Putra Lhoksukon Jadi Imam Tarawih di Bangkok

THAILAND tidak asing lagi bagi Ustaz Muhammad Sayuti Arakeumudi. Dia sudah dua kali diundang ke negara

Putra Lhoksukon Jadi Imam Tarawih di Bangkok
MUHAMMAD SAYUTI, Putra Lhoksukon 

THAILAND tidak asing lagi bagi Ustaz Muhammad Sayuti Arakeumudi. Dia sudah dua kali diundang ke negara tersebut untuk menjadi imam shalat tarawih dan qiamul lail di Masjid Jawa (Jawa Mosque) berada di Provinsi Sathon, Bangkok (Thailand), tepatnya di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9.

“Ramadhan tahun lalu, saya hanya diundang pada sepuluh terakhir Ramadhan. Alhamdulillah, tahun ini saya diundang dari awal Ramadhan untuk menjadi imam shalat tarawih dan qiamul lail,” kata Ustaz Sayuti kepada Serambi, Selasa (29/5) melalui WhatsApp.

Sekedar informasi, Masjid Jawa memiliki nilai historis dan berarsitektur Jawa. Masjid tersebut sudah berdiri sejak 120 tahun yang lalu dan dibangun oleh H Muhammad Saleh, mertua dari KH Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

Putra asli Lhoksukon, Aceh Utara ini menjelaskan, kehadirannya ke Bangkok tidak lepas dari undangan seorang imam keturunan Jawa, yaitu Ustaz Ramsan Bin Khamson. Tidak sulit baginya untuk beradaptasi karena jamaah masjid tersebut dihuni oleh keturunan Jawa yang sudah lama menetap di sana.

Bahkan, lanjutnya, banyak dari mereka tidak bisa lagi berbahasa Jawa dan Indonesia. Sehari-hari mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Thailand. Karena alasan itu, dalam beberapa tahun terakhir Kedubes RI di Bangkok rutin mengirim guru untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka.

Meski sudah lama menetap di Bangkok, penduduk keturunan Jawa itu masih mempertahankan tata cara shalat tarawih laksana seperti yang dilakukan di Pulau Jawa. Mereka melaksanakan tarawih berjumlah 20 raka’at ditambah tiga rakaat witir dengan dua kali salam serta dipandu oleh bilal.

“Saya merasa berada di Pulau Jawa, hal yang sangat berbeda adalah setiap shaf diisi dengan kursi untuk orang yang sudah tua, dan disediakan banyak kacamata dalam satu rak untuk mereka yang ingin membaca Alquran. Masyarakatnya sangat antusias beribadah dan berbagi,” kata Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.

Selain itu, setiap harinya selama Ramadhan, di masjid tersebut juga menyediakan penganan berbuka puasa dan sahur. Menurut guru LT3Q Elmasu’dy Aceh ini, berbuka puasa di masjid itu diawali dengan makan kue dan setelah magrib baru semua jamaah menyantap nasi dan berbagai menu khas Thailand.

“Yang sangat membuat saya takjub adalah, penyuguhannya sangat luar biasa. Dihidangkan makanan dan minuman oleh panitia dan petugas takjil mengontrol setiap mangkok menu yang disediakan. Apabila sudah sedikit, ditambah lagi sampai penuh hingga kami sudah selesai makan,” cerita Ustaz Sayuti yang sehari-hari menjadi imam di Masjid Beurawe, Peunayong, dan Ule Kareng, Banda Aceh.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved