Home »

Opini

Opini

Zakat Fitrah dengan Uang

BULAN Ramadhan merupakan sayyidul syahri (penghulu segala bulan), di dalamnya mempunyai kemuliaan

Zakat Fitrah dengan Uang
tribunnews.com

Oleh Helmi Abu Bakar El-Langkawi

BULAN Ramadhan merupakan sayyidul syahri (penghulu segala bulan), di dalamnya mempunyai kemuliaan dan keistimewaan dibandingkan bulan lainnya. Satu kewajiban di bulan Ramadhan adalah kita diwajibkan berpuasa dan membayar zakat fitrah menjelang akhir Ramadhan. Banyak literatur kitab turast menyebutkan zakat fitrah merupakan kewajiban terhadap seseorang untuk mengeluarkan bahan makanan pokok dengan ukuran tertentu, setelah terbenamnya matahari pada akhir Ramadhan (malam 1 Syawal) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Sejarah telah mencatat bahwa zakat fitrah di wajibkan pada tahun kedua Hijriah. Kewajiban membayar zakat terhadap kita umat muslim, berdasarkan hadis Nabi saw, “Sesungguhnya Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap orang muslim, merdeka atau budak, laki-laki maupun perempuan.” (HR. Abdullah bin Umar).

Kewajiban zakat fitrah untuk setiap orang Islam yang mampu dan hidup di sebagian bulan Ramadhan serta sebagian bulan Syawal. Artinya, orang yang meninggal setelah masuk waktu Maghrib malam Lebaran (malam 1 Syawal) wajib baginya zakat fitrah (dikeluarkan dari harta peninggalannya). Begitu juga bayi yang dilahirkan sesaat sebelum terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadhan dan terus hidup sampai setelah terbenamnya matahari malam 1 Syawal. Namun sebaliknya, orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari di akhir Ramadhan atau bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari di malam 1 Syawal tidak diwajibkan baginya zakat fitrah (Kitab Syarkawi ‘ala Tahrir).

Dua pendapat ulam
Kewajiban membayar zakat fitrah apakah dibolehkan dengan uang ataupun hanya dibolehkan dengan makanan pokok, seseorang di sini telah terjadi khilaf pendapat ulama. Dua pendapat tentang jenis yang boleh dikeluarkan zakat fitrah, yaitu qud (makanan pokok) dan qimah (harga) dari makanan pokok ataupun uang.

Pendapat pertama, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, dari kalangan ulama mazhab yang empat, selain mazhab Abu Hanifah menyebutkan bahwa mengeluarkan zakat fitrah dengan uang tidak diperbolehkan. Satu dalilnya adalah hadis yang menyatakan bahwa Ibnu Umar ra mengatakan, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari).

Merujuk kepada hadis di atas para ulama yang mendukung pendapat ini menyatakan bahwa apabila seseorang mengeluarkan zakat dengan uang yang senilai dengan apa yang telah ditetapkan, berarti ia mengeluarkan zakat tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diwajibkan. Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, mengeluarkan zakat fitrah dengan uang tidak diperbolehkan.

Berdasarkan pemahaman hadis di atas, para ulama yang mendukung pendapat ini menyatakan bahwa apabila seseorang mengeluarkan zakat dengan uang yang senilai dengan apa yang telah ditetapkan, berarti ia mengeluarkan zakat tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diwajibkan.

Jadi dapat di ambil kesimpulan ketiga mazhab selain Imam Abu Hanifah menyebutkan tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan uang. Namun ada pendapat dari kalangan Malikiyah yang memperbolehkan zakat fitrah dengan uang (seharga satu sha’ makanan pokok), namun makruh (Qurratu al-Aini bi Fatawa ulama al-Haramain).

Pendapat kedua, zakat fitrah boleh dengan uang. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa jenis-jenis makanan yang dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah hintah (gandum), syair (padi belanda), tamar (kurma), zabib (anggur). Beliau juga berpendapat boleh pula mengeluarkan daqiq hintah (gandum yang sudah menjadi tepung) dan saweq (adonan tepung). Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Tunaikanlah zakat fitrah sebelum kamu keluar untuk sembahyang, maka wajib atas setiap orang merdeka mengeluarkan dua mud gandum dan daqiq (tepung dari gandum).”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help