Ramadhan Mubarak

Mendidik Generasi Milenial

INDONESIA diproyeksikan akan mengalami bonus demografi, di mana populasi usia produktif lebih mendominasi

Mendidik Generasi Milenial
Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng

Oleh Prof. Dr. Samsul Rizal, M.Eng, Rektor Universitas Syiah Kuala

INDONESIA diproyeksikan akan mengalami bonus demografi, di mana populasi usia produktif lebih mendominasi dibanding usia non produktif. Jika proyeksi tersebut tidak terlalu melenceng, maka puncak bonus demografi tersebut akan terjadi 12 tahun lagi, yaitu pada 2030. Populasi penduduk Indonesia pada tahun tersebut diperkirakan akan didominasi oleh mereka yang berusia produktif, yaitu antara 15 hingga 64 tahun.

Populasi yang mendominasi tersebut saat ini sedang berusia antara 3 hingga 52 tahun. Jika diklasifikasikan, paling tidak, mereka ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu kelompok anak-anak hingga remaja (usia 3-20 tahun), kemudian kelompok orang muda (usia 20-40 tahun), dan kelompok orang dewasa (usia 40-52 tahun).

Lupakan mereka yang saat ini sudah dewasa dan berada di usia 40 tahun ataupun di atasnya, karena mereka sesungguhnya sudah cukup matang berkembang, sehingga tidak banyak lagi yang dapat dilakukan untuk mendidik dan mengubah mereka secara karakter dan kepribadian. Ilmu pengetahuan dan Alquran membenarkan bahwa usia 40 tahun ini merupakan titik awal kedewasaan, sehingga tidak banyak lagi perubahan yang dapat terjadi pada sisi karakter dan kepribadian seseorang. “... sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa...” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Usia 40 tahun diyakini oleh para ilmuwan kejiwaan adalah masa kematangan secara pikiran dan kepribadian. Perubahan-perubahan signifikan pada kedua hal tersebut tidak akan lagi terjadi setelahnya. Oleh karena itulah, fokus utama pendidikan adalah pada mereka yang masih berusia di bawah 40 tahun in.

Tantangan besar menuju bonus demografi Indonesia adalah juga dalam mempersiapkan dan mendidik mereka yang saat ini berada di kelompok anak-anak hingga orang muda ini, yaitu kelompok pertama dan kedua. Potensi untuk mendidik dan membentuk karakter mereka ini masih sangat besar, karena faktor usia mereka yang masih berada di bawah ukuran kedewasaan.

Namun demikian, fakta yang ada menunjukkan bahwa besar sekali energi yang masih dibutuhkan untuk mendidik dan membentuk karakter generasi muda tersebut di era milenium ini. Satu faktor utama yang sangat mempengaruhi generasi milenial ini adalah alat komunikasi gawai (gadget) canggih. Alat ini mendekatkan mereka ke dunia maya, dan menjauhkan mereka dari dunia nyata.

Satu dampak yang ditimbulkan oleh gawai canggih tersebut yaitu generasi milenial ini cenderung bersifat skeptis dan sinis, memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi, serta menjunjung tinggi privasi. Namun begitu, di sisi lain, mereka terbentuk menjadi lebih multi-tasking dibanding generasi sebelumnya, serta relatif lebih luas cara berfikirnya.

Oleh karena itu, di satu sisi, harus diakui bahwa generasi ini relatif lebih cerdas dibandingkan generasi sebelumnya. Keleluasaan mereka untuk mengakses informasi di Big Data membuat mereka sangat termanjakan ketika ingin memuaskan rasa penasaran mereka.

Namun di sisi lain, mereka cenderung tidak berkembang sebagai manusia seutuhnya. Mereka tumbuh dengan kepedulian sangat minimal dengan lingkungan sekitar. Mereka bahkan cenderung untuk berlepas diri dari dunia sosial yang nyata, serta beralih ke dunia sosial yang maya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help