Home »

Opini

Opini

Tak Konsumtif Jelang Lebaran

SATU fenomena khas yang terjadi di pertengahan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri atau Lebaran

Tak Konsumtif Jelang Lebaran
Baklava merupakan hidangan manis khas Turki yang ada setiap hari lebaran.(www.dailysabah.com) 

Oleh Yusniar

SATU fenomena khas yang terjadi di pertengahan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri atau Lebaran adalah tingginya animo masyarakat untuk berbelanja, sehingga perputaran uang selama Ramadhan hingga lebaran sangatlah besar. Pada saat menjelang Lebaran, peredaran uang di masyarakat diperkirakan mencapai angka triliun rupiah dalam sebulan. Meski ekonomi Indonesia masih sangat mengandalkan konsumsi masyarakat sebagai motor penggerak pertumbuhan utama, namun disayangkan, jika uang sebanyak itu dihabiskan hanya untuk memenuhi keinginan menyambut Lebaran yang semuanya serba “baru”.

Kecenderungan perilaku membeli sesuatu yang serba baru di negeri ini ternyata sudah terjadi sejak masa kerajaan. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho menjelaskan bahwa tradisi beli baju baru saat Lebaran sudah dimulai sejak 1596 di Banten. Menjelang Lebaran, mayoritas penduduk Muslim di bawah kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Bedanya, mayoritas warga pada saat itu menjahit baju sendiri karena keterbatasan teknologi, sehingga hanya kalangan kerajaan yang bisa mendapatkan baju bagus untuk lebaran. Kala itu, mayoritas warga yang bekerja sebagai petani berubah profesi jadi tukang jahit “dadakan” menjelang Lebaran.

Uniknya, tradisi tersebut tidak pernah lekang hingga sekarang sebagai sebuah warisan yang dinikmati masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Aceh. Berbagai lapisan masyarakat bukan hanya golongan ekonomi mapan saja, melainkan mereka yang finansialnya tidak memadai juga ikut merayakan Lebaran dengan menggunakan produk baru. Seiring berkembangnya zaman, penggunaan produk baru, tak hanya pada pakaian saja, melainkan ke semua barang seperti kendaraan, perlengkapan rumah tangga dan barang barang elekronik sehingga hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang konsumtif.

Masyarakat konsumtif
Masyarakat Indonesia memang sudah dikenal sebagai masyarakat yang konsumtif. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari kecendrungan mengikuti tren, misalnya seseorang yang memilih mengganti dan memiliki jenis handphone atau laptop tertentu dengan seri terbaru, padahal produk sebelumnya masih dapat digunakan. Hal tersebut dibarengi oleh kekuatan finansial untuk membelinya yang tanpa perlu mempertimbangkan fungsi dasarnya. Sayangnya, perilaku ini juga dilakukan oleh orang-orang yang kekuatan finansialnya tidak memadai hingga rela berhutang demi memenuhi kebutuhannya tersebut.

Kondisi itu terjadi karena pola perbandingan sosial di masyarakat indonesia yang tinggi. Tidak jarang, didalam masyarakat, seseorang dinilai justru dari tingkat penghasilan dan kepemilikan barang barang mewah sehingga menunjukkan statusnya dimasyarakat. Fungsi laten menunjukkan bahwa perilaku konsumtif memang pada dasarnya adalah untuk menunjukkan status sosial seseorang dalam kehidupan yang luas. Hal inilah yang mendasari pihak produsen yang sangat paham terhadap karakteristik masyarakat Indonesia terdorong untuk terus menawarkan produk baru, ditambah lagi strategi tawaran diskon dan kredit dengan agunan yang disepakati, sehingga keinginan mengkonsumsi produk baru semakin mudah dan cepat.

Kita memang tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa Islam memang menjadikan momen Lebaran sebagai momen suka cita, namun pola masyarakat yang konsumtif mengakibatkan Lebaran diidentikkan sebagai momen dengan kepemilikan dan penggunaan produk baru. Secara psikologis, ada yang kurang kalau tidak ikut dalam kebiasaan konsumtif saat menjelang Lebaran disebabkan dalam sistem budaya, hal tersebut terjadi akibat dari sosialisasi tentang kebiasaan masyarakat yang berulang-ulang, akhirnya menjadi terlembaga nilai-nilai kebiasaan tersebut (Merton, 2000).

Sering sekali kita temukan dalam masyarakat, masing-masing individu saat menjelang Lebaran tiba, yaitu menceritakan pengalamannya menghadapi Lebaran. Individu yang belum membeli kebutuhan lebaran akhirnya ikut terpengaruh serta ikut-ikutan konsumtif. Perilaku tersebut bahkan telah dimulai pada masa anak anak, tatkala kita mendengar anak anak berkomunikasi dengan temannya seputar pertanyaan apakah sudah beli baju baru atau belum kepada temannya sehingga para orang tua yang mendengar atau menyaksikan merasa harus membeli baju baru demi kebahagiaan anak-anaknya.

Lebaran sebagai hari kemenangan telah berubah makna, sehingga direfleksikan dalam masyarakat sebagai momen eksisitensi diri. Padahal, hari kemenangan yang merupakan esensi utama dalam lebaran adalah kemenangan meredam hawa nafsu yang telah dilatih selama Ramadan. Namun sayangnya, makna tersebut hilang seketika saat Lebaran tiba, sehingga menyebabkan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mubazir. Padahal Allah Swt telah berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. al-Isra’: 26-27).

Tugas bersama
Sebagai satu-satunya provinsi yang mempraktikkan prinsip syariah Islam, menghindari gaya hidup konsumtif tentulah menjadi tugas kita bersama untuk menjadi provinsi yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Seharusnya pemerintah berperan aktif dengan mendongkrak keinginan masyarakat untuk lebih banyak berinfak ketimbang berbelanja yang bersifat konsumtif.

Sebagaimana diketahui, Uni Emirat Arab pascalebaran mampu membangun ribuan rumah untuk warga miskin. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah Malaysia dan Turki sebagai negara Islam. Zakat dan sedekah yang terkumpul dapat membangun rumah, sekolah hingga rumah sakit yang merupakan sebuah gagasan cerdas dalam memanfaatkan momen Lebaran untuk mengentaskan ribuan masalah warga miskin. Namun sayangnya, negara kita belum mampu mengarah kepada hal tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap badan zakat yang rendah serta kurangnya pengetahuan secara menyeluruh tentang betapa besarnya efek persatuan umat muslim jika memiliki kesadaran yang tinggi untuk menginfakkan hartanya demi kesejahteraan umat secara luas serta zakat merupakan potensi pendapatan negara yang seharusnya dapat dimanfaatkan menjelang momen lebaran.

Di sinilah dibutuhkan peran pemimpin, tokoh gampong, ulama dan para pengajar untuk mengingatkan masyarakat harus fokus memenuhi kebutuhan ekonominya dan menghindari perilaku konsumtif, serta jika memiliki harta yang berlebih sebaiknya terlibat secara aktif untuk lebih menginfakkan hartanya melalui badan zakat yang dikelola dengan baik dan transparan.

Sah-sah aja menyambut Lebaran dengan suka cita namun alangkah baiknya menghindari perilaku konsumtif yang bersifat kesenangan semu serta lebih berfokus kepada zakat, infaq dan sedekah sebagai investasi akhirat yang nyata agar kita dapat menunjukkan jati diri kita sebagai masyarakat Aceh yang hebat, santun dan sederhana dalam bingkai syariat Islam.

* Dr. Yusniar, SE, MM., Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan anggota Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A). Email: yusniaryuzie@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help