Akademisi: Jangan-jangan Pemerintahan Irwandi Ingin Mengembangkan Oligarki Politik di Aceh

"Jangan-jangan pemerintah ingin mengembangkan otoritarianisme atau oligarki politik di Aceh,” katanya.

Akademisi: Jangan-jangan Pemerintahan Irwandi Ingin Mengembangkan Oligarki Politik di Aceh
ist
Dr Taufik A Rahim PhD 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Akademisi Unmuha Aceh, Dr Taufiq A Rahim dan Kepala ombudsman Perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin Husin menanggapi pernyataan Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani yang meminta mereka tidak menyudutkan Gubernur Aceh terkait polemic pelantikan anggota KIP Aceh.

Taufiq A Rahim dan Taqwaddin kepada Serambinews.com, Jumat (1/6/2018) mengatakan tidak ada niat mereka menyudutkan Gubernur Aceh, Irwandi Aceh terkait polemik itu.

Tapi mereka hanya memberikan saran untuk kemaslahatan Aceh.

Taufiq menyatakan, saran dan kritik dalam konstalasi politik moderen dan komtemporer bukan diterjemahkan dengan menyudutkan atau asal bunyi (asbun).

Baca: Jubir Minta Akademisi tak Sudutkan Gubernur Soal Pelantikan KIP Aceh

Demokrasi politik yang dikembangkan termasuk di Indonesia dan Aceh khususnya harus disikapi, dipahami, dikembangkan dengan bijaksana.

“Bukan menyikapi secara salah dan membuat rakyat semakin sakit hati, seolah-olah juru bicara (jubir) hanya sebagai corong, ibarat TOA untuk membantah kritikan."

"Jangan-jangan pemerintah ingin mengembangkan otoritarianisme atau oligarki politik di Aceh,” katanya.

Sementara Taqwaddin menjelaskan, dirinya tidak pernah menyudutkan Gubernur Aceh.

Baca: Demi Kemaslahatan, Ombudsman Minta Gubernur Lantik Anggota KIP Aceh  

Dia hanya menyampaikan Gubernur dan DPRA harus membangun komunikasi yang harmoni, termasuk dengan semua pihak untuk mengakhiri polemik itu.

“Saya sarankan agar semua pihak menurunkan tensi dan mari fokus untuk mempercepat kesejahteraan rakyat. Semua masalah, dapat diselesaikan melalui jalur komunikasi. Tidak sedikitpun saya bermaksud menyudutkan,” kata Taqwaddin.

“Saya dan Irwandi bersahabat sejak lama, sebelum beliau ditangkap 20 tahun lalu. Kami dulu pernah satu tim riset. Saya menyarankan untuk kearifan dan kemaslahatan, bukan untuk menyudutkan. Harap Pak SAG maklum,” demikian Kepala Ombudsman Perwakilan Aceh, Taqwaddin. (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help