedih memang, tapi begitulah kenyataan.

Rumah berlantai tanah ukuran 5x4 meter yang sudah lapuk dimakan usia itu letaknya di pinggiran jalan kabupaten atau kurang lebih dua kilometer dari persimpangan Keude Paru lintas jalan Nasional Banda Aceh-Medan. Jika Anda ke Makam Tgk Abdullah Syafii, Panglima GAM di Desa Blang Sukon, dalam perjalanan pasti menemui rumah keluarga tersebut. Letaknya persis depan meunasah desa setempat.

Sehari-hari keluarga miskin ini hanya mengantungkan hidup sebagai pencari upah. Salah satunya adalah mencari upah membelah pinang yang digeluti setiap hari ia bersama isterinya.

Dalam wawancara dengan Serambi di kediamannya, Sabtu (26/5), Mukhtar mengisahkan perihnya perjalanan hidup yang sepertinya tiada bertepi. Dikisahkan, kendati tampak ceria dan wajah seakan tak ada beban hidup sedikit pun, tapi hari-hari dilaluinya dengan ratapan batin. Begitu fajar menyingsing, hati kecilnya berkata, “dimanakah rezeki kami hari ini ya Allah. Untuk bercocok tanam sejengkal pun tanah tak punya. Allah Maha Kuasa, untuk mendapatkan sebambu beras dan setumpuk ikan ada saja rezeki,” sebut Mukhtar diamini Nazaruddin seorang tetangga.

Kondisi rumahnya yang demikian, lanjut ayah dua anak ini, ia kerap mendapat angin segar dari orang-orang yang terkadang sama sekali tidak diketahuinya dari mana datang termasuk juga dari perangkat gampong. Hatinya lega dan senang karena tak lama lagi akan mendapatkan rumah bantuan. Mukhtar dan isterinya bertambah yakin, menyusul dimintanya foto copi kartu keluarga (KK) serta KTP setelah huniannya difoto yang katanya untuk dokumen, bukti rumah itu layak dibangun baru.

Mukhtar mengaku tidak ingat lagi entah berapa kali sudah angin “surga” itu datang kepadanya yang jika dikenang lebih mendalam, bahwa itu tak lebih hanya sandiwara belaka. Buktinya, tahun berganti tahun, namun yang dijanjikan itu tak pernah datang.

Sementara warga lainnya bahkan se-kampung sekali pun yang kondisi rumah masih tergolong layak huni, malah kebagian rezeki dari pemerintah.

Kondisi ekonominya yang morat marit, juga membuat anak pertama yang kini akan menamatkan SD, tak lagi melanjutkan studi. Niat untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang setingkat SMP, kata Ernawati (isteri Mukhtar), tidak mungkin terpenuhi khawatir putus di tengah jalan. Jangankan membiayai dia bersekolah, untuk kebutuhan sehari-hari saja terutama makan, terkadang amat sulit terpenuhi.

Akhirnya, keluarga tersebut memilih pendidikan pada dayah yang menerima anak dari keluarga miskin atau tidak mampu, papar keluarga miskin itu. “Kami tetangga juga tak habis pikir, pemerintah mulai dari tingkat gampong hingga kecamatan seakan tutup mata melihat rumah ini yang seharusnya sangat layak dibangun baru, tapi luput dari perhatian,” kata seorang warga.

Warga Cubo lainnya juga mengaku heran rumah yang sudah begitu kondisinya, tapi tak masuk dalam daftar jatah bantuan rumah. “Camat pun tidak melakukan kroscek secara acak terhadap usulan rumah dari tingkat gampong. Sehingga begini kondisi di lapangan. Yang berhak dilupakan tapi yang dekat dengan “api” terus tersambar begitu diusulkan,” ujar warga.

Lebih herannya lagi, Bupati Pidie Jaya, H Aiyub Abbas yang rumahnya di Gampong Kayee Jatoue-Cubo (tetangga Blang Baro), kalau pun tak mau disebut setiap hari lalu lalang, tapi sepekan sekali pasti melewati jalan pinggiran rumah warga miskin ini. “Yang jadi pertanyaan, apakah orang nomor satu di Pijay ini memang sengaja tak peduli atau “tutup” mata dengan kondisi rumah tersebut. Padahal Pemkab sering berucap bahwa mereka sangat peduli pada warga miskin,” timpalnya.(abdullah gani)

Editor: bakri
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help