Opini

Membumikan Pesan Alquran

BULAN Ramadhan dikenal dengan Syahrul Quran yaitu bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia

Membumikan Pesan Alquran
Nuzulul Quran 

Ayat tersebut tidak menyatakan “Tuhan mewajibkan kepada kamu”, tetapi “diwajibkan kepada kamu”. Ini mengisyaratkan bahwa manusia sendirilah yang mewajibkan puasa atas dirinya, karena dia menyadari betapa penting dan bermanfaatnya puasa. Ketika seseorang mengetahui manfaat puasa bagi kesehatan dirinya, maka dengan sendirinya dan tanpa paksaan ia akan tergerak untuk berpuasa, bahkan jika seandainya puasa itu tidak diwajibkan oleh Allah swt.

Mengungkap hal gaib
Keunikan lain, Alquran mengungkap sekian banyak ragam hal gaib atau kejadian masa lampau yang tidak diketahui oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, misalnya peristiwa tenggelamnya Firaun dan diselamatkannya badannya. Orang mengetahui bahwa Firaun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa as dan kaumnya, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapa pun pada masa Nabi Muhammad saw, bahwa tidak disinggung oleh perjanjian lama dan baru.

Namun pada 1896, purbakalawan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Luxor seberang sungai Nil, Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh. Pada Juni 1975, ahli bedah Prancis, Maurice Bucaille yang pada awalnya tidak percaya jika mumi adalah Firaun yang mengejar Musa sebagaimana termaktub dalam Alquran yang berusia 1.400 tahun lalu dan akhirnya memeluk Islam setelah melakukan kajian ayat tentang Firaun. Firaun meninggal di laut, terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya.

Keunikan dan mukjizat Alquran tidak pernah habis untuk dibahas, semakin dikaji maka semakin terkuak rahasia yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, bagi kita selayaknya tidak cukup hanya sekadar mengagumi kemukjizatan Alquran dan merasa bangga akan kehadirannya saja, sehingga terlena tanpa berhasrat untuk mentadabburinya lebih dalam.

Oleh karena itu, mari terus mempelajarinya dengan benar semenjak dini, dimulai dari makhraz, tajwid, melafalkannya, dan lain-lain. Kemudian menghafalkan serta melantunkannya pada setiap salat, tetapi hal yang terpenting adalah pen-tadabbur-an dan pengamalan terhadap apa yang disampaikan oleh Alquran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help