Ramadhan Mubarak

Meraup Kebaikan

SATU satu bentuk cinta Allah Swt masih diberikan kesempatan ibadah yang tidak dianugerahi kepada umat sebelumnya

Meraup Kebaikan
Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga)

Oleh Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga) Ketua Peutuha Peut Wali Nanggroe Aceh dan Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga

SATU satu bentuk cinta Allah Swt masih diberikan kesempatan ibadah yang tidak dianugerahi kepada umat sebelumnya, antara lain bulan suci Ramadhan yang setiap ibadah di dalamnya dilipatgandakan pahala kebaikan. Ramadhan yang diklasifikasikan kepada tiga bagian, yaitu sepuluh awal sebagai rahmat, sepuluh pertengahan sebagai ampunan, dan sepuluh akhir itqum minannar (bebas dari api neraka) menjadi satu bulan yang ditunggu-tunggu kedatangganya. Umat Islam menggantungkan aspirasinya pada bulan ini untuk melakukan amalan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Bukan sebatas ladang memupuk kebaikan, selama Ramadhan berlangsung, Allah Swt juga memberikan kemudahan kepada umat Islam dalam menyemai benih-benih kebaikan dengan diikat para setan yang kerap menjadi ‘parasit’ dalam proses ibadah kita. Dengan kata lain, umat Islam dapat melakukan ibadah Ramadhan dengan tenang dan nyaman, karena setan yang selalu menganggu ibadah kita telah dibatasi geraknya di bulan ini.

Mengenai dibelunggunya setan pada bulan ramadhan telah dijelaskan baginda Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis, “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelunggu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Apabila setan telah diikat, sejatinya tidak ada lagi maksiat di bulan puasa. Begitu logika berpikir yang bisa kita duga, karena memang yang merayu kita bermaksiat sedang disingkirkan sementara waktu? Namun realitas lapangan memperlihatkan hal yang berbanding terbalik, di mana maksiat tetap berjalan di bulan puasa. Lantas, bagaimana kita pahami hadis di atas?

Berbagai pendekatan
Para ulama telah memberikan penjelasan terkait hadis di atas yang tampaknya bertentangan dengan kehidupan sebagian umat Islam di bulan Ramadhan. Di antara ulama yang berkontribusi besar dalam hal ini adalah Imam As-Sindi. Dalam hasyiah-nya terhadap Sunan Imam Nasa-i, Imam As-Sindi menguraikan maksud dibelunggu setan pada bulan Ramadhan.

Menurutnya, ada beberapa hal yang dapat dipahami dari hadis dimaksud. Pertama, menyoal tentang maksiat bukan hanya setan yang menjadi sumbernya, tapi hawa nafsu manusia juga mengambil peran besar di dalamnya. Hadis tentang setan diikat tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu mencuat karena pengaruh jiwa seseorang yang buruk dan jahat. Jika semua maksiat berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan). Sementara kita tahu tidak ada setan yang dapat mendahului maksiat iblis. Sehingga maksiat iblis murni dari dirinya sendiri.

Kedua, Imam Al-Baji dalam al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’ menegaskan bahwa setan benar-benar diikat, tapi dia masih tetap dapat menganganggu aktivitas kita di bulan Ramadhan. Karena makhluk yang dibelunggu hanya diikat tangan dan lehernya saja. Sementara kaki dan lidahnya masih bisa berkarya untuk mengelabui kita dengan membisikkan ide maksiat atau bentuk gangguan lainnya.

Ketiga, sejatinya setan tidak dibelunggu secara hakiki. Hadis di atas hanya sebagai bentuk kiasan, mengingat keberkahan Ramadhan dan banyaknya ampunan Allah Swt untuk hamba-Nya yang membuat setan seperti terbelunggu. Sehingga setan dalam menggoda kita tidak berefek, dan tipu dayanya dalam menyesatkan tidak membahayakan manusia.

Dan, keempat, sebagian ulama berpendapatkan bahwa yang dibelunggu tidak semua jenis setan, hanya setan kelas kakap (maradatul jin) saja yang dikarantina. Sedangkan setan-setan biasa dilepaskan pada bulan Ramadhan. Dan, para setan-setan biasa inilah yang menyebabkan lahir berbagai bentuk maksiat di hari puasa.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved