Home »

Sport

Berharap Magis Mane

31 MEI 2002, dunia dibikin gempar. Stadion Seoul World Cup, Korea Selatan, menjadi saksi sejarah dari duel

Berharap Magis Mane

31 MEI 2002, dunia dibikin gempar. Stadion Seoul World Cup, Korea Selatan, menjadi saksi sejarah dari duel pembuka Piala Dunia di Benua Asia kala itu. Disaksikan 62.561 penonton, timnas Senegal mempermalukan punggawa Prancis.

Aib itu terasa sangat mengejutkan. Ya, saat itu, Prancis datang ke Korea-Jepang dengan status juara dunia. Pada Piala Dunia 1998 di negeri sendiri, The Bleus berjaya setelah menumbangkan Brasil dengan skor telak 3-1. Sepasang gol anak imigran Aljazair, Zinedine ‘Zizou’ Zidane plus Emmanuel Petit membuat mereka sukses untuk pertama kalinya merengkuh tropi World Cup.

Seakan belum puas, dua tahun berikutnya, ketika Piala Eropa 2000 di Belanda-Belgia, Prancis kembali juara. Dalam partai puncak di Stadion Feijenoord Stadion, Rotterdam, mereka berhasil mengubur mimpi jawara Italia, 2-1. Golden goal mantan tukang gedor Juventus, David Trezeguet sudah cukup untuk membawa mereka ke status champion.

Ternyata, dua gelar sebagai penguasa sepak bola dunia dan Benua Biru, belum cukup buat Prancis. Di luar dugaan, Ayam Jantan dipatahkan tajinya oleh talenta Senegal. Gol tunggal Papa Bouba Diof pada menit 30 ke gawang Fabian Barthez, membuat sang juara bertahan tersungkur secara tragis.

Hasil ini sangat buruk. Betapa tidak, Prancis datang ke Asia dengan skuad terbaik. Besutan Roger Lemerre memainkan Zidane, Marcel Desailly, Patrick Vieira, Thierry Hendry, Lilian Thuram, Youri Djorkaeff, Bixente Lizarazu, Slyain Wiltord, dan Claude Makalele. Namun generasi emas negeri Napoleon Bonaparte itu dibuat mati kutu oleh spirit kuda jantan Senegal.

Jika timnas Prancis merana di Benua Asia, sebaliknya Lions of Teranga–julukan Senegal–menorehkan hasil memuaskan. Meski tampil di edisi pertama Piala Dunia 2002, mereka sukses lolos ke babak perempatfinal. Di fase Grup A, Senegal bercokol sebagai runner-up di bawah Denmark. Usai menang atas Prancis, El-Hadji Diouf dkk menahan imbang Uruguay 3-3, dan Denmark 1-1.

Di duel babak 16 besar, kejutan kembali dilakukan wakil Afrika tersebut. Mereka sukses menghentikan laju Swedia, 2-1 berkat dwigol Henri Camara pada menit 37, dan 107. Namun, pertualangan mereka terhenti di perempatfinal. Dalam duel babak delapan besar di Osaka Jepang, Senegal takluk 0-1 dari anak negeri Ottoman, Turki, yang secara tak terduga meraih juara ketiga dunia setelah menang atas tuan rumah Korsel, 3-2.

Hanya saja, selepas berjaya Asia, kiprah Senegal redup. Mereka gagal di tiga edisi terakhir Piala Dunia 2006, 2010, dan 2014. Kini penantian panjang selama 16 tahun berakhir indah. Besutan Aliou Cisse kembali terbang ke Rusia setelah membungkam perlawanan Afrika Selatan, Burkina Faso, dan Tanjung Verde.

Sesuai hasil drawing, skuadra Senegal bercokol di Grup H bersama Polandia, Kolombia, dan Jepang. Mereka memiliki peluang lolos ke putaran kedua mengingat kekuatan keempat konsestan berimbang, dan merata.

Kekuatan Senegal tak boleh dianggap remeh. Mereka memiliki pemain mumpuni yang wara-wiri di Liga Eropa seperti tukang gedor asal Liverpool, Sadio Mane, Kalidou Koulibaly (Napoli), Cheikhou Kouyate (West Ham), Keita Balde Diao (Monaco), dan Mbaye Niang (Torino).

Khusus Sadio Mane, musim ini menjadi tahun terbaik baginya baik di Liga Primer Inggris, dan Liga Champions. Penampilan meyakinkannya sukses melesatkan 10 gol dalam 29 pertandingan bersama The Reds Liverpool. Sehingga, dia selalu menjadi pilihan utama dalam paket starting eleven dari sang juru latih asal Jerman, Jurgen Klopp.

Tentu saja, dengan penampilan impresifnya, timnas Senegal berharap banyak dari Mane yang di Liverpool menjadi bagian tridente maut Firmansah (Firmingo, Mane dan Salah).

Ya...Lions of Teranga kini menunggu magis dari Sadio Mane. Ia memiliki andil besar membawa Liverpool ke final Liga Champions bersama Mohammed Salah. Jadi, bukan rahasia lagi kalau kontribusi itu juga ditunggu timnas Senegal. Paling tidak, mereka bisa menyamai prestasi Piala Dunia 2002 lalu.(imran thayeb)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help