41 Pelajar di Pidie tak Lulus

Sebanyak 41 pelajar dari berbagai sekolah menengah tingkat pertama (SMP) di Kabupaten Pidie dinyatakan tidak lulus

41 Pelajar di Pidie tak Lulus
SERAMBINEWS.COM/NUR NIHAYATI
Peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMPN 1 Peukan Pidie menumpang di SMAN 1 Peukan Pidie, Senin (23/4/2018). 

* Mayoritas dari SMPN 1 Sigli

SIGLI - Sebanyak 41 pelajar dari berbagai sekolah menengah tingkat pertama (SMP) di Kabupaten Pidie dinyatakan tidak lulus. Dari 41 pelajar tersebut, 13 di antaranya berasal dari

SMPN 1 Sigli. Penyebab tidak lulus dari bangku SMP itu berbagai faktor, mulai dari Ujian Nasional (UN), nilai keseharian, hingga perilaku si pelajar sehari-hari di sekolah.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pidie Drs H Sulaiman mengatakan, paling banyak tidak lulus siswa SMPN 1 Sigli yang berjumlah 13 orang, selanjutnya SMPN 1 Mutiara sebanyak 7 orang. Lalu, SMPN Delima tiga orang, SMPN 1 Batee dua orang, SMPN 1 Indra Jaya dan SMPN 3 Mutiara masing-masing satu orang. MTs Darussaadah dan MTs 4 Pidie juga masing-masing dua orang tidak lulus.

Selebihnya beberapa SMP dengan jumlah pelajar tidak lulus sebanyak satu orang. “Faktornya, rata-rata si anak tidak masuk sekolah lagi dan tidak ikut Ujian Nasional maupun ujian hari-hari di sekolah,” ujar Sulaiman, Jumat (8/6).

Dikatakan Sulaiman, selama ini pihak sekolah telah melakukan upaya optimal, termasuk dengan

upaya jemput pelajar ke rumah untuk mengikuti ujian, tapi hasilnya tetap saja yang bersangkutan tidak mau karena beragam faktor. Sebagiannya sudah bekerja, sedangkan sebagian lagi mengaku tidak berminat lagi ke sekolah.

Tahun ini, jumlah peserta UN SMP tercatat 7.219 orang, sedangkan yang ikut UN sebanyak 7.071 pelajar. Artinya, ada sebanyak 148 pelajar tidak ikut UN. “Faktor kelulusan ini ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan. Poin diambil dari hasil nilai UN, nilai sehari-hari, dan perilaku di sekolah,” jelas Sulaiman.

Dewan Kecewa
Di tempat terpisah, Ketua Komisi E Bidang Pendidikan DPRK Pidie, Khairil Syahrial ST MAP mengaku kecewa dengan tingkat kelulusan SMP di Pidie. “Kita prinsipnya kecewa dengan tingkat kelulusan yang masih rendah,” kata Khairil. Dikatakan, Pidie sebetulnya punya beberapa sekolah unggulan yang diharapkan berprestasi.

Meskipun begitu, Khairil mengaku, memang ada prestasi unggulan yang diraih SMP YPPU yang berstatus swasta. SMP Swasta YPPU ini meraih nilai UN tertinggi ketiga se-Provinsi Aceh. “Kita patut beri apresiasi untuk pengelola SMPS YPPU,” katanya.

Namun, Khairil menilai sekolah unggulan berstatus negeri perlu dievaluasi ke depan agar dapat meraih prestasi semaksimal mungkin. “Sebab, perhatian pemerintah untuk SMP unggulan sangatlah besar, tapi kenapa prestasinya cuma segitu,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala SMPN Unggul Sigli Syafawi yang ditanyai Serambi, Jumat (8/6), mengatakan, salah satu faktor menurunnya prestasi pelajar SMP Unggul karena input atau sumber daya manusia yang masuk. Faktor kedua, sekolah berasrama SMPN Unggul masih bercampur atau satu asrama dengan siswa SMAN Unggul. Hal demikian berakibat minat pelajar menurun bersekolah di sini, karena khawatir dibully. “Bisa dibilang dari 70 anak, hanya 10 orang memiliki nilai bagus atau pintar,” katanya. Sehingga, sebagian besar anak-anak pintar diSD lebih tertarik masuk SMPS YPPU ketimbang SMPN Unggul.

Ke depan pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan pelajar yang tidak berasrama. “Kalau prestasi di luar sebetulnya kita banyak dapat, juara di sekolah Fatih di Banda dan beberapa lainnya,” tandas Syafawi. (aya)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved