Opini

Ekonomi Indonesia di Tengah Rongrongan Dolar AS

DALAM satu bulan terakhir, berita pelemahan rupiah terhadap US dollar (USD, dolar AS) selalu kita temui di kolom-kolom

Ekonomi Indonesia di Tengah Rongrongan Dolar AS

Oleh Fadhil Muhammad

DALAM satu bulan terakhir, berita pelemahan rupiah terhadap US dollar (USD, dolar AS) selalu kita temui di kolom-kolom berita baik media online maupun surat kabar. Walaupun banyak juga isu lain seperti perkembangan politik dan terorisme, para redaktur surat kabar seakan tidak pernah kehabisan tempat untuk menaruh berita depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Posisi mata uang Burung Garuda tersebut memang lagi terpuruk. Pasalnya, dalam satu bulan terakhir rupiah terus menerima rongrongan dari dolar negeri Paman Sam hingga harus terdepresiasi sebesar 1,65%.

Dari maraknya pemberitaan tersebut, lantas apakah kondisi nilai tukar rupiah saat ini memang sangat memprihatinkan? Pada 30 April 2019, nilai tukar rupiah tercatat di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebesar Rp 13.877 per USD. Satu bulan kemudian, nilai tukar rupiah tersebut terus terdepresiasi dan menyentuh level psikologis baru sebesar Rp 14.032 per USD.

Angka nilai tukar tersebut memang yang paling tinggi dalam 1 tahun terakhir. Namun bila kita telisik lebih jauh, nilai tukar rupiah pernah menyentuh ke level yang lebih parah dari itu yakni sebesar Rp 16.650 per USD saat krisis moneter Juni 1998. Pelemahan rupiah mencapai 178% dan terjadi hanya dalam tempo 6 bulan, di mana nilai tukar rupiah di awal 1998 hanya sebesar Rp 6.000 per USD. Dengan kata lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini terjadi tidak separah seperti kondisi krisis 1998 lalu.

Sejumlah ekonom dan kalangan masyarakat merasa khawatir bila fenomena pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terus berlanjut hingga ke level yang berisiko menyebabkan krisis monter. Timbulnya rasa khawatir tersebut lumrah saja, namun bila kita melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini, faktor risiko pelemahan kurs yang bersumber dari eksternal, serta upaya yang dilakukan pemerintah, rasanya kekhawatiran tersebut tidak perlu sampai berlebihan. Kekhawatiran yang berlebihan justru membentuk ekpektasi negatif yang berujung pada kondisi self-fulfilling prophecy.

Fundamental ekonomi
Stabilitas nilai tukar mata uang suatu negara ditentukan dari kondisi fundamental ekonomi negara tersebut. Fundamental ekonomi tersebut dijabarkan dalam berbagai macam variabel yakni inflasi, tingkat bunga, neraca pembayaran, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat pengangguran. Negara yang tingkat inflasinya tinggi dan terus meningkat cenderung memiliki nilai tukar yang konsisten terdepresiasi dengan mata uang negara lain yang tingkat inflasinya lebih stabil, contohnya Zimbabwe.

Inflasi Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2015 s.d 2017) relatif stabil dan berada pada rentang target inflasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tahun 2017 tingkat inflasi Indonesia mencapai 3,61% (YoY) masih dalam rentang target inflasi Nasional sebesar 4±1%. Dibandingkan dengan laju inflasi negara-negara di ASEAN, Indonesia memang lebih tinggi, namun tingkat inflasi Indonesia saat ini relatif masih terkendali.

Dari sisi tingkat suku bunga, suku bunga di Indonesia saat ini mencapai 4,50% p.a, relatif lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga perbankan yang ada di negara-negara lain seperti Malaysia (3,25%) dan Singapura (0,78%). Tingkat suku bunga tersebut dijaga agar dapat memberikan sentimen positif atau optimisme bagi para pelaku pasar untuk berinvestasi dan menempatkan dananya di Indonesia. Namun di sisi lain pemerintah juga ingin agar tingkat suku bunga yang ada juga dapat mendukung ekspansi kredit sektor riil agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga tahun terakhir selalu berada di atas 4,5%. Pertumbuhan PDB Indonesia pada 2017 mencapai 5,06% lebih tinggi Singapura (4,40%) dan Thailand (4,80), namun masih tertinggal dari Vietnam yang mencapai 7,38%. Secara umum, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memberikan optimisme bagi pelaku pasar. Terlebih lagi masih banyak ruang bagi pelaku ekonomi untuk mengembangkan potensi usahanya di Indonesia.

Walau demikian, Indonesia saat ini masih memiliki tingkat pengangguran yang relatif tinggi dibandingkan dengan Negara-negara di kawasan. Tingkat pengangguran Indonesia pada 2017 mencapai 5,13%, sementara negara tetangga seperti Singapura sebesar 2% dan Thailand hanya 1,1%. Namun demikian, tingkat pengangguran Indonesia tersebut selalu menurun dari tahun ke tahun, hal ini menunjukan adanya perbaikan pemerataan pendapatan yang juga dikonfirmasi oleh penurunan gini rasio Indonesia dari tahun ke tahun.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help