Opini

Razan, Palestina, dan Kita

ITULAH penggalan kalimat yang terlontar dari mulut ayah Razan al Najjar, relawan perempuan medis Palestina yang meninggal setelah ditembak

Razan, Palestina, dan Kita
Grid.id
Razan al Najjar 

Oleh Abd. Halim Mubary

Dia sering pulang dengan pakaian putih yang berubah jadi merah. Itu darah para korban yang dia tolong hari itu. Tapi merah kali ini adalah darahnya sendiri. (Ashraf al Najjar)

ITULAH penggalan kalimat yang terlontar dari mulut ayah Razan al Najjar, relawan perempuan medis Palestina yang meninggal setelah ditembak tentara Israel pada 1 Juni 2018. Sosok Razan yang pemberani dalam memberikan bantuan kepada para korban yang terluka di depan pagar pembatas keamanan di Jalur Gaza, saat bangsa Palestina melakukan aksi protes damai atas pengakuan sepihak Amerika Serikat (AS) terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Membantu perjuangan rakyat Palestina dan berada di garis terdepan peperangan bukan hanya milik para lelaki, melainkan juga para wanita. Setidaknya, itulah prinsip yang dianut Razan al-Najjar. Namun, di usianya yang belia 21 tahun, bukan halangan untuk berbuat sesuatu bagi Tanah Airnya yang tertindas. Razan ingin membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran dalam masyarakat konservatif Palestina di Gaza.

Seperti yang disampaikannya kepada media massa, “Menjadi tenaga medis bukan hanya pekerjaan untuk seorang pria.” Katanya saat diwawancara di kemah protes Gaza (The New York Times, 2/6/2018). Dara cantik ini telah mendedikasikan hidupnya menjadi relawan medis Palestina sejak 30 Maret 2018. Namun sebutir puluru sniper Israel telah merenggut nyawanya.

Razan yang berada kurang dari 100 meter dari pagar pembatas keamanan Gaza, lengkap dengan seragam putih medisnya, sedang membalut kepala seorang pria yang terkena tabung gas air mata oleh tentara Israel. Pria itu kemudian dibawa ke ambulans dan paramedis lain menghampiri Razan yang terkena gas air mata. Sejurus kemudian terdengar suara tembakan dan sekonyong Razan pun tersungkur ke tanah. Sebutir peluru menembus dadanya.

Palestina terluka
Sontak, peristiwa ini membuat rakyat Palestina terluka. Menurut manajer rumah sakit, Dr Salah al-Rantisi, Razan tiba di rumah sakit lapangan dalam kondisi serius. Dia kemudian dipindahkan ke RS Gaza Eropa di Khan Younis, tempat dia akhirnya menghembuskan napas terakhir di meja operasi. Sementara, saksi lain dan Kementerian Kesehatan Gaza memberikan versi yang sedikit berbeda dari kejadian itu. Mereka mengatakan, kala itu Razan dan paramedis lain berjalan menuju pagar dengan tangan terangkat dalam perjalanan mereka untuk mengevakuasi para pengunjuk rasa yang terluka ketika dia ditembak di dadanya.

Namun, apa pun alibinya, yang jelas apa yang telah dilakukan oleh pasukan Israel dengan menembak mati para petugas medis yang sedang bertugas menolong para korban terluka, tidak dapat dibenarkan oleh hukum mana pun. Ini jelas pelanggaran HAM berat dan pelakunya mesti diseret ke pengadilan. Dalam pasal 24 Konvensi Jenewa I Tahun 1949 disebutkan bahwa anggota dinas kesehatan yang dipekerjakan khusus untuk mencari atau mengumpulkan, mengangkut atau merawat yang luka dan sakit, harus dihormati dan dilindungi dalam semua situasi.

Agaknya, selama AS masih berada di belakang Israel, maka mata pedang keadilan hukum, akan tumpul jika diarahkan ke Negara Zionis itu. Selain Razan, ada seratusan korban kebrutalan Israel lainnya yang menimpa warga sipil yang tidak berdosa. Bahkan selain petugas medis, Israel juga kerap menyasar para wartawan yang sedang meliput, sehingga kejahatan yang dipertontonkan pemerintah Israel begitu sistematis.

Data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan jika Razan merupakaan orang Palestina ke-119 yang meninggal sejak aksi protes dilancarkan mulai Maret 2018. Aksi protes yang dipicu oleh arogansi AS yang memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Keputusan Presiden Trump itu telah menyulut amarah bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain di dunia atas klaim sepihak AS. Namun, seperti biasanya, Israel menghadapi perlawanan bangsa Palestina itu dengan senjata canggih nan mematikan. Hasilnya, hanya dalam rentang dua pekan saja, tentara Israel telah membunuh lebih dari 100 orang rakyat Palestina dan ribuan lainnya terluka.

Dan angka itu bukan mustahil akan terus bertambah mengingat masih maraknya aksi demo yang dilancarkan bangsa Palestina. Terlebih pascaterbunuhnya Razan al Najjar. Ini terbukti dengan aksi balasan dari pasukan pejuang Hamas di Gaza yang melancarkan serangan mortir dan rudal ke wilayah selatan Israel hanya sehari setelah Razan terbunuh. Namun seperti biasanya, jika ada aksi serangan rudal Hamas, maka pasukan Israel tak segan-segan menggunakan pesawat tempurnya untuk membombardir Gaza. Bisa dipastikan, akan lebih banyak lagi rakyat sipil Palestina yang terbunuh dan terluka akibat aksi monster Israel ini.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help