Opini

Dakwah ‘Salah’ yang tidak Salah

MOHAMED Salah di jagat persepakbolaan Liga Inggris adalah sebuah fenomena tersendiri

Dakwah ‘Salah’ yang tidak Salah
Twitter @LFCIndonesia
Mohamed Salah resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Liverpool pada Kamis (22/6/2017). 

Oleh Anton Widyanto

A Gift from Allah | Mohamed Salah/ A gift from Allah// He came from Roma to Liverpool/ He’s always scoring// It’s almost boring/ So please don’t take Mohamed away// (Lagu supporter Liverpool)

MOHAMED Salah di jagat persepakbolaan Liga Inggris adalah sebuah fenomena tersendiri. Pemain asal Mesir yang didatangkan Liverpool dari AS Roma ini berhasil mencatatkan sederetan prestasi yang banyak diacungi jempol oleh berbagai kalangan. Pada Liga Inggris musim ini, torehan 32 gol yang dilesakkan ke 17 gawang klub berbeda menjadikannya sebagai pemain asing tersubur di satu musim Liga Inggris, sehingga dia layak mendapatkan sepatu emas.

Prestasi tersebut melampaui catatan 31 gol yang ditorehkan Cristiano Ronaldo (Manchester United, 2007-2008) dan Luis Suarez (Liverpool, 2013-2014). Dia juga dikenal sebagai sosok yang lembut, mudah bergaul, serta tetap rendah hati sekalipun sederet pujian dialamatkan kepada pemain muslim ini. Meskipun pada final Liga Champion, Salah tidak tuntas sampai menit akhir beraksi di lapangan dikarenakan cedera, tapi aksinya yang menggoyang pertahanan Real Madrid di menit-menit awal babak pertama banyak dinilai positif oleh berbagai pecinta dan penikmat bola.

Satu hal yang sering dilakukan oleh Salah (atau sering juga dipanggil “Mo”) adalah aksinya yang melakukan selebrasi dengan sujud syukur di lapangan bola setiap selesai membuat gol. Hal yang juga ditunjukkan oleh pemain Timnas U-19 era Evan Dimas dkk. Ritual sederhana sedemikian rupa ini, tentu menyampaikan banyak pesan dan bahkan kental dengan nilai-nilai dakwah. Hal inilah yang akan dibahas dalam tulisan berikut.

Aspek penting
Dalam Islam, dakwah merupakan satu aspek yang tergolong penting. Kegiatan ini memiliki landasan kuat tidak hanya dari aspek legalitasnya berdasarkan nash (Alquran dan Sunnah Rasulullah saw), akan tetapi juga segi keilmuan, sehingga tidak mengherankan jika kemudian ditabalkan menjadi label sebuah fakultas tersendiri di bawah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia (Fakultas Dakwah atau Fakultas Dakwah dan Komunikasi). Penulis yakin, ribuan mahasiswa telah dilahirkan dari rahim fakultas ini baik di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri maupun swasta di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman yang sedemikian cepat, di mana salah satunya ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang luar biasa, maka model, bentuk dan strategi dakwah pun, mau tidak mau akhirnya juga “dipaksa” menyesuaikan dan menyelaraskan diri. Tidak heran jika dulu dakwah lebih akrab disampaikan melalui kaset, CD/DVD, televisi, media cetak atau tatap muka langsung dengan audiens, maka dewasa ini dakwah juga membanjiri beragam media sosial (facebook, youtube, instagram, whatsapp, telegram, dsb).

Terlepas dari isi dan substansi dakwah yang disampaikan melalui media-media sedemikian rupa, yang jelas dakwah menjadi lebih inovatif dan massif dibandingkan era 1960-an sampai era 1990-an dulu. Apakah kondisi di atas positif? Kalau melihat fakta yang terjadi di lapangan, tidak sedikit pula dakwah yang isinya bersifat provokatif, diskriminatif, bahkan agitatif. Dakwah serupa ini pada dasarnya bertentangan dengan konsep dakwah yang diajarkan Rasulullah saw.

Gelombang ‘tsunami’ informasi yang dikemas dalam bentuk dakwah telah, sedang dan akan semakin deras menerjang masyarakat. Dakwah pun bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, jika muatan isi informasi yang didakwahkan bersifat positif, maka secara tidak langsung akan menimbulkan kesan-kesan positif juga di kalangan masyarakat (muslim maupun non muslim).

Akan tetapi sebaliknya, jika isi pesan-pesan dan informasi yang disampaikan bersifat negatif (seperti memuat pesan-pesan kebencian kepada kelompok yang berbeda, cenderung mengadu-domba, mengoyak tali silaturrahmi internal maupun eksternal umat Islam), apalagi jika yang menyampaikan adalah seorang tokoh yang memiliki basis massa tersendiri, tentu akibatnya juga akan negatif.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help