Ramadhan Mubarak

Membumikan Ekonomi Islam

ORANG beriman mendapat panggilan khusus pada bulan ramadhan untuk melaksanakan ibadah puasa

Membumikan Ekonomi Islam
Prof. Dr. Apridar, SE., M.Si 

Oleh Prof. Dr. Apridar, SE., M.Si, Rektor Universitas Malikussaleh. Email: apridarunimal@yahoo.com

ORANG beriman mendapat panggilan khusus pada bulan ramadhan untuk melaksanakan ibadah puasa khususnya. Hal ini merupakan kegembiraan tersendiri bagi manusia yang menyadarinya. Di bulan yang penuh berkah dan istimewa ini, para insan dapat melaksanakan ibadah dengan bobot nilai yang begitu tinggi, sehingga dapat memacu kinerja dan meningkatkan produktivitas.

Pengendalian nafsu yang dapat dilaksanakan secara sistematis pada bulan Ramadhan, menjadikan manusia tawadhuk, sehingga pantas memperoleh gelar yang cukup terhormat, yaitu takwa.

Umat muslim memiliki konsep yang jelas terhadap acuan hidup di muka bumi ini. Konsep yang begitu sempurna membuat hidup menjadi sukses dunia dan akhirat. Ketentuan yang sangat luar biasa tersebut akan dirasakan apabila dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ramadhan yang merupakan waktu di mana nilai kebaikan dilipatgandakan oleh Allah Swt merupakan momentum yang sangat baik untuk melakoni sesuatu kebajikan.

Dalam kehidupan bermuamalah di muka bumi ini, khususnya aktivitas ekonomi kita dituntut untuk berbuat yang terbaik untuk jangka panjang khususnya. Pelaksanaan ekonomi terdahulu seperti yang telah kita saksikan lebih bercirikan kapitalisme liberal, yang diyakini mengakibatkan kemiskinan semakin merajalela dan ketimpangan sosial yang semakin melebar. Bahkan para ekonomi mengaitkan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998, tidak terlepas dari praktik ekonomi kapitalis liberal tersebut.

Konsep sistem pasar dan persaingan bebas yang dipraktikkan oleh sistem kapitalis, dinyatakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena fitrah manusia sebagai makhluk bebas yang mendukung daya kreatif dalam mengelola sumber daya ekonomi.

Kebebasan merupakan faktor yang menjadi kapitalisme lebih survive dibandingkan sistem sosialisme. Namun persaingan bebas yang tidak dikontrol akan lebih mementingkan diri sendiri. Sehingga terjadinya penindasan pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah, yang membuat tingkat dependensi cenderung didikte dan dipaksakan untuk mengikuti kehendak yang kuat, dengan kompensasi yang cenderung memberatkan.

Sistem ekonomi Islam suatu keharusan yang mesti dilaksanakan untuk menjawab berbagai problematika sebagaimana yang terjadi di atas. Di mana Islam meletakkan batas-batas atas pemilikan dan karya, juga batas-batas dalam pengembangan, pengeluaran, pendistribusian dan pembelanjaan.

Prinsip kepemilikan itu hanya Allah Swt dan manusia hanya dipercayakan untuk mengoptimalkan harta yang bersifat amanah itu untuk kepentingan umum dan menjaga fitrah manusia. Kita diharapkan agar memanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah swt untuk dipertanggungjawabkan.

Di bulan yang penuh makfirah ini, merupakan tonggak yang sangat baik untuk menjalankan berbagai aktivitas yang sejalan dengan syariah. Selain untuk memacu produktivitas, juga meningkatkan aktivitas perdagangan yang berkeadilan. Islam sangat mendorong pelaksanaan jual-beli, wakaf dan sedekah. Allah sangat membenci riba, karena riba dapat merusak sendi perekonomian.

Aceh yang telah diberikan kesempatan untuk menerapkan syariat Islam harus lebih fokus mengimplementasikan ekonomi Islam. Konsep yang baik ini tidak akan berarti banyak bila tidak dijalankan secara masif. Momentum Ramadhan merupakan tindakan yang sangat tepat untuk membumikan konsep syariah dalam kehidupan masyarakat.

Gerakan wakaf yang telah membuktikan kejayaan Aceh masa lampau perlu dilestarikan kembali. Aceh dikenal sebagai pusat pendidikan agama yang termasyur. Di mana masyarakatnya dengan sukarela melakukan wakaf untuk pembangunan sarana pendidikan dan publik lainnya. Sehingga masyarakat dapat menikmati pembangunan yang sangat luar biasa dari gerakan tersebut.

Harta yang dititipkan Allah pada kita sangat penting untuk dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat secara umum. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi yang lebih mengarah kepada tindakan mubazir. Setiap harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang mesti dikeluarkan zakatnya. Pola yang demikian, tentu akan menciptakan keberkatan dari sumber daya yang kita miliki. Sehingga kesejahteraan masyarakat akan terjadi dengan sendirinya.

Pemerintah yang diberikan kewenangan untuk mengatur aktivitas kehidupan yang sejalan dengan ketentuan sunatullah, sangat penting untuk mengambil perannya. Di mana tindakan yang tidak sejalan ketentuan syariah perlu diluruskan serta diimplementasikan dengan baik. Masyarakat perlu diarahkan pada tindakan yang sesuai dengan syariah. Apabila kebatilan tidak dicegah, maka peringatan yang akan diterima nantinya bukan hanya bagi sipelanggar. Namun semua masyarakat akan menanggungnya secara kolektif.

Ramadhan yang penuh berkah ini, kita harapkan semua aktivitas harus sejalan dengan syariah. Ulama sangat diperlukan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, khususnya dalam berbagai aktivitas muamalah di bumi Serambi Mekkah ini. Keterpaduan antara ulama dan umara sangat diperlukan untuk menjadikan Negara yang thaibatun warabbur ghafur, yaitu daerah yang makmur dan sejahtera. Semoga!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help