Tafakur

Bahasa Pemersatu

Meskipun telah bersatu dalam “payung” Islam, ada juga di antara kita yang mengoranglainkan sesama

Bahasa Pemersatu

Oleh: Jarjani Usman

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhan-mulah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. an-Nahl: 125).

Meskipun telah bersatu dalam “payung” Islam, ada juga di antara kita yang mengoranglainkan sesama. Masalahnya pun kadang bukan yang wajib, tetapi sunat, yang dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. Pengoranglainan itu dalam taraf tertentu berdampak buruk terhadap persatuan umat.

Persatuan umat yang rusak bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan di sendi-sendi lain, seperti hilangnya kekuatan umat. Umat bisa diibaratkan dengan sebuah rumah dengan sejumlah komponen penguat, seperti tiang-tiang, dinding, atap dan lain-lain. Kerusakan di satu bagian seharusnya diperbaiki dengan hati-hati.

Di antara alat yang penting digunakan untuk memperbaiki umat adalah dengan bahasa. Sangat dianjurkan untuk menggunakan bahasa yang bukan menambah-nambah buruk suasana, seperti mencap orang lain bukan bagian dari kita.

Bahasa-bahasa yang digunakan telah dicontohkan dalam Alquran, yang tentunya memiliki adab atau etika tertentu. Seperti dicontohkan dalam ayat an Nahl 125, perlu dikedepan cara-cara mengemukakan pendapat yang mengandung hikmah dan pelajaran dan membantahnya dengan cara yang lebih baik. Jadi bukan untuk mencari siapa kita dan siapa orang lain.

Selanjutnya setelah mengemukakan pendapat, kita dianjurkan untuk berserah diri kepada Allah. Apalagi tak tertutup kemungkinan, pendapat kita sebagai manusia biasa juga mengandung kekurangan. Allah lah yang maha mengetahui siapa yang paling benar.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved