Bahasa dan Moral Kita

Bahasa yang setiap hari kita gunakan untuk berinteraksi dengan sesama (horizontal) maupun dengan pencipta

Bahasa dan Moral Kita

Oleh: Don Zakiyamani, Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Bahasa yang setiap hari kita gunakan untuk berinteraksi dengan sesama (horizontal) maupun dengan pencipta (vertikal) bukanlah sebatas alat komunikasi. Lebih dari itu bahasa adalah moral kita, bahasa akan menentukan moral kita dan moral kita akan menentukan bahasa yang kita gunakan.

Bahasa yang baik menunjukkan bagaimana moral kita, sementara moral yang buruk akan tampak pula dari bahasa yang kita gunakan. Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Alqura’n.” (HR Muslim). Bila kita mendalami Alqur’an maka akan kita temukan keindahan bahasanya.

Sastra maha tinggi yang mengalahkan sastra-sastra era jahiliyiah pada saat itu. Padahal pada saat itu kaum Quraisy sedang berada dipuncak balaghah dan kefasihah dalam membuat kalimat. Baik bahasa daerah maupun bahasa indonesia memiliki diksi yang akan menentukan siapa penuturnya.

Apakah dia orang yang bermoral, berakhlak mulia ataupun sebaliknya. Itu sebabnya perlu diperhatikan serta dipilih kosakata yang baik dalam berinteraksi. Coba bayangkan bila anda meminta tolong pada orang lain dengan bahasa yang memaksa, memaki, dan ucapan buruk lainnya, apakah orang tersebut bersedia membantu.

Dalam berbangsa dan bernegara, berkatakata dengan kata yang baik merupakankebutuhan. Bila dalam ekonomi kebutuhan primer itu pangan, sandang dan papan, kita harus menambahnya dengan berbahasa yang baik. Ucapan yang baik bukan hanya menguntungkan pendengar akan tetapi akan baik bagi kesehatan moral penutur. Imam Syafi’i mengingatkan bahwa lebih baik diam dari pada berucap buruk, beliau mengumpamakannya singa dan anjing yang menggonggong.

Saat ini Indonesia sedang menghadapi ujaran kebencian, dan penuturnya bukan hanya dari kalangan awam akan tetapi kalangan yang menasbihkan dirinya sebagai intelektual dengan segudang gelar akademik. Tentu sangat merisaukan dan perlu diatasi segera agar tidak tertular pada generasi berikutnya yang pada gilirannya akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ujaran kebencian merupakan contoh dari penggunaan bahasa yang tak bijak sekaligus bukti bahwa moral akan menentukan bahasa yangdigunakan dan sebaliknya. Sayangnya, mereka yang diserang ujaran kebencian malahmembalasnya dengan hal yang sama. Akibatnya lolongan anjingpun bersambut, padahal Imam Syafi’i sudah mengingatkan untuk menjadi singa bila ada anjing menggonggong.

Selain itu, perlu kerjasama kita semua untuk menyiapkan generasi yang bertutur kata baik. Penerimaan bahasa lebih banyak didapat anak dari lingkungannya dan keluarga merupakan lingkungan pertamanya. Keluarga punya peran penting dan strategis dalam membentuk bahasa anak yang pada gilirannya membentuk moral yang baik atau buruk.Lingkungan berikutnya sekolah dan sekitar dimana seorang anak tinggal.

Dalam hal ini kita berharap banyak pada institusi pendidikan serta masyarakat agar menularkan bahasa yang baik. Sebuah bahasa yang mengarahkan generasi kita sebagai generasi bermoral dan berakhlak mulia. Sedapat mungkin manusia dewasa menghindari kosakata bermakna cacian, makian, hinaan, dan ujaran kebencian lainnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help