Opini

Menggali Potensi Zakat

SETIAP akhir Ramadhan, biasanya umat muslim sibuk membayar zakat fitrah

Menggali Potensi Zakat

Oleh Adnan

SETIAP akhir Ramadhan, biasanya umat muslim sibuk membayar zakat fitrah. Yakni sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim dalam bulan suci Ramadhan, mulai anak kecil hingga orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Jika puasa bertujuan untuk melatih kepedulian dan empati seorang muslim. Maka zakat merupakan bukti konkret dari sikap kepedulian dan empati. Jika menilik secara mendalam zakat sangat potensial sebagai solusi kemiskinan di Aceh. Di tengah kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih meninggi, zakat hendaknya menjadi solusi dan terobosan jitu untuk membasmi kemiskinan.

Sebab, jika melihat data-data mutakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, menunjukkan bahwa kemiskinan di Aceh masih menjulang tinggi. Dimana dari 5 juta penduduk Aceh, sekitar 17 persennya miskin. Artinya hadirin, dari 5 juta penduduk Aceh, 850 ribu berada di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan di Aceh berada di atas rata-rata Nasional. Akibatnya, Aceh mendapatkan peringkat provinsi keenam termiskin di Indonesia, hanya berada di atas Nusa Tenggara, Maluku, Gorontalo dan Papua. Bahkan, Aceh berada pada posisi runner up sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Karena itu, data-data tersebut hendaknya bukan hanya sekadar data semata, tapi dapat menjadi instrumen dalam pengentasan kemiskinan di Aceh.

Fakir-miskin prioritas
Pembasmi kemiskinan
Dalam Alquran diungkap delapan golongan penerima zakat yang bertujuan sebagai pembasmi kemiskinan. Yakni firman Allah Swt, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60).

Dalam ilmu balaghah, innama (sesungguhnya) sebagaimana ayat di atas disebut dengan adatul qashar, yakni itsbaatu lima yazkuru ba’dahu wanafi lima siwahu, bermakna menetapkan apa yang disebutkan dan meniadakan selainnya.

Dalam ayat di atas, innama bermakna menetapkan golongan penerima zakat dan membatasi hanya untuk 8 golongan, yakni orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil, para muallaf, hamba sahaya, orang yang terlilit hutang, mujahid fisabillah, dan ibnu sabil. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili memaparkan, bahwa lam tamlik pada kalimat Lil fuqara menunjukkan zakat adalah hak milik dari 8 golongan tersebut (Tafsir Al-Munir, cet ke 2, hlm: 730).

Lebih jauh dari itu, tartibul kalimat dalam ayat tersebut, mendahulukan fakir dan miskin sebagai golongan pertama penerima zakat dibandingkan yang lain. Menurut Prof Buya Hamka bahwa hal itu disebabkan Rasulullah selalu memberikan ghanimah kepada masyarakat miskin (Tafsir Al-Azhar, juzu’ ke 8, hlm: 3001). Sedangkan menurut Ibnu Katsir, dalam tafsirnya Al-Qur’anul Adhim, hal itu menunjukkan bahwa, fakir dan miskin lebih membutuhkan, memiliki kebutuhan mendesak, lebih buruk kondisi ekonominya dibandingkan yang lain.

Lebih lanjut, data empiris pun memperlihatkan, kemiskinan menjadi momok dalam kehidupan. Kemiskinan telah menimbulkan kebodohan, keterbelakangan, kriminalitas, perampokan dan pencurian, pendangkalan akidah dan pemurtadan. Bahkan, munculnya prostitusi, gadis-gadis menjual kehormatan dan harga diri, disebabkan kemiskinan yang merajalela. Benar pesan baginda Nabi saw, kadal fakru aiyyakuna kufran (kemiskinan dekat dengan kekufuran). Karena itu, kemiskinan merupakan puncak dari segala kejahatan.

Untuk membasmi kejahatan, maka kemiskinan musuh utama yang harus diperangi. Zakat berfungsi sebagai solusi untuk mengentaskan kemiskinan. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam Kitabnya, Fiqhuz Zakat mengungkapkan, zakat merupakan motor penggerak untuk meningkatkan taraf hidup layak umat manusia. Ia juga menyebutkan bahwa zakat merupakan ibadah maliyah ijtima’iyyah memiliki posisi strategis untuk pembangunan ekonomi umat (Al-Ibadah Fil Islam, hlm: 235).

Hal senada juga diungkap oleh Buya Hamka, bahwa sekiranya kaum muslimin sadar tentang kegunaan zakat sebagai Rukun Islam, dipungut, serta dibagikan dengan teratur, kita percaya, dengan zakat akan mampu membangun Islam yang mulia, sebagai panutan dari satu bangsa yang merdeka.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved