Ramadhan Mubarak

Persaudaraan Muslim

ISLAM sangat mengutamakan persaudaraan dan persatuan. Sejak awal Islam dikembangkan

Persaudaraan Muslim
Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA

Oleh Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA, Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: hasbi_amiruddin@yahoo.com

ISLAM sangat mengutamakan persaudaraan dan persatuan. Sejak awal Islam dikembangkan Nabi Muhammad saw bekerja keras untuk mempersatukan umat dalam satu akidah, yaitu akidah Islam. Menelisik sejarah, satu di antara mengapa umat sebelum Islam dianggap kaum jahiliyah adalah karena mereka suka bertengkar, berkelahi bahkan sampai membunuh sesamanya yang telah dianggap musuh. Padahal yang dijadikan musuhnya karena hal-hal sepele saja. Bisa jadi hanya karena hak bangga sukunya terhina, bisa masalah perbedaan kepercayaan atau aliran keyakinan, bisa masalah perebutan pasar dagang, dan bisa juga hanya karena masalah perempuan. Sementara tak jarang terkadang mereka masih saudara dekat.

Sejak mendapat tugas sebagai Rasul di Mekkah, Nabi Muhammad saw berusaha mengembangkannya secara individu, secara diam-diam, dan lebih banyak mendekati kerabatnya, agar tidak muncul keresahan dan tidak muncul pertengkaran secara massal. Bahkan ketika umat Islam sudah banyak yang menyebabkan kaum kafir Quraisy marah sampai menganiaya umat Islam, Nabi saw tetap berusaha mencari jalan keluar agar tidak muncul perkelahian. Termasuk terakhir memutuskan hijrah ke Madinah.

Sesampai di Madinah usaha utama adalah mempersaudarakan antara kaum muslimin Mekkah (Muhajirin) dengan kaum muslimin Madinah (Anshar). Mempersatukan umat dan mempersaudarakan sesama mukmin sehingga umat Islam telah memiliki suatu komunitas tersendiri dengan budaya dan peradabannya sendiri. Dari persatuan ini selanjutnya menjadi satu kekuatan yang diperhitungkan oleh musuh, sehingga musuh tidak lagi semena-mena terhadap umat Islam. Bahkan melalui persatuan seiman mengembangkan bersama tata aturan Islam telah muncul suatu peradaban yang tinggi. Hal inilah yang membuat umat non uslim ketika itu menyatukan diri dengan kaum muslimin.

Tentang ajaran persaudaraan dalam Islam apa yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw adalah berdasarkan perintah Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mengharmoniskan hati kamu, dan menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang-orang bersaudara...” (QS. Ali Imran: 103).

Berpegang teguh dimaksud dalam ayat ini adalah mengupayakan sekuat tenaga untuk mengaitkan diri satu dengan lainnya dengan tuntunan Allah Swt. Jika ada yang lupa atau tergelincir, maka saling mengingatkan dengan cara bijaksana dan lemah lembut (bilhikmah wa mauidhatil hasanah). Ketika Allah mengatakan, “...dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu...” dimaksudkan adalah betapa buruk hidup di masa jahiliyah yang setiap hari terus saling bertengkar di mana-mana dengan persoalan sepele. Lalu Allah mempersatukan hati kamu pada satu jalan dan arah yang sama, dan menjadilah kamu karena nikmat Allah yaitu dengan agama Islam orang-orang yang bersaudara.

Pada ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara...” (QS. al-Hujurat: 10). Dalam ayat Allah Swt mengingatkan, “Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok...” (QS. al-Hujarat: 11). Dari keterangan ini terlihat begitu penting ajaran persaudaraan dalam Islam, bukan hanya Nabi yang memperlihatkan praktiknya, tetapi bahkan Allah sendiri memperingatkan umat Islam melalui firman-firman-Nya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa siapa pun yang telah meyakini Islam sebagai agama yang benar dan lalu menganutnya dianjurkan agar menjadi orang-orang bertakwa, yaitu menjadi orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah dan selalu berbuat kebaikan sesama manusia. Inilah yang dimaksudkan hablum minallah dan hablum minannas. Pada firman Allah yang mewajibkan kita berpuasa juga diharapkan orang-orang berpuasa itu akan menjadi orang-orang yang bertakwa. Ini berarti puasa juga merupakan sarana pelatihan diri menjadi orang yang bertakwa.

Orang bertakwa adalah orang yang memiliki dasar beriman kepada Allah, yang berarti mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Di antara ayat-ayat Allah itu seperti tersebut di atas, yaitu Allah memerintahkan agar umat ini bersatu pada tali Allah (agama), dan Allah juga menyatakan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara dan bahkan juga orang-orang mukmin dilarang mengolok-ngolok saudaranya dari kelompok lain.

Hal-hal ajaran ini diperincikan untuk dipraktikkan selama berpuasa sebagai latihan agar menjadi orang muslim sejati. Secara umum orang-orang berpuasa dilatih menjadi orang yang bersabar. Orang yang telah memiliki sifat sabar biasanya selalu dapat mengambil tindakan yang bijaksana. Tidak tergesa-gesa. Tindakan tergesa-gesalah yang sering menimbulkan kerusakan, apalagi disertai dengan sifat amarah.

Orang-orang yang tidak memiliki sifat sabar atau orang-orang yang mudah marah sering bertindak tidak berdasarkan daya pikir, bahkan tidak menggunakan hati. Pemandangan inilah yang kita saksikan dalam kehidupan manusia selama ini. Mengejek, mencaci, kadang-kadang juga sampai mengutuk saudaranya yang masih seiman. Secara akal sesungghnya dapat dipikir ketika seseorang mengejek, apalagi mencaci setidaknya akan memunculkan kerengganagan hubungan dan memutus hubungan silaturrahmi. Jika dia menggunakan hati dia akan merasakan bagaimana sakit hati orang yang diejek atau dicacinya, apalagi dengan kata-kata mengutuk.

Apabila kita perhatikan pada syarat-syarat sah puasa, apalagi kalau ingin mendapat lebih banyak pahala, maka kita harus bersabar dari berbagai hal yang telah ditentukan. Orang-orang berpuasa dilarang makan, minum dan juga bergaul suami istri di siang hari, walaupun mereka memiliki itu semua. Ini berarti orang berpuasa dilatih agar mempu bersabar demi kebaikan dirinya. Lebih jauh dalam hadis-hadis dijelaskan bahwa seseorang yang sedang berpuasa tidak boleh berkata-kata keji dan tidak boleh marah-marah. Bahkan Nabi berpesan jika pun ada yang mencaci-makimu atau malah memprovokasi agar kamu bertengkar, orang berpuasa harus mengatakan “Aku sedang berpuasa”.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk penycian hati. Mulai dari menahan diri dari makan minum, shalat jamaah, shalat tarawih, berzikir dan tahjud, membaca Alquran, sampai bersedekah dan membayar fitrah. Jika kita mampu melakukan itu semua dengan penuh khidmat dan ikhlas, kita akan sampai pada fitri. Itulah makanya pada akhir Ramadhan Allah Swt memberikan kita kesempatan merayakan Idul Fitri. Artinya, kita telah menjadi orang yang menang, telah menjadi orang yang suci hati.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help