Mengintip Dapur Mi Caluek Grong-grong

ACEH menyuguhkan rupa-rupa olahan mi, salah satunya yang sudah cukup terkenal adalah mi caluek Grong-grong

Mengintip Dapur Mi Caluek Grong-grong
Mi Caluk Grong-grong. SERAMBI/RA KARAMULLAH 

ACEH menyuguhkan rupa-rupa olahan mi, salah satunya yang sudah cukup terkenal adalah mi caluek Grong-grong. Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Pidie, belum lengkap rasanya jika Anda belum mencicipi mi yang satu ini.

‘Caluek’ sendiri berasal dari bahasa lokal yang bermakna cocol. Mi caluek menggunakan olahan mi kuning yang terbuat dari tepung sebagai bahan utama. Yang membedakannya dengan mi Aceh adalah bahan pelengkap.

Adalah kakak beradik, Mardiana dan Nur Hayati, pedagang sekaligus peracik resep mi caluek. Hebatnya, hampir semua bahan-bahan kebutuhan mi dihasilkan dari kebun sendiri.

Di dapur produksinya di Desa Beureuleung, Kecamatan Grong Grong, sedari subuh Mardiana dibantu sepuluh pekerja menyiapkan bahan. Di tempat terpisah, Nur Hayati dibantu enam pekerjanya juga melakukan hal yang sama. Mulai dari mengolah tepung hingga menjadi mi, membuat kuah kacang, tempe, jengkol, hingga meracik urap.

Masing-masing dimasak gulai yang menghasilkan citarasa gurih yang pas di lidah. Sayur mayur yang diolah menjadi urap hadir untuk menemani acara meriahnya santap mi. Ya, tak heran kalau rasanya juara. Mi legendaris khas Grong Grong ini sudah ada sejak 1988.

“Resep jih peugot keudroe, coba-coba. Hana jak meurunoe, (Resepnya bikin sendiri, coba-coba. Nggak belajar khusus,” ujar Mardiana.

Perempuan paruh baya ini menuturkan, awalnya berjualan di sekolah, seterusnya berdagang keliling kampung, sebelum akhirnya berjualan di Pasar Grong Grong. Nur Hayati, sang adik mengikuti jejak kakaknya. Kedua kakak beradik itu bahkan sudah menunaikan ibadah ke Tanah Suci dari hasil berjualan mi caluek.

Dalam sehari, produksi mi menghabiskan hingga dua sak tepung pada saat Ramadhan atau 3 sak tepung pada hari-hari biasa. Mi olahan dua bersaudara ini bahkan dipasarkan hingga ke Kecamatan Keumala, Pidie dan Jantho, Aceh Besar. Semuanya diproduksi dalam kondisi fresh food sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Menariknya lagi, untuk menikmati kelezatan seporsi mi caluek Grong Grong cukup membayar Rp 1.000 saja. Anda bisa menemukan mi caluk ini di Pasar Grong-Grong saban sore selama Bulan Ramadhan, atau mulai siang pada hari-hari biasa.

Harga yang ekonomis dan kelezatan membuat mi caluk Grong Grong dua bersaudara, Mardiana dan Nur Hayati ini laris manis. Sudah pernah coba? (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help