Opini

Teroris Itu Fakta

BAGI Indonesia, termasuk Aceh sesungguhnya terorisme adalah fakta, bukan ilusi, apalagi sandiwara

Teroris Itu Fakta
Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Tim Densus 88 Anti Teror Polri melihat kondisi terkini di gubuk milik terduga teroris, MR alias Pak Ngah, Kamis (17/5/2018). 

Oleh Mukhlisuddin Ilyas

BAGI Indonesia, termasuk Aceh sesungguhnya terorisme adalah fakta, bukan ilusi, apalagi sandiwara. Sebelum seseorang menjadi bagian dari terorisme, diawali menjadi bagian dari radikalis. Satu unsur dari radikalisme antara lain selalu menyalahkan amaliyah orang lain, suka mem-bid’ah-kan ibadah golongan lain, suka mengafirkan sesama muslim, interaksi/komunikasi sosial ekslusif, dan selalu mendukung organisasi-organisasi ekstrimis.

Pelaku terorisme tidak mengenal usia, agama, profesi, jabatan dan tingkat pendidikan. Semua kita bisa menjadi radikal dan teroris, bila tidak memiliki pengetahuan yang benar. Dominan pelaku terorisme itu banyak belajar agama ketika mulai dewasa melalui internet, media sosial, kelompok pengajian ekslusif, dan berniat untuk “hijrah”.

Terorisme adalah fakta, walau masih terdapat elemen bangsa yang ragu-ragu menyebut itu. Terorisme sebagai sebuah fakta, bisa dilihat dari serangkain aksi teror yang sistemastis dan terencana yang dilakukan sejak Selasa (8/5/2018), yakni kerusuhan di Markas Komando Brigade Mobil (Brimob) Kelapa Dua, Depok.

Awalnya terjadi bentrokan antara personel kepolisian dengan narapidana dan tahanan kasus terorisme. Kemudian disusul pada Kamis (10/5/2018) tengah malam, satu orang anggota satuan intelijen Brimob Bripka Marhum Prencje tewas ditusuk pria mencurigakan di depan RS Brimob. Pada Sabtu (12/5/2018), polisi menangkap dua orang wanita yang diduga akan melakukan aksi penusukan terhadap anggota Brimob.

Berlanjut pada Minggu (13/5/2018) bom meledak di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria di Ngagel, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Ledakan bom Surabaya di tiga gereja menambah panjang catatan fakta aksi terorisme yang terjadi di Tanah Air.

Besoknya, Senin (14/5/2018) Densus 88 dan Polda Sumatera Selatan menangkap dua terduga teroris di Palembang, yang diketahui berniat melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua. Lalu, pada Selasa (15/5/2018), Densus 88 menangkap sejumlah orang terduga teroris di Sumatera Utara, dua di antaranya terpaksa ditembak.

Bukan ilusi
Rentetan aksi-aksi terorisme itu menjadi bagian fakta bahwa terorisme bukanlah ilusi yang tidak perlu diwaspadai. Terorisme itu dekat sekali dengan siapa saja, karena penebar ideologi ekstrem sangat berpengaruh dalam menumbuh kembangkan aksi-aksi jihadis di sekitar mereka. Kelompok ekstremis memiliki daya juang tinggi dalam dokrinisasi, bagi mereka butuh waktu 15 menit saja seseorang bisa tergoda dengan sel-sel terorisme. Aksi terorisme biasanya muncul karena salah dalam memahami pemahaman agama tertentu.

Teroris itu adalah tindakan (action), sebelum menjadi teroris seseorang akan melewati fase radikal terlebih dulu. Radikal itu dibagi dua, yaitu radikal statis dan radikal destruktif. Radikal statis adalah sebuah pemikiran radikal yang lebih bersifat gagasan dan bukan dalam bentuk aksi kekerasan. Semua kita harus berpikir radikal (statis) supaya dapat meningkatkan kualitas diri. Berbeda dengan radikal destruktif, yaitu radikalisme yang merusak dan menggunakan metode kekerasan dalam mewujudkan tujuan yang dicita-citakan. Fase radikal destruktif inilah jalan menuju teroris.

Sebenarnya tujuan radikalisme adalah mengadakan perubahan sampai keakarnya dan untuk merealisasikan usaha mereka selalu menggunakan metode kekerasan serta menentang struktur masyarakat yang ada. Mempunyai program yang cermat dan memiliki landasan filsafat untuk membenarkan adanya rasa ketidakpuasan dan mengintrodusir inovasi-inovasi, radikalisme erat sekali hubungannya dengan revolusi (Nur Khamid, 2016:125).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved